Sunday, February 3, 2013

Era Baru Rudal Indonesia

Menyonsong Masa Depan Rudal Indonesia


(IMP) -- Indonesia akhirnya bergerak maju untuk menyongsong industri peluru kendali dalam negeri. Kerjasama pembuatan Rudal C-705 dengan China, sempat membuat kepala para petinggi Dephan pening, karena tuntutan China cukup tinggi, jika Indonesia ingin memperoleh ToT-nya (transfer of technology). 


(Senin, 28 Januari 2013). TEMPO.CO, Jakarta - TNI Angkatan Laut akan menggunakan rudal C-705 asal Cina pada kapal cepat rudal (KCR) buatan dalam negeri.Rencananya, sebanyak 16 kapal perang KCR-40 buatan pabrik kapal di Batam, PT Palindo Marine, bakal dilengkapi dengan peluru kendali tersebut.

“Kontrak sudah diteken, rudal diperkirakan tiba pada tahun 2014,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama, Untung Suropati, kepada Tempo, Senin, 28 Januari 2013. 

Sesuai UU Nomor 16 Tahun 2012, pemerintah akan melakukan kerja sama transfer teknologi dalam skema pembelian alat utama sistem persenjataan ini. Dengan skema transfer teknologi ini, diharapkan tiga pabrik dalam negeri: PT. Pindad, Lapan, dan PT. Dirgantara Indonesia, bakal mampu membuat rudal sendiri. 

Sebelumnya, Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Pos Batubara, mengaku sedang menegosiasikan kontrak transfer teknologi dengan produsen Tiongkok itu. “Masih kami upayakan ke arah sana,” kata Pos, ditemui usai peresmian KRI Beladau 643 di Batam, pekan lalu.

Dia memastikan produsen lokal akan terlibat dalam proses transfer teknologi antara Cina dan Indonesia. “Harapannya kita mampu produksi sendiri,” ujar dia.

Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan, Mayor Jenderal Ediwan Prabowo, mengatakan sejumlah produsen lokal mulai terlibat dalam persenjataan KCR 40. “PT. Pindad mulai terlibat, tapi persentasenya masih kecil,” kata Ediwan.

Dia enggan menyebutkan nilai kontrak pengadaan rudal Cina tersebut. “Kontrak pengadaan senjata dipisah dengan pembuatan kapalnya,” kata Ediwan. Nilai pembuatan kapal cepat rudal 40 mencapai Rp 75 miliar per unit. Seluruhnya menggunakan skema pinjaman dalam negeri.



Persyaratan alih teknologi Rudal C-705 China itu, tampaknya terkait dengan syarat pembelian kapal seperti berita ini (perlu konfirmasi lebih lanjut):

(Senin, 28 Januari 2013). VIVAnews - Demi memperlancar angkutan dan distribusi barang di Indonesia, pemerintah melakukan penataan dan pembenahan sejumlah pelabuhan. Tak hanya itu, pemerintah menyiapkan dana triliunan rupiah untuk membeli kapal buatan China.

“Tahun ini, pemerintah akan mempercepat pembangunan 44 pelabuhan,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah Tertinggal dan Bulog, M. Natsir Mansyur, di JCC Senayan, Jakarta, Senin 28 Januari 2013.

Natsir menambahkan, pemerintah akan menyiapkan dana Rp15 triliun untuk membeli 2.500 kapal dari China. Pembelian sebanyak 500 unit per tahun itu bertujuan untuk mewujudkan program seashore shipping (pengangkutan barang dari satu provinsi ke provinsi lainnya) menjadi lebih efisien.

Sebab, selama ini, pengangkutan komoditas seperti makanan, ternak, dan minyak antarprovinsi biayanya terlalu tinggi, lebih mahal dibanding ke luar negeri. “Pengiriman jeruk Pontianak ke Jakarta saja biayanya mahal,” kata dia.

Menurut Natsir, alasan memilih kapal China itu adalah pertimbangan waktu produksi yang lebih cepat. Jika memproduksi di dalam negeri, satu unit kapal pembuatannya bisa memakan waktu setahun.

Natsir menambahkan, penandatanganan pembelian kapal dari Negeri Tirai Bambu itu telah dilakukan. Perbankan berperan besar sebagai mitra dalam membantu pembiayaannya. Namun, masih belum diketahui bank mana yang ditunjuk untuk menjadi mitra penyaluran pembiayaan Rp15 triliun itu.

Roket RX-550


Selama ini Lapan telah mengembangkan berbagai tipe roket: RX-550 dengan jangkaun 300 km, RX-122 dengan jangkauan 20 Km, RX-200 dengan jangkauan 40 Km dan RX-320 dengan jangkauan 80-100 Km.

Dengan kerjasama China diharapkan Lapan mampu mengembangan desain untuk mendapatkan konfigurasi roket yang sesuai dengan misinya, antara lain untuk memprediksi fenomena yang terjadi pada sistim propulsi roket seperti erosive burning dalam ruang bakar, karakteristik aliran fluida dalam nosel dan saat terjadi thrust vectoring, maupun sistim pendingin pada engine roket cair.

Kerjasama ini juga diharapkan memberi masukan bagi Lapan, untuk peningkatan desain struktur roket, yakni kemampuan memprediksi fenomena aeroelastis dan aerothermoelastis roket, khususnya sirip dan nosecone, sistem peredam getaran dan shock struktur payload serta optimasi berat struktur terhadap beban kerjanya, terutama nosel melalui analisis statis, dinamik dan thermal baik untuk material komposit maupun logam. Perbaikan desain diperlukan agar gerak roket lebih baik sehingga mencegah penyimpangan trayektori roket.

Perbaikan lainnya yang dibutuhkan Lapan adalah peningkatan kualitas produk yang dihasilkan, seperti kenaikan Isp propelan, kehalusan fabrikasi struktur, optimalisasi berat struktur menggunakan material komposit, sesuai dengan roadmap tahun 2014.



Sementara PT Pindad juga mulai mengembangkan amunisi kaliber besar seperti 105 mm dan 120 mm. Amunisi ini dikembangkan menjadi warhead dan rudal dengan mode proximity fuse. Proximity fuse menyebabkan kepala rudal akan meledak pada jarak yang telah ditentukan dari target. Teknologi proximity fuse ini menggunakan kombinasi dari satu atau beberapa sensor di antaranya radar, sonar aktif, infra merah, magnet, foto elektrik. Tidak hanya itu, PT Pindad juga terus mengembangkan rudal darat.


Apa yang sedang dikembangkan oleh Lapan dan PT Pindad merupakan pijakan bagi pengembangan sistem persenjataan rudal. Istilah kerennya, jika cita-cita itu tercapai maka rudal Indonesia nanti akan menjadi alternatif salah satu penangkal, sehingga Indonesia tidak tergantung dengan banyaknya jumlah kapal perang atau senjata. Targetnya adalah rudal berpangkalan di darat yang mumpuni dan disegani.


(JKGR/IMP)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...