Showing posts with label Pesawat Penumpang. Show all posts
Showing posts with label Pesawat Penumpang. Show all posts

Thursday, July 17, 2014

Malaysia Airlines Tertembak Misil Dekat Rusia


Jakarta, (IMP) -- Maskapai Malaysia Airlines yang terbang dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur, jatuh di sebelah timur Ukraina. Pesawat jenis Boeing 777 itu dilaporkan jatuh di antara wilayah Rusia dan Ukraina pada Kamis sore, 17 Juli 2014. 

Seperti dikutip dari kantor berita Telegraph, pesawat mengangkut 295 penumpang. Dikabarkan pesawat jatuh karena ditembak. Seluruh penumpang diperkirakan tewas.

Ini adalah peristiwa nahas kedua yang menimpa Malaysia Airlines. Sebelumnya, Malaysia Airlines hilang dalam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Beijing beberapa bulan lalu

Pesawat Malysia Airlines. Seorang pejabat Malaysia mengatakan bahwa pesawat Malaysia Airlines MH370 dibajak pada saat ketinggian 35.000 kaki. Namun lokasi hilangnya pesawat yang belum jelas membuat para investigator belum mengetahui motif pembajakan. reuters

Jakarta, (IMP) -- Pesawat penumpang sipil Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH17 yang jatuh di sebelah timur Ukraina, Kamis (17 Juli 2014), berada di wilayah yang berbatasan dengan Rusia. Di wilayah itu, tentara pemerintah Ukraina sedang terlibat pertempuran melawan pasukan pemberontak yang disponsori Rusia.

Kantor berita Interfax, melaporkan asap membubung tinggi dari puing pewasat yang jatuh. Sumber-sumber di wilayah itu mengatakan kemungkinan pesawat jatuh akibat tembakan misil. 

Sulit membayangkan ada yang selamat di pesawat Boeing 777 yang mengangkut 280 penumpang dan 15 awak itu. Anton Gerashenko, salah satu penasihat di Kementerian Dalam Negeri Ukraina, yang dikutip Interfax, mengatakan pesawat terbang di ketinggian 33 ribu kaki saat tertembak oleh misil yang diluncurkan dari bawah.

Pesawat itu jatuh 20 mil menjelang masuk wilayah udara Rusia, dekan kota Shakhtyorsk. "Lalu ditemukan terbakar di darat di wilayah Ukraina," seorang sumber dikutip Reuters.


(Tempo/Reuters)

Wednesday, April 9, 2014

RAI Gandeng Dassault Systemes

Pesawat regional turboprop R-80 (image : Toras Lubis)

(IMP) -- PT Regio Aviasi Industri (RAI), perusahaan dirgantara swasta yang saat ini tengah mengembangkan pesawat R80 resmi menggandeng Dassault Systemes dalam proses rancang bangun pesawat unggulannya itu. Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan siang tadi (8/4/2014) di Jakarta.

"Kami akan memanfaatkan platform 3D Experience dari Dassault Systemes. Dengan platform ini kami bisa mengetahui secara real time perkembangan program pesawat kami mulai dari desain,simulasi produksi,sampai integrasi pesawat itu sendiri," ujar Agung Nugroho, Presdir PT RAI.

Dari presentasi yang ditampilkan, piranti lunak bernama Catia ini digunakan untuk membuat desain tiga dimensi dari R80. Tak hanya berhenti di desain, Catia juga mampu mensimulasikan tahap-tahap produksi hingga membuat simulasi jika terjadi kecelakaan. Harapannya, dengan rangkaian simulasi ini R80 mampu selesai diproduksi tepat waktu.

Soal sistem avionik, landing gear, mesin, dan sistem-sistem lainnya yang akan digunakan di R80, Agung masih enggan menjelaskan secara rinci. Pasalnya,saat ini pihaknya masih memfokuskan diri untuk merampungkan desain R80.

"Sudah ada beberapa produsen yang kita lirik tapi belum bisa bilang sekarang. Mudah-mudahan akhir tahun ini kami sudah bisa tentukan semuanya," jelasnya. (Angkasa)


Jakarta -Rancangan pesawat R80 karya mantan Menristek BJ Habibie saat ini sudah masuk tahap preliminary design atau desain awal yang tertuang dalam rencana bisnis. Rencananya dalam 20 tahun, sebanyak 400 unit pesawat ini akan diproduksi di pabrik PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Bandung, Jawa Barat.

"Kita sekarang sedang dalam rencana bisnis. 400 pesawat dalam 20 years," kata Presiden Direktur PT Ragio Aviasi Industri (RAI) Agung Nugroho dalam acara penandatanganan MoU antara PT RAI dengan Dassault Systèmes di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (8/4/2014).

Agung mengatakan, setelah preliminary design selesai, pada periode 2014-2017 pesawat berkapasitas 80 penumpang ini masuk ke dalam detail design, selanjutnya dibuat prototipe dan design pesawat yang lebih rinci. Setelah ada prototipe, pesawat akan masuk ke tahap sertifikasi dan pengujian terbang perdana.

"Sumber daya manusia kita akan ambil dari PT DI, karena kita tidak punya sumber daya manusia yang besar, tapi kita punya ahli untuk mengembangkan R80. Kita masuk tahap akhir preliminary design, setelah itu detail design, dirinci ke yang lebih detail," papar Agung.

Di tempat yang sama, Komisaris PT RAI yang juga merupakan putra dari BJ Habibie, Ilham Habibie mengatakan akhir tahun ini diharapkan desain awal sudah rampung. Sehingga tahun depan, prototipe sudah bisa dibuat.

"Kita belum tuntas, kita belum pilih engine, kokpitnya itu kalau sudah kita bakukan desainnya. Mungkin pertengahan atau akhir tahun. Kalau itu selesai definisi pesawat itu sudah oke, maka kita bisa berikan harga," jelas Ilham.


Jakarta -Pesawat sipil Regio Prop (R80) rancangan Mantan Menristek BJ Habibie sudah banyak dipesan maskapai penerbangan di dalam negeri. Tercatat sudah ada 6 maskapai penerbangan yang berminat terhadap pesawat berkapasitas 80 penumpang ini.

Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) yang memproduksi pesawat ini, Ilham Habibie mengatakan 6 maskapai penerbangan tersebut adalah maskapai yang beroperasi di rute-rute pendek, karena spesifikasi pesawat R80 cocok untuk rute pendek.

"Ada Nam Air, Sky Aviation, Wings Air, Citilink, Merpati, dan Kalstar. Mereka dari awal sudah ikut, sudah masuk," kata Ilham di sela acara penandatanganan MoU antara PT RAI dengan Dassault Systèmes di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (8/4/2014).

Ilham menuturkan, saat ini PT RAI akan fokus di pasar dalam negeri terlebih dahulu, sebelum merambah pasar global. Rencananya pesawat ini juga akan dipasarkan di kawasan ASEAN karena rute-rute maskapai penerbangan di Asia Tenggara tak berbeda jauh dengan di Indonesia.

"Kita konsentrasi di domestik dulu. Pasar dunia yang paling dinamis itu di Indonesia. Tentu kita akan ke luar negeri," kata putra dari BJ Habibie ini.

Sementara itu, Presiden Direktur PT RAI Agung Nugroho menyebutkan dari semua maskapai yang ditawari pesawat R80, ada 2 yang sudah melakukan penandatanganan Letter of Intent (LoI). Maskapai tersebut di antaranya Nam Air dan Kalstar.

"Kita sudah menandatangani LoI dengan 2 maksapai Indonesia yaitu Nam Air 100 pesawat dan Kalstar mereka berencana membeli 25 pesawat," terang Agung. 


Monday, April 7, 2014

Habibie: "Pesawat R80 Lebih Efisien dari Airbus dan Boeing"

Pesawat N250NG atau dengan nama barunya "R80". Mengenai maknanya "R" adalah inisial "Regional", sementara angka 80 menunjukkan kapasitas penumpang yang dapat diangkut pesawat tersebut (photo : Liputan 6)

Jakarta, (IMP) -- Mantan Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie saat ini tengah mengembangkan pesawat N250 Next Generation atau yang dinamakan R80.

Melalui perusahaan yang didirikannya yaitu PT Regio Aviasi Industri (RAI) tengah mengembangkan prototype dan nantinya akan bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) dalam proses rancang bangunnya.

BJ Habibie menjelaskan pesawat dengan model baling-baling ini nantinya diklaim akan lebih cepat dan lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dibanding Airbus ataupun Boeing.

Hal itu dilandaskan dari berhasilnya Habibie merancang R80 ini dengan memiliki perbandingan antara angin yang dingin dihasilkan dari udara di body pesawat dengan angin yang dikeluarkan pada engine di belakang pesawat lebih tinggi (Bypass ratio).

"Saya menyampaikan bahwa Airbus atau Boeing itu bypass rationya 12, makin tinggi bypass ratio makin sedikit konsumsi bahan bakar dan lebih cepat, ini (R80) bypass rationya 40, kami perhitungkan pesawat terbang ini sasarannya lebih sedkit 30% (penggunaan bahan bakar)," ungkap Habibie di Gedung Bank Indonesia semalam yang ditulis, Rabu (2/4/2014).

Habibie menambahkan R80 ini dibangun tidak akan menggunakan dana APBN, melainkan PT RAI akan menjalin kerjasama dengan swasta.

R dalam nama pesawat tersebut diartikan sebagai Regional, pesawat tersebut adalah buatan anak bangsa dan difungsikan untuk penerbangan jarak-jarak pendek. Sementara untuk 80 berarti kapasitas kursi pessawat yang mampu menampung 80 penumpang.

"Ini saya dengan team dalam satu tahun lagi kami mulai potong, dan memeprsiapkan untuk supaya bisa dirancang bangun, tahun 2017 kita targetkan sudah mengudara," terang Habibie.

Seperti diketahui, meski pesawat ini masih dalam tahap perancangan namun sudah mengundang banyak peminat yang menyatakan siap akan menggunakannya. Salah satu maskapai yang siap membeli peawat R80 ini adalah Sriwijaya Air yang nanti akan digunakan untuk anak usahanya yaitu NAM Air. 


Thursday, March 6, 2014

Pemerintah akan Danai Rp 600 Miliar Proyek Pembuatan 'Adik' Pesawat N250


Jakarta, (IMP) -- Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) siap mengembangkan pesawat perintis jenis terbaru yaitu N245. LAPAN akan mengeluarkan anggaran hingga Rp 600 miliar untuk membuat dan mengembangkan pesawat ini.

Pesawat dengan tingkat jelajah jauh lebih besar dari N219 ini, nantinya dapat mengangkut jumlah penumpang hingga 45 orang. Sebelumnya Mantan Menristek BJ Habibie sempat membuat beberapa prototipe pesawat N250 dengan kapasitas 50 orang penumpang.

"Anggarannya besaran kita perkirakan nggak terlalu beda dari pesawat N219. Barangkali harga mesin saja yang beda. Kalau sekarang dengan proyek N219 sebesar Rp 400 miliar dapat 2 pesawat mungkin N245 ini kalau kita coba bikin sekitar 1,5 lebih tinggi atau sekitar Rp 500 hingga Rp 600 miliar," kata Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN Gunawan S Prabowo kepada detikFinance, Senin (3/3/2014).

Menurutnya pesawat N245 adalah proses pengembangan dari pesawat sebelumnya yang sudah ada yaitu CN235. Hanya saja tim ahli LAPAN dibantu PT Dirgantara Indonesia (PT DI) nantinya akan memodifikasi di bagian ekor pesawat. Dengan adanya modifikasi tersebut jumlah penumpang bisa bertambah sebanyak 10 orang menjadi 45 orang. Pesawat CN235 hanya dapat menampung 35 penumpang.

"Sebetulnya pesawat jenis ini hanya pengembangan N-235. Hanya di belakang sayap itu pakai pintu belakang ternyata kalau dikonversi bisa menambah tempat duduk sebanyak 10 orang," imbuhnya.

Ditargetkan pesawat N245 mulai dilakukan pengembangan pada awal tahun 2017 dan rampung di tahun 2020. Spesifikasi pesawat sepenuhnya dibuat di dalam negeri hanya mesin pesawat masih diimpor dari negara lain. Mesin yang akan digunakan pesawat N245 mempunyai daya jelajah lebih tinggi dan cepat dibandingkan N219 dan CN235. 

Sehingga diharapkan dengan adanya pesawat N245 pihak maskapai penerbangan nasional dapat membeli produk pesawat buatan anak bangsa ini. Apalagi di era sekarang bisnis penerbangan perintis sedang naik daun.

"Pasar penerbangan perintis semakin besar lalu membangkitkan kembali industri pesawat lokal. N245 dengan jelajah lebih tinggi nantinya diharapkan dapat digunakan oleh perusahaan Airlines kita," jelasnya.

Saat ini PT DI dan LAPAN sedang mengerjakan proyek N219 yang targetnya bisa mengudara dan mulai dikembangkan secara massal di 2016.


Monday, April 15, 2013

LAPAN Menyampaikan Sasaran Kegiatan 2013

Program-program strategis LAPAN (all photos : LAPAN)

(IMP) -- LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Indonesia mempunyai 4 pilar yaitu: Penginderaan jauh; Teknologi Dirgantara; Sains Antariksa; Iklim dan Atmosfir; serta Kebijakan Kedirgantaraan telah membuat Sasaran Kegiatan 2013. Dua link di bawah dapat diakses untuk membaca secara penuh, sementara hal yang menyangkut penerbangan dan pertahanan disarikan di bawah ini.



Penyelesaian upgrading sistem akuisisi data Landsat Data Continuity Mission (LDCM) di Stasiun Bumi Penginderaan Jauh Parepare.
Penyelesaian upgrading sistem akuisisi data SPOT-5 dan SPOT-6 di Stasiun Bumi Penginderaan Jauh Parepare.

Akuisisi data satelit penginderaan jauh lingkungan dan cuaca serta sumberdaya alam (MTSAT, NOAA, Terra/Aqua, NPP, Feng Yung, Landsat-7, LDCM/Landsat-8, SPOT-5, dan SPOT-6).

.


Mengirim Satelit Lapan-A2 ke SDSC (Satish Dawan Space Center), Shriharikota, India. Menempatkan sejumlah engineer untuk mengawasi dan memantau kondisi Satelit Lapan-A2, serta menyiapkan dan membangun sistem remote monitoring untuk memantau satelit dari Indonesia hingga hari peluncuran, yang direncanakan pada kuartal pertama 2014.

Menyiapkan clean-room dan sarana-uji sistem lensa/fokus kamera untuk melihat jarak jauh, bagi pelaksanaan AIT (Assembly, Integration and Test) Satelit Lapan-A3. Clean-room kelas 100.000 berukuran 10x5m adalah primer untuk integrasi komponen high rate X-band transmitter, dan lensa/detektor optis pada sistem pencitra push-broom Imager 4 kanal. Target AIT adalah dihasilkannya Flight Model (FM) satelit Lapan-A3 dengan capaian 70%. Pelaksanaan AIT satelit masih membutuhkan supervisi, konsultasi dan peningkatan kualitas SDM Lapan. Mengadakan sejumlah alat-ukur untuk melengkapi fasilitas uji RF di dalam negeri, untuk memenuhi persyaratan uji EMI/EMC satelit, baik untuk downlink data misi pada frekuensi 8.0 s/d 8.4 GHz, maupun TT&C satelit pada pita VHF/UHF.

Menyiapkan konsep awal rancangan satelit Lapan-A4. Satelit Lapan-A4 merupakan pengembangan lanjut dari Satelit Lapan-A3, dimana imagernya akan ditingkatkan dengan pencitra inframerah dekat (Near Infra red, NIR). Prosesnya dimulai dengan kajian komprehensif mengenai sub-sistem satelit dan komponen ruas-bumi untuk imager visible s/d inframerah dekat, pembelajaran teknologi sensor inframerah-dekat tanpa cooler (bolometer) serta identifikasi kebutuhan koreksi data imager infra-merah dekat. Target kegiatan Lapan-A4 meliputi pembuatan dokumen PDR (Preliminary Design Review), peningkatan kemampuan SDM tentang sensor Bolometer dan pengadaan komponen dasar satelit.



Kegiatan utama peroketan Lapan tahun 2013 adalah Ekspedisi Morotai, yaitu melaksanakan kegiatan peluncuran roket RX-122, RX-200, RX-320, RX-450 dan RX-550 di Morotai. Kegiatan peluncuran roket tersebut dilaksanakan setelah uji statik setiap roket berhasil dilaksanakan. Disamping pencapaian sasaran di atas, fasilitas yang dikembangkan di Lapan di bidang peroketan juga dimaksudkan untuk menunjang pelaksanaan program roket nasional (konsorsium) untuk penggunaan di bidang pertahanan dan pemanfaatan lainnya. Untuk tahun 2013 program roket konversi mempunyai sasaran empat prototip, yaitu RX-122 dengan jangkauan 23 Km, RX-200 dengan jangkauan 40 Km, RX-320 dengan jangkauan 70 Km dan RX-450 dengan jangkauan diatas 100 Km (roket 3 digit).



Pengembangan Roket Kendali pada tahun 2013 mempunyai sasaran prototipe roket kendali dengan sistem propulsi roket padat (booster), Electrical Ducted Fan (RKX-200EDF) dan Turbo Jet (RKX-200TJ) berkecepatan 250 km/jam, terbang secara AutoPilot, dengan menitik beratkan pada Uji Darat (simulasi HILS, Wind Tunnel dan Captive Test) sebelum akhirnya dilakukan Flight Test. Serta peningkatan performance RKX-200 khususnya pada bagian Separasi, Booster dan Aktuator.



Akan dihasilkan beberapa optimasi subsistem pesawat N219 seperti High Lift Device dan Airfoil. Dalam program ini akan dihasilkan data uji terowongan angin dan data hasil simulasi numerik CFD untuk optimasi Advance High Lift device, Airfoil design dan winglet pesawat N219. Adapun validasi hasilnya akan dilakuka noleh NLR Belanda. Disamping kegiatan penelitian di atas, jika di tahun 2013 ini program N219 mendapatkan dukungan dana dari pemerintah untuk pembuatan prototipe, Lapan akan ikut berpartisipasi dalam pembuatan prototype pesawat N219 tersebut.



Akan dihasilkan sebuah pesawat tanpa awak dengan kemampuan membawa payload misi 10 Kg (LSU-03) yang mampu terbang secara autonomous dengan jarak jangkau 150 Km dan lama terbang 2 jam. Dalam program ini akan dilakukan pengembangan desain dan manufaktur LSU-03 dalam hal: Optimalisasi desain agar lebih aerodinamis dengan analisis, simulasi dan pengujian, optimalisasi perhitungan beban dan kekuatan struktur, serta optimalisasi pemilihan bahan. Beberapa prototype akan dibuat dan diuji terbang. Disamping itu akan dilakukan optimalisasi LSU-02 sehingga dapat11 mencapai jarak jangkau 150 km dan lama terbang 4 jam (pemecahan rekor MURI). Sedangkan aplikasi LSU ini akan diperluas pada bidang mitigasi bencana, pertanian, kehutaan, dan pertahanan.



Di tahun 2013 akan dihasilkan sebuah pesawat ringan dua penumpang berbasiskan S15 dengan modifikasi sistem surveillance untuk kebutuhan pemetaan dan pemantauan (LSA-01). Dalam program ini, akan di laksanakan training 6 orang engineer di Technische Universitat Berlin (TU Berlin) dan di Stemme (sebuah perusahaan UKM Jerman) untuk melakukan reverse engineering terhadap pesawat S15. Pembuatan prototype LSA-01 akan dilakukan di Jerman, sedangkan integrasi akhir akan dilakukan di Indonesia. Untuk menguji kinerja LSA-01 ini, pengujian terbang akan dilakukan di akhir tahun 2013. Dari program ini akan dihasilkan juga sebuah desain konsep pesawat ringan hybrid untuk pemantauan, yang merupakan kelanjutan dari pengembangan LSA-01. Disamping itu, beberapa engineer akan ikut serta dalam pengujian pesawat LSA unmanned yang tengah dikembangkan TU Berlin bekerjasama dengan Stemme.


Tuesday, February 19, 2013

Dahlan Dukung PT. DI Produksi Pesawat N219


JAKARTA-(IMP): Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mendukung rencana PT Dirgantara Indonesia (Persero) untuk meluncurkan pesawat berbadan kecil, N219. Pesawat ini diperlukan untuk mengangkut penumpang dan logistik ke daerah-daerah terpencil, seperti Papua, Maluku dan Nusa Tengara Timur (NTT).

"Kalau mau mengembangkan untuk di Papua, NTT, dan Maluku, memang tepat pakai N 219," ujar Dahlan di Pacenongan, Jakarta Pusat, Senin (18/2). Mantan Dirut PLN ini bahkan setuju terhadap penyaluran Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk pengembangan pesawat yang berpenumpang 19 orang ini.

"Kalau ada PMN untuk itu, saya setuju. Nanti ada, misi khusus di Papua karena bandara banyak. Produksi 219 dikaitan membangun Indonesia Timur seperti Papua, NTT dan Maluku," paparnya.

Pesawat tersebut, menurut Dahlan akan menjadi awal dari kebangkitan PT DI dalam industri kedirgantaraan pasca krisis ekonomi 1998. Selain itu, kesulitan desain dan pembuatan N 219 ini jauh lebih mudah dibanding pesawat N 250 karya BJ Habibie. "Ini tidak sesulit dari N 250," pungkas pria yang kerap mengenakan sepatu kets ini.

Merpati Nusantara Airlines bahkan telah siap mengoperasikan N 219 di Papua dan kawasan Indonesia Timur. Untuk mengembangkan N 219, setidaknya PT DI membutuhkan dana minimal Rp 960 miliar atau USD 1 miliar.


Sumber : JPNN

Thursday, February 7, 2013

PT.DI Siap Melahirkan Kembali "The New N-250"


JAKARTA:(IMP) - PT Dirgantara Indonesia (DI) (Pesero) siap melahirkan kembali pesawat N-250 atau 'The New N-250' peninggalan BJ Habibie. Pesawat komersial yang terhenti pengembangannya sejak 1998 ini, dalam waktu enam bulan ke depan akan diputuskan kelanjutan atau masa depan pengembangannya.

Dirut PT DI, Budi Santoso menjelaskan, tahap awal pihaknya akan melakukan riset atau studi pasar mengenai prospek pesawat bermesin turboprop ini di mata industri penerbangan internasional.

"Kita sedang buat studi pasarnya. Apakah mau pakai desain yang lalu atau ada perubahan di N-250," ujar Budi kepada detikFinance, Selasa (5/2/2013).

Menurutnya, paling cepat 6 bulan ke depan hasil studi pesawat yang telah dikembangkan sejak akhir 1980-an ini mucul. Budi menjelaskan, The New N-250 ini siap masuk ke pasar penumpang berkapasitas 70 sampai 80 penumpang yakni di bawah pesawat jet komersial berpenumpang 100 orang dan di atas pesawat bermesin propeler (baling-baling) berpenumpang 50 orang.

"Market yang ada, 70 sampai 80 penumpang, jadi PT DI jangan sampai salah masuk," sebutnya.

Saingan terberat The New N-250 nantinya adalah pesawat pabrikan asal Eropa yakni Bombardier Q-400 dengan kapasitas 80 penumpang.

"Tapi dari desain kita lebih baik dari Bombardier Q-400," cetusnya.(feb/dru)


Lanjutkan Pesawat N-250 Besutan Habibie, PT DI Butuh Rp 9,6 Triliun

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) berencana membangkitkan kembali pesawat N-250 peninggalan BJ Habibie. Untuk bisa terbang dan diproduksi massal, BUMN penerbangan ini membutuhkan dana US$ 1 miliar atau Rp 9,6 triliun.

Dana ini digunakan untuk proses pengembangan ulang hingga menjadi pesawat baru siap produksi.

"Untuk melanjutkan N-250 sampai tersertifikasi dan diproduksi menghabiskan US$ 1 miliar," tutur Direktur Utama PT DI Budi Santoso kepada detikFinance, Selasa (5/2/2013).

Mahalnya biaya untuk melahirkan The New N-250 membuat Dirgantara Indonesia harus betul-betul melakukan studi tentang pangsa pasar dari pesawat yang berhenti dikembangkan sejak 1998 ini.

Selain itu, Budi mengaku BUMN ini tidak bisa berdiri sendiri untuk mendukung pembiayaan The New N-250, sehingga membutuhkan dukungan pendanaan dari pemerintah dan investor.

"Kita belum berani (produksi lagi) sampai kita meyakini. Kita sedang buat studi pasarnya. PT DI jangan sampai salah, kalau salah kita habiskan US$ 1 miliar untuk bikin," tambahnya.

Nantinya, ketika hasil studi pasar dalam waktu 6 bulan ke depan menunjukkan pesawat N-250 layak dilanjutkan, Budi menjelaskan pada pesawat The N-250 akan terjadi perombakan terhadap mesin dan onderdil pesawat. Hal ini dilakukan karena ada beberapa komponen yang sudah diproduksi lagi.

"Sertifikasi harus diulang dan akan diganti, mesin ganti, kalau mesin (N-250 versi lama) sekarang konsumen terbesarnya militer," sebutnya.

The New N-250 nantinya 60% komponennya berasal dari impor, dan sisanya diproduksi di dalam negeri. Namun desain pesawat, 100% dirancang oleh Dirgantara Indonesia.

"Mungkin 50-60% harus dibeli dari luar seperti mesin dan lain-lain," pungkasnya. 


(DM/Detik)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...