Showing posts with label Roket. Show all posts
Showing posts with label Roket. Show all posts

Tuesday, May 14, 2013

Pasdaran Iran Lengkapi Kapal Cepat dengan Roket Cruise Berjelajah 300 Km


Teheran, (IMP) -- Ketua Lembaga Antariksa Departemen Pertahahan Republik Islam Iran, Brigjen. Mehdi Farahi mengkonfirmasikan rencana penyerahan roket cruise dengan jelajah lebih dari 300 km kepada angkatan laut Sepah Pasdaran (IRGC).

Kepada FNA, Sayid Mehdi Farahi seraya mengisyaratkan pemberian sarana dan perlengkapan bersenjata departemen ini berupa senjata termasuk rudal dan roket kepada angkatan bersenjata menjelaskan, strategi dan mekanisme penggunaan perlengkapan serta senjata tersebut berada di atas pundak para komandan angkatan bersenjata.

Ia menambahkan, berbagai produksi termasuk roket dengan jelajah 300 km akan diserahkan kepada angkatan laut Sepah Pasdaran.

Farahi menekankan, dalam waktu dekat sejumlah senjata canggih dengan berbagai kemampuan istimewa berupa roket cruise akan diserahkan kepada angkatan laut Sepah Pasdaran.

Ketua Badan Antariksa Departemen Pertahanan Iran ini menandaskan, keakuratan serta jelajah roket baru ini lebih tinggi dibanding dengan roket dengan jelajah 300 km yang saat ini dimiliki Sepah Pasdaran.

Ia pun menekankan, roket ini dapat meningkatkan sistem pertahanan Iran di angkatan laut.

Menurut laporan FNA, roket cruise dari pantai ke laut dan dari permukaan ke permukaan dengan kemampuan khusus dalam menghadapi berbagai ancaman dapat diubah kemampuannya dan senjata canggih ini juga diserahkan kepada komandan angkatan bersenjata Iran.

Roket cruise yang juga dapat ditembakkan melalui kapal cepat dengan laju 60 km perjam. Sejumlah roket cruise yang telah dimiliki Iran seperti roket Zafar, Nasr, Nur, Qader dan Ghadir.


Monday, April 15, 2013

LAPAN Menyampaikan Sasaran Kegiatan 2013

Program-program strategis LAPAN (all photos : LAPAN)

(IMP) -- LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Indonesia mempunyai 4 pilar yaitu: Penginderaan jauh; Teknologi Dirgantara; Sains Antariksa; Iklim dan Atmosfir; serta Kebijakan Kedirgantaraan telah membuat Sasaran Kegiatan 2013. Dua link di bawah dapat diakses untuk membaca secara penuh, sementara hal yang menyangkut penerbangan dan pertahanan disarikan di bawah ini.



Penyelesaian upgrading sistem akuisisi data Landsat Data Continuity Mission (LDCM) di Stasiun Bumi Penginderaan Jauh Parepare.
Penyelesaian upgrading sistem akuisisi data SPOT-5 dan SPOT-6 di Stasiun Bumi Penginderaan Jauh Parepare.

Akuisisi data satelit penginderaan jauh lingkungan dan cuaca serta sumberdaya alam (MTSAT, NOAA, Terra/Aqua, NPP, Feng Yung, Landsat-7, LDCM/Landsat-8, SPOT-5, dan SPOT-6).

.


Mengirim Satelit Lapan-A2 ke SDSC (Satish Dawan Space Center), Shriharikota, India. Menempatkan sejumlah engineer untuk mengawasi dan memantau kondisi Satelit Lapan-A2, serta menyiapkan dan membangun sistem remote monitoring untuk memantau satelit dari Indonesia hingga hari peluncuran, yang direncanakan pada kuartal pertama 2014.

Menyiapkan clean-room dan sarana-uji sistem lensa/fokus kamera untuk melihat jarak jauh, bagi pelaksanaan AIT (Assembly, Integration and Test) Satelit Lapan-A3. Clean-room kelas 100.000 berukuran 10x5m adalah primer untuk integrasi komponen high rate X-band transmitter, dan lensa/detektor optis pada sistem pencitra push-broom Imager 4 kanal. Target AIT adalah dihasilkannya Flight Model (FM) satelit Lapan-A3 dengan capaian 70%. Pelaksanaan AIT satelit masih membutuhkan supervisi, konsultasi dan peningkatan kualitas SDM Lapan. Mengadakan sejumlah alat-ukur untuk melengkapi fasilitas uji RF di dalam negeri, untuk memenuhi persyaratan uji EMI/EMC satelit, baik untuk downlink data misi pada frekuensi 8.0 s/d 8.4 GHz, maupun TT&C satelit pada pita VHF/UHF.

Menyiapkan konsep awal rancangan satelit Lapan-A4. Satelit Lapan-A4 merupakan pengembangan lanjut dari Satelit Lapan-A3, dimana imagernya akan ditingkatkan dengan pencitra inframerah dekat (Near Infra red, NIR). Prosesnya dimulai dengan kajian komprehensif mengenai sub-sistem satelit dan komponen ruas-bumi untuk imager visible s/d inframerah dekat, pembelajaran teknologi sensor inframerah-dekat tanpa cooler (bolometer) serta identifikasi kebutuhan koreksi data imager infra-merah dekat. Target kegiatan Lapan-A4 meliputi pembuatan dokumen PDR (Preliminary Design Review), peningkatan kemampuan SDM tentang sensor Bolometer dan pengadaan komponen dasar satelit.



Kegiatan utama peroketan Lapan tahun 2013 adalah Ekspedisi Morotai, yaitu melaksanakan kegiatan peluncuran roket RX-122, RX-200, RX-320, RX-450 dan RX-550 di Morotai. Kegiatan peluncuran roket tersebut dilaksanakan setelah uji statik setiap roket berhasil dilaksanakan. Disamping pencapaian sasaran di atas, fasilitas yang dikembangkan di Lapan di bidang peroketan juga dimaksudkan untuk menunjang pelaksanaan program roket nasional (konsorsium) untuk penggunaan di bidang pertahanan dan pemanfaatan lainnya. Untuk tahun 2013 program roket konversi mempunyai sasaran empat prototip, yaitu RX-122 dengan jangkauan 23 Km, RX-200 dengan jangkauan 40 Km, RX-320 dengan jangkauan 70 Km dan RX-450 dengan jangkauan diatas 100 Km (roket 3 digit).



Pengembangan Roket Kendali pada tahun 2013 mempunyai sasaran prototipe roket kendali dengan sistem propulsi roket padat (booster), Electrical Ducted Fan (RKX-200EDF) dan Turbo Jet (RKX-200TJ) berkecepatan 250 km/jam, terbang secara AutoPilot, dengan menitik beratkan pada Uji Darat (simulasi HILS, Wind Tunnel dan Captive Test) sebelum akhirnya dilakukan Flight Test. Serta peningkatan performance RKX-200 khususnya pada bagian Separasi, Booster dan Aktuator.



Akan dihasilkan beberapa optimasi subsistem pesawat N219 seperti High Lift Device dan Airfoil. Dalam program ini akan dihasilkan data uji terowongan angin dan data hasil simulasi numerik CFD untuk optimasi Advance High Lift device, Airfoil design dan winglet pesawat N219. Adapun validasi hasilnya akan dilakuka noleh NLR Belanda. Disamping kegiatan penelitian di atas, jika di tahun 2013 ini program N219 mendapatkan dukungan dana dari pemerintah untuk pembuatan prototipe, Lapan akan ikut berpartisipasi dalam pembuatan prototype pesawat N219 tersebut.



Akan dihasilkan sebuah pesawat tanpa awak dengan kemampuan membawa payload misi 10 Kg (LSU-03) yang mampu terbang secara autonomous dengan jarak jangkau 150 Km dan lama terbang 2 jam. Dalam program ini akan dilakukan pengembangan desain dan manufaktur LSU-03 dalam hal: Optimalisasi desain agar lebih aerodinamis dengan analisis, simulasi dan pengujian, optimalisasi perhitungan beban dan kekuatan struktur, serta optimalisasi pemilihan bahan. Beberapa prototype akan dibuat dan diuji terbang. Disamping itu akan dilakukan optimalisasi LSU-02 sehingga dapat11 mencapai jarak jangkau 150 km dan lama terbang 4 jam (pemecahan rekor MURI). Sedangkan aplikasi LSU ini akan diperluas pada bidang mitigasi bencana, pertanian, kehutaan, dan pertahanan.



Di tahun 2013 akan dihasilkan sebuah pesawat ringan dua penumpang berbasiskan S15 dengan modifikasi sistem surveillance untuk kebutuhan pemetaan dan pemantauan (LSA-01). Dalam program ini, akan di laksanakan training 6 orang engineer di Technische Universitat Berlin (TU Berlin) dan di Stemme (sebuah perusahaan UKM Jerman) untuk melakukan reverse engineering terhadap pesawat S15. Pembuatan prototype LSA-01 akan dilakukan di Jerman, sedangkan integrasi akhir akan dilakukan di Indonesia. Untuk menguji kinerja LSA-01 ini, pengujian terbang akan dilakukan di akhir tahun 2013. Dari program ini akan dihasilkan juga sebuah desain konsep pesawat ringan hybrid untuk pemantauan, yang merupakan kelanjutan dari pengembangan LSA-01. Disamping itu, beberapa engineer akan ikut serta dalam pengujian pesawat LSA unmanned yang tengah dikembangkan TU Berlin bekerjasama dengan Stemme.


Thursday, April 4, 2013

Cambodia Conducts Live Artillery Drill to Strengthen Military Capacity



(DS/IMP) -- Cambodia on Tuesday conducted a live fire drill in order to strengthen capacity for the Royal Cambodian Armed Forces in defending territory integrity.


"BM-21 rocket launchers and 130-mm artillery were fired during the exercise," Deputy Prime Minister and Defense Minister Tea Banh said while presiding over the drill at a military exercise field in Kampong Speu province, about 70 km west of Phnom Penh.




The drill was attended by some 1,450 soldiers. About 98 BM-21 shells and 24 artillery shells were fired.

"Our troops have successfully completed the drill, all shells hit the targets," he told reporters after the event.


Lt. Gen. Eth Sarath, deputy commander-in-chief of the Royal Cambodian Armed Forces, said the fire was classified into two phases: the fire of BM-21 rockets in the distance of 16 km and the fire of 130-mm artillery.


"The exercise is to show national prestige, not to threaten any countries," he said, adding that the drill was made after the troops had been trained for four months.


It was the second time that Cambodia conducted the live fire drill with BM-21 rockets. The first such exercise took place in March 2010, when 215 shells were fired and all hit the target in the distance between 20 km and 40 km.


Cambodia started to strengthen defense capacity since it has territorial dispute with Thailand in 2008. The dispute had triggered several deadly armed clashes between troops of the two countries.


Monday, March 25, 2013

Smoke Warhead Buatan Indonesia Ungguli AS-Rusia


MALANG, (DS/IMP) -- Sebanyak 260 unit kepala roket jenis smoke warhead segera diekspor ke Chile akhir bulan Maret ini. Menariknya, produk alutsista (alat utama sistem senjata) ini dibuat dan diproduksi oleh PT. Sari Bahari dari Ngalam. 

“Ini eskpor pertama kami keluar negeri, setelah kami mulai memproduksi selongsong bom dan beberapa alutsista lain dengan mandiri sejak tahun 2010 lalu. Jika Chile merasa puas segera akan ada MoU untuk kerjasama tetap dan berkelanjutan dengan kami,” kata pemilik Sari Bahari, Ir. Ricky Bahari seperti dilansir Malang Post (JPNN Group), Minggu (24/3). 

Ditambahkan, produsen alutsista yang menjadi mitra PT.Pindad sejak 10 tahun terahir ini berhasil memasarkan kepala roket latih jenis smoke warhead setelah mengikuti pameran Indo Defence di Jakarta bulan November lalu. Produknya mengalahkan produk serupa buatan pabrikan berbagai negara maju diantaranya Amerika Serikat dan Rusia.“ Ini adalah prestasi pertama kami. Kami saat ini juga sedang melakukan negosiasi dengan beberapa negara lain. Produk kami dapat diterima oleh mereka karena harga lebih hemat dan kualitasnya juga lebih baik,” katanya optimis.

Dipaparkan bahwa smoke warhead adalah kepala roket dengan diameter 70 mm dan cocok dipasangkan dengan roket pasangan pesawat seperti Super Tucano. Smoke warhead memberikan informasi pada pilot tentang posisi persis jatuhnya roket mereka. “Ketika roket menyentuh tanah, kepala roket milik kami akan lepas dan mengeluarkan asap selama 2 menit. Itu waktu yang cukup bagi pilot untuk memutar haluan pesawat dan kembali melihat letak roket jatuh, karena ini adalah kepala roket untuk latihan,” lanjut alumnus SI Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya ini.

Lebih lanjut, Ricky Bahari menuturkan bahwa produk tersebut sudah diproduksi sejak tahun 2000 untuk memenuhi pesanan TNI. Bahkan, sudah lebih dari 3000 smoke warhead yang dipesan TNI. ‘’Sedangkan yang baru mulai dibeli oleh luar negeri. TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) sekitar 40 persen. Bahan baku memang ada yang impor, tetapi desain dan pembuatanya 100 persen dalam negeri,” bebernya.

Dengan jumlah pekerja sekitar 80 orang, PT Sari Bahari mampu memproduksi hingga 150 pieces smoke warhead setiap harinya. Seluruh pekerja ditempat usaha tersebut adalah penduduk sekitar Jalan Muharto. “Kami sudah berekanan dengan PT. Pindad selama puluhan tahun. Kami juga sudah mengantongi sertifikat dari Dislitbang TNI-AU untuk seluruh kepala roket dan kasing yang kami produksi. Jadi walaupun produk lokal tetap tersertifikasi nasional dan sekarang juga diakui internasional,” ucapnya.

Selain Smoke Warhead, PT Sari Bahari juga memproduksi beberapa selongsong bom jenis areal bombing, bom yang dijatuhkan dari udara. Ada P-100 (practice) untuk latihan dengan bobot 100 kilogram, bom P-100 (live) untuk amunisi perang, bom P-25 (practice), folding fin for motor rocket ffar 70 ml. Seluruh produk tersebut dipamerkan di dalam bengkelnya. Khusus untuk bom live atau perang, bom dilengkapi dengan amunisi di dalam roket. 

Isi peledak di dalam bom tidak dikerjakan oleh Sari Bahari. Perusahaan yang diberi nama merujuk pada profesi ayah Ricky yang seorang perwira dari TNI-AL, akan mengirim kasing untuk diisi bahan peledak oleh PT Dahana, salah satu BUMN yang bergerak di bidang material energi tinggi. Kasing bom yang memiliki bentuk tidak lancip dibagian hulu ledak tersebut, memiliki radius ledakan hingga 300 meter jika telah di isi bahan peledak.

“Bom ini jenis high drag, ujungnya tidak lancip agar memiliki kecepatan tinggi untuk jatuh ke tanah. Kami juga tidak memproduksi bahan peledak di sini. Kasing di kirim ke PT. Dahana di Subang kemudian masuk ke Depo di Madiun , jadi aman,” tandasnya. Uniknya, seluruh bom latihan atau practice buatan Sari Bahari dilengkapi dengan asap ketika menyentuh target, “ fungsinya jelas, untuk melihat keakuratan tembakan. Apakah jatuh tepat dengan target atau tidak,” tutupnya. (pit/nug) 


(DS/JPNN/IMP)

Thursday, March 14, 2013

Army-DTI Signed a 3-Year Development Project of Multi-Barreled Rocket

Development of multi barrelled rocket system will take place to 3 years, DTI-1 with a range from 60 to 180 kilometers, DTI-1G with range from 70-150 kilometers 
(photo : Sukasom Hiranpham)

(DS/IMP) -- On March 7 at the Army Headquarters Deputy Chief of Staff as representative of the Army and Chief Executive of DTI (Defence Technology Institute) has signed a Memorandum of Cooperation in the development of multi-barrel rocket system to further develop DTI-1 the multi-barreled rocket propellant and DTI-1G multi-barreled missile to a better accuracy to be even more.

\

Thailand has signed an agreement to cooperation in multiple-barreled rocket and missile technology from China. The Army and DTI has signed an agreement to develop research capabilities towards multi-barreled rocket and missile system. The project duration is three years during the period of transfer of technology to China. Expected in mid-2014 was to be fired test in China. The experiment in order to calculate the area of ​​security in the next shot.


 (image : thaifighterclub)

The development of missile systems to support the Army in the future. DTI would support development of missile systems along with training and simulation systems, including virtual training, logistics systems throughout the lifespan, system test and evaluation, and rocket systems destroyed management by the time expires. Research will build on the basic knowledge and technology in the country to be self sufficient and develop joint logistics support system to support multi-barrel rocket system and maintenance in time requirement.


Monday, March 11, 2013

Perang Hizbullah-Israel di Depan Mata?

Pejuang Hizbullah. (AP/ Hussein Malla)

Tel Aviv, (IMP) -- Konflik Suriah akan menyeret perang yang jauh lebih dahsyat di Timur Tengah, yaitu antara Israel dan gerilyawan Hizbullah. Sumber dalam pemerintahan Israel menyatakan, dengan semakin mendekatnya pertempuran antara pemberontak Suriah melawan rezim Bashar al Assad, militer negara itu bersiap-siap untuk pertempuran berikutnya melawan gerilyawan yang bercokol di Libanon tersebut.

Hizbullah adalah sekutu Bashar al Assad dan Iran. Dua negara ini adalah musuh Israel. Pertempuran terakhir keduanya terjadi pada 2006. "Militer Israel telah belajar dan siap jika pertempuran dimulai lagi," kata sumber itu, seperti dilaporkan Associated Press. 

Perbatasan Israel-Libanon relatif tenang sejak perang terakhir 2006. Namun, kini kondisinya berubah. "Ada peningkatan ketegangan karena Suriah," ujar seorang komandan senior militer Israel.

Pada tahun 2006, beberapa minggu serangan udara Israel menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk ratusan pejuang Hizbullah. Infrastruktur kunci hancur. Namun, Hizbullah berhasil menembakkan sekitar 4.000 roket ke Israel. Pertempuran berakhir dengan gencatan senjata yang diprakarsai oleh PBB.

Sementara gencatan senjata berlangsung, Israel mengatakan Hizbullah secara sistematis mengisi kembali gudang senjatanya dengan puluhan ribu roket dan rudal. Para pejabat militer Israel sering mengatakan perang Israel-Hizbullah jilid dua hanya masalah waktu.


(AP/Tempo/IMP)

Wednesday, January 30, 2013

Roket Indonesia Mulai Bikin Cemas Negara Tetangga

Roket Indonesia Menjadi Buah bibir Negara Tetangga


(IMP) -- Teknologi Roket Indonesia yang mulai di kuatirkan oleh negara Tetangga. Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal justru oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ….!


Meski sudah berlangsung, peluncuran roket RX-420 Lapan ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang lebih senang cerita politik, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di negara tetangga yang belakangan ini suka menganggap remeh Indonesia. 

Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor. 

Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma” Rp 1 milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp 700 trilyun.


Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia

Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik. Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk member “Asian Satellite Club” bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran. 

Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu meluncurkan roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang ini pun juga!!! 

Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok PULAU. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat. 


Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama paham bahwa insinyur-insinyur Indonesia tidak bisa diremehkan begitu saja. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan dukungan dana dari pemerintah. 


Kalau para ekonom Indonesia yang Pro World Bank dan IMF menyebut pesawat-pesawat buatan PT DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak (“cuma” Rp 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. 

Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya. 

Nah, jadi musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa: “Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah”. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba. 

Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work. Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda dengan menjual sebuah Honda Jazz

Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash. 


(The Global Review)

Wednesday, January 9, 2013

Peluncuran Roket Lapan RX-550

Target Roket RX-550 Lapan terbang 2013


Roket RX-550 Lapan


Awal tahun 2013 merupakan hari-hari yang menegangkan bagi Deputi Bidang Teknologi Dirgantara LAPAN Prof Dr Ing Soewarto Hardhienata. Dia memiliki target untuk menerbangkan roket Lapan RX-550 pada tahun 2013, sementara uji statis RX-550 yang dilakukan tanggal 29 September 2012, masih menemui kendala. Uji statis pertama dilakukan tahun 2011 silam.

Komponen nosel roket RX-550 kembali mengalami masalah dalam uji statis di Stasiun Pengamatan Dirgantara LAPAN Pameungpeuk, Kabupaten Garut- Jawa Barat. Desain struktur nosel roket RX-550 belum mampu menahan tingginya suhu pembakaran. Akibatnya, komponen material nosel roket terlepas sebelum proses pembakaran propelan berakhir di detik ke 14.

Prof Dr Ing Soewarto Hardhienata berencana mengubah desain struktur nosel roket, agar hasil akhirnya seperti yang diharapkan. Lapan pun kembali membangun seluruh komponen roket RX-550 serupa, untuk melakukan uji statis tahap ketiga pada awal tahun 2013.

Prof Dr Ing Soewarto berharap daya dorong roket bisa melebihi 25 ton dalam waktu 7 detik. Adapun proses pembakaran propelan ditargetkan 14 detik hingga bahan bakarnya habis. Kunci utama yang harus diselesaikan Lapan adalah membuat struktur material nossel bisa bertahan selama pembakaran, agar roket RX-550 mampu terbang sejauh 300 km ke luar angkasa.

Roket RX-550 berdiameter 550 milimeter ini, memiliki panjang keseluruhan 9 meter dan membawa bahan bakar jenis HTPB (hydroxyl toluen poly butadiene) sebanyak 1,8 ton.

Target yang dipatok Lapan pada tahun 2013 adalah peluncuran roket ke luar angkasa untuk membawa peralatan pengukur atmosfer. Roket ini akan dilepas di Morotai, Maluku Utara di atas samudra Pasifik.

Jika semua itu mulus maka tahun 2014, roket lapan diproyeksikan untuk mengangkut satelit buatan lapan, untuk diorbitkan ke luar angkasa.



Akankah target ini tercapai ?


“Kami yakin target roket RX-550 mengudara di 2013 masih bisa dicapai dan ditargetkan mampu terbang sejauh 300 km,” ujar Prof Dr Ing Soewarto Hardhienata. Pengalaman kesuksesan peluncuran roket RX-420 dan RX-320 serta panjangnya proses penelitian RX-550 dari 2011, cukup untuk dijadikan kunci keberhasilan program ini.






Di pihak lain, TNI berharap teknologi roket sonda Lapan bisa dikembangkan dan dimanfaatkan untuk keperluan militer. Pada tahap awal TNI akan mengembangkan roket balistik berdaya jangkau 100 km dengan kaliber 350 mm dan terus ditingkatkan jangkauannya hingga menjadi Roket kendali. Proyek ini melibatkan Konsorsium: Kementerian Ristek, PT Pindad, PT Dahana, PT Dirgantara Indonesia, LAPAN, BPPT, LIPI, ITB UGM dan ITS.

Pemerintah pun terus meningkatkan anggaran untuk pos pertahanan. Jika pada tahun 2004 hanya Rp, 21,7 triliun, maka tahun 2013 ini telah mencapai Rp 77 triliun.

Sejak peluncuran pesawat CN-235 tahun 1983, bangsa Indonesia memang tidak pernah lagi menyaksikan program prestisius sekaliber itu. Semoga tahun 2013 ini (30 tahun berlalu), Roket RX-550 Lapan bisa terbang ke luar angkasa membawa satelit yang juga buatan Indonesia. 



(JKGR)

Friday, December 28, 2012

Indonesia Siap Luncurkan Roket Berdaya Jangkau 900 Km

Roket RX-550. (Foto: Berita HanKam)

28 Desember 2012, Jakarta. Indonesia siap meluncurkan roket tiga digit atau roket berdaya jangkau 100 km-900 km pada 2013 untuk memperkuat sistem persenjataan negara. Tahun depan kita akan mulai menguji statis maupun uji dinamis roket berdaya jangkau tiga digit," kata Asisten Deputi Menteri Riset dan Teknologi bidang Produktivitas Riset Iptek Strategis Goenawan Wybiesana pada Evaluasi Akhir Tahun di Jakarta, Kamis. Untuk tahap awal, ujarnya, lebih dulu dikembangkan roket balistik berdaya jangkau 100 km dengan kaliber 350 mm sebanyak 10-20 unit, kemudian dilanjutkan dengan roket balistik kaliber berikutnya, disusul roket kendali.

Kementerian Ristek sebagai bagian dari konsorsium roket, turut mendanai proyek tersebut sebesar Rp10-15 miliar pada 2013. Selain Kemristek, konsorsium roket beranggotakan PT Pindad, PT Dahana, PT Dirgantara Indonesia, Lapan, BPPT, LIPI, ITB UGM, ITS, dan lainnya. Teknologi roket, ujarnya, dibangun dari empat kemampuan yakni teknologi material, teknologi sistem kontrol, teknologi eksplosif dan propulsi serta teknologi mekatronik yang seluruhnya sudah dikuasai.

Program roket nasional, ia menerangkan, telah dimulai sejak 2005 dengan mensinergikan berbagai lembaga terkait, dilanjutkan pembuatan desain awal dan uji prototipe serta pengembangan desain pada 2010. Pada 2011, urainya, konsorsium roket ini meluncurkan freeze prototype 1 (prototipe jadi) yang setelah dibeli Kementerian Pertahanan dinamakan R Han 122 untuk dibuat menjadi massal melalui program 1.000 roket.

"R Han 122 ini memiliki kaliber 122 mm berdaya jangkau 15 km, lalu pada tahun yang sama, daya jangkaunya R Han 122 ditingkatkan menjadi 25 km dan pada 2012 R Han ditingkatkan lagi kalibernya menjadi 200 mm dengan daya jangkau 35 km," katanya.

Sebelum program roket untuk kepentingan pertahanan negara, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) telah lama menguasai teknologi roket untuk kepentingan riset peluncuran satelit.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...