Showing posts with label Sistem Pertahanan Rudal. Show all posts
Showing posts with label Sistem Pertahanan Rudal. Show all posts

Saturday, July 12, 2014

Roket Hamas vs Iron Dome Israel


(IMP) -- M-302, adalah roket andalan militan Hamas yang menjadi buah bibir para analis Israel dan Amerika Serikat. Sebab, roket jenis ini menghujani wilayah Israel setiap 10 menit selama Israel menginvasi Jalur Gaza dalam empat hari terakhir.

Para analis itu bertanya-tanya, bagaimana bisa militan Gaza mampu membuat roket yang bisa menjangkau wilayah Israel dalam jumlah besar. Padahal, kondisi ekonomi Palestina sedang sakit sejak Israel memblokade Jalur Gaza beberapa tahun lalu.

Israel selama ini gencar menuduh Hamas menerima pasokan roket seperti itu dari Suriah dan Iran. Tentara Pertahanan Israel (IDF) mencatat, roket M-302 Hamas ditembakkan ke wilayah Israel setiap 10 menit. Bahkan dalam 72 jam, sudah 400 roket ditembakkan. Data itu mengacu dari keberhasilan sistem pencegat rudal Israel, Iron Dome, yang 90 persen berhasil menangkis roket Hamas.

Iron Dome menjadi andalan Israel, sejak Hamas menguasai Jalur Gaza tahun 2007. Menurut IDF, Hamas memiliki gudang dengan 10 ribu bahan mentah untuk pembuatan roket, yang salah satunya bertipe M-302.


Menurut IB Times, pada Kamis (10/7/2014), roket M-302 pertama kali dikembangkan oleh militer Suriah. Namun, roket jenis itu kini sudah biasa digunakan kelompok Hizbullah dan Hamas, serta pasukan loyalis Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Sejak Hamas memperoleh roket M-302, Israel dibuat repot berkali-kali. Hamas setidaknya telah berhasil menembakan roket jenis itu ke wilayah pesirir Hadera , sekitar 30 km dari Tel Aviv atau 70 km dari Jalur Gaza.

Meski Israel meragukan kemampuan Hamas untuk memproduksi roket M-302, namun analis AS justru percaya dengan kemampuan Hamas. ”Hamas mampu memproduksi roket secara mandiri,” kata Patrick Megahan, analis untuk Pertahanan dan Demokrasi yang berbasis di AS, kepada NBC.

Setelah kita melihat semuanya, kelompok pemberontak di Suriah juga memproduksi beberapa roket tanpa bantuan dari luar negeri. Apakah Iran dan Suriah menawarkan bantuan berupa bahan yang diproduksi secara massal, itu sulit dilakukan di Gaza di mana bahan-bahan terbatas,” ujar Patrick.

Para pemimpin Hamas telah menegaskan bahwa senjata mereka dibuat sendiri dan tidak dijual di tempat lain. Namun, sumber lain menyatakan, roket M-302 tidak hanya diproduksi Suriah, dan Hamas. China juga memproduksi dengan nama Weishi-2 (WS-2).

Ini dibuat di bawah lisensi dari China,” kata Tal Inbar, analis Israel kepada NBC. Militer Israel mengakui roket M-302 merupakan model roket hebat.” Yang paling canggih, yang bisa menyerang dengan jarak lebih dari 100 mil, dan jika itu digunakan di Gaza maka warga Israel di bawah ancaman,” kata juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Peter Lerner.


Untuk menangkis serangan serangan roket Hamas, Israel terus meningkatkan kemampuan iron dome. Jika pada konflik tahun 2006 dinyatakan keakuratan iron dome 70 persen, maka kini meningkat menjadi 90 persen bisa mencegat roket Hamas di udara.

Irone Dome dilengkapi perisai elektronik dan hulu ledak khusus yang mampu mendeteksi dan menghancurkan target dalam waktu beberapa detik. Amerika Serikat ikut berperan dalam mengembangkan teknologi Iron Dome yang mahapenting bagi keamanan Israel ini. AS menggelontorkan US$ 235 juta untuk mendanai penelitian dan membuat senjata pelindung itu.

Sistem ini merupakan sistem pertahanan anti-rudal untuk mencegat roket Hamas yang menarget Tel Aviv dan Yerusalem -dua kota terbesar Israel.


Menurut CNN, sistem ini bekerja dengan pertama-tama mengidentifikasi rudal masuk dan kemudian menentukan apakah jangkauan dan arah mereka mengancam daerah padat penduduk, seperti sebuah kota. Jika rudal yang masuk dianggap merupakan ancaman, operator Iron Dome meluncurkan kontra-rudal. Rudal ini akan menghancurkan rudal musuh di udara.

Departemen Pertahanan Israel (IDF) mengatakan sistem ini telah mencegat 56 roket yang ditembakkan dari Gaza dengan sasaran Yerusalem, Tel Aviv, Asdod, Askelon, Kiryat Gat, dan di tempat lain. Menurut IDF, lebih dari 250 roket telah ditembakkan dari Gaza.

IDF menyatakan Israel menggunakan sistem Iron Dome hanya terhadap roket yang meluncur ke daerah-daerah berpenduduk. Jika tampaknya menuju sebuah lapangan kosong, Iron Dome tidak diaktifkan. “Sistem ini merupakan inti dari strategi pertahanan Israel,” tulis CNN.

Ada dua pekerjaan utama sistem ini, yakni mengidentifikasi target dan peluncur rudal portabel akan menembakkan anti-rudal untuk meledakkan rudal Hamas di udara. Sistem ini mudah diangkut, dengan hanya beberapa jam saja untuk merelokasi dan mengaturnya.

Rudal Iron Dome memiliki panjang 3-10 meter dengan diameter 15 sentimeter dan berat 90 kilogram, tulis analisis keamanan IHS Jane pada 2012. Hulu ledak diyakini membawa 11-24 kilogram bahan peledak. Jangkauannya mulai 4 kilometer sampai 70 kilometer.

Israel mulai mengembangkan sistem ini pada 2007. Setelah serangkaian tes penerbangan tahun 2008 dan 2009, alat ini pertama dioperasikan pada 2011. Seperti dikutip IHS Jane, Angkatan Udara Israel melaporkan tingkat keberhasilan sistem ini mencapai 70 persen pada 2011.


Apakah Amerika Serikat terlibat dalam Iron Dome? Ya, tulis ABC News. Pengembangan awalnya dilakukan oleh perusahaan teknologi pertahanan Israel, Rafael. Namun sistem ini disponsori AS. Menurut Congressional Research Service, pada 2014 negara adidaya itu memberikan US$ 235 juta untuk penelitian Iron Dome, termasuk pengembangan dan produksi.

IHS Jane menyatakan pembuatan satu unit Iron Dome menelan biaya US$ 50 juta. Sedangkan sebuah rudal, menutur pejabat Israel, dihargai US$ 62 ribu.

Ini adalah program yang dirancang untuk memberikan keamanan dan keselamatan bagi keluarga Israel,” ujar Presiden AS Barack Obama mengomentari alat ini. The Jerusalem Post melaporkan, negara-negara lain telah menyatakan minatnya untuk membeli sistem ini, termasuk AS, Korea Selatan, dan beberapa negara anggota NATO di Eropa. 


(sindonews/tempo.co/JakartaGreater)

Monday, January 20, 2014

Missile Defense Strategy of Vietnam Covers Spratly Islands


(IMP) -- With a range of over 400 km, covering the whole of the Spratly Islands Vietnam, combined REDUT-M missile defense strategy archipelago Vietnam.


Orders alarm rang ... In less than 5 minutes, the vehicle missile launchers rumbled out into combat positions. Missile launch tubes longer than 10m rapid rise into the air direction. Officers shoot driver in the lead car quickly deploy equipment directive nosing search target, the crew informed of rang loudly determine coordinates, the target location is key enemy ships are currently marine area infringe on the sovereignty of Vietnam. Startup fuel hissed sharply blown rock grouting rear platform, P-35 missile is ready to receive commands ... " Zoom ".


It's been reported Infonet images published March 17/1 for rehearsals of rocket 679 Union Navy in Hai Phong, the unit is equipped with missile REDUT-M, radio control Skala-E, using sea ​​missiles on P-35, P-28, P-28M ... is a weapon in the weapons system powering strategy of the Vietnam People's Navy.


REDUT missile - M missiles used for marine - P-35, P-28, P-28M ... In particular, P-35 missile has a range of over 400 km technique, are considered in the strategic missiles tasked to protect the island Vietnam.


Anti-ship cruise missiles P-35 is the main component of the missile defense system the coast range REDUT developed by the Soviet Union in the 1960s.


Name of P-35 has a massive size. It has a length of 10.2 m, a body diameter of nearly 1m wingspan of 2.6 m (can be folded in tubes), weighing up to 4.5 tonnes reporters. In particular, P-35 warhead assembly weighs 1 ton of explosives often enough sinking large warships (including carrier).


To launch missiles, 4 foot hydraulic cylinder is activated to position the car fixed launcher. Larger pipe is a hydraulic lift at an angle other than 20 degrees to the surface of the vehicle launch.


Then, rocket launchers are pushed out by the starter motor speed solid fuel. In certain height, turbine KRD-26 jet activates target missiles, supersonic cruise speed (Mach 1.4), a range of over 400 km. With this range, the P-35 was considered anti-ship missiles have a range of Vietnam and Southeast Asia.


Guided missile combines inertial navigation systems, calibration parameters throughout the journey and active radar in the last phase.

The command is sent to the guided missile command from the ground station via the image of the missile radar provided via a video data link.


From missile radar images provided , the control officer will identify and target the preferred choice, and then lock the target by the missile's active radar. In the absence of guidance from the support of reconnaissance aircraft , missile control officer will launch 3-4 missiles simultaneously.


One of the missiles will be controlled soar higher than the other missiles. The missile will use its radar to guide the missile attack left a ship or a vessel is detected by the radar planes.


Thales Announces Order for FORCESHIELD Integrated Air Defence System and STARSTREAK Missiles for Indonesian Ministry of Defence


(IMP) -- In addition to the supply of STARStreak short-range air defence missiles, the system comprises CONTROLMaster200 radar and weapon coordination systems, RAPIDRanger mobile weapon systems and Lightweight Multiple Launchers (LML), as well as associated communications, training and support equipment.

Victor Chavez, CEO of Thales UK, said: “Thales is the only European defence contractor with the in-depth knowledge and range of advanced technologies to deliver a leading-edge integrated air defence solution such as ForceSHIELD. This solution for the Indonesian Army marks a new approach to air defence in that it provides a complete turnkey solution comprising latest-generation ‘sensor to effects’ technologies. I would like to express my gratitude to the Prime Minister for his personal support on this project and the support of the government – it makes a huge difference to industry and our customers.”

The British Prime Minister, the Rt Hon. David Cameron MP, said: “This deal worth over £100m is great news for the UK and the aerospace industry, and a strong vote of confidence in this Government’s long-term economic plan. It will help secure highly-skilled jobs in Northern Ireland and throughout the supply chain. This is precisely the reason why I go on these trade missions to countries like Indonesia, to drum up jobs and investment for our country, and I’m delighted my trip has resulted in a clear win for Thales.”

For the realisation of this programme, Thales will increase its existing industrial cooperation with the Republic of Indonesia, and has signed an agreement with the Indonesian company PT LEN Industri. The Group will continue to develop a long-term partnership with the Indonesian industry on future programmes in both the military and civil sectors.


Thales’s ForceSHIELD solution is based on customising and combining a range of product lines such as radars, communications, engagement and fire control systems, launchers and missiles to meet front-line users’ needs. This approach provides highly-effective capabilities for its customers to meet the increasing array of asymmetric and conventional air threats in today’s security environment.

The CONTROLMaster200 comprises the latest generation solid-state radar, capable of detecting and tracking 200 targets simultaneously out to ranges up to 250km. It incorporates the CONTROLView engagement control system that evaluates threats, assigns weapons, and coordinates combat management activity – enabling complex and critical decisions to be made faster and with greater precision and security.

The RAPIDRanger is a unique lightweight vehicle-based launcher and fire control system, which can be integrated into a network-enabled force structure and coordinated with a variety of Command and Control systems. Equipped with the STARStreak high-velocity missile, RAPIDRanger has the ability to defeat a wide variety of air threats, including ground attack aircraft, pop-up Attack Helicopters, Unmanned Aerial Vehicles (UAVs) and cruise missiles. The STARStreak missile operates at a speed in excess of Mach 3 to defeat fast-moving threats and those with short unmasking times. The three-dart ‘hittile’ configuration maximises lethality and the highly-accurate laser beam riding guidance enables engagement of low-signature targets and is immune to all known countermeasures.


Tuesday, June 4, 2013

Begini Cara AS Tangkis Rudal Suriah

Rudal Patriot (REUTERS)

WASHINGTON, (IMP) -- Untuk mengantisipasi bergolaknya situasi di Suriah, AS mulai berancang melakukan aksi militer. Satu di antaranya dengan mengerahkan baterai rudal Patriot.

Senjata ini dirancang untuk menjatuhkan Scud atau rudal jarak pendek lainnya, yang diketahui sebagai senjata rezim Bashar. Sistem itu juga dapat digunakan sebagai bagian dari "payung" zona larangan terbang atau operasi udara lainnya.

Pentagon telah mengirimkan sekitar 200 tentara ke Yordania, termasuk satu elemen dari markas Angkatan Darat AS, guna membantu negara tersebut dalam menyiapkan rencana aksi militer terhadap suriah. Beberapa skenario yang kemungkinan ditempuh itu juga meliputi pengamanan atas stok senjata kimia yang dimiliki Suriah.

Pengerahan peluncur anti-rudal Patriot itu merupakan tindak lanjut dari peringatan Washington kepada rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad agar tidak memberikan sistem rudal canggih kepada kelompok milisi Hizbullah di Libanon, yang kini mulai mengambil bagian dalam pertempuran guna mendukung Damaskus.

Israel telah beberapa kali melancarkan serangan udara di Suriah guna mengganggu pengiriman rudal ke Hizbullah itu.

Keputusan penempatan jet F-16 dan baterai rudal di Yordania semakin memperkuat spekulasi tentang kemungkinan intervensi militer dari Amerika Serikat, yang sejauh ini menurut Gedung Putih sangat kecil dilakukan.


(Republika/REUTERS)

Tuesday, May 14, 2013

Rusia Jual Rudal S-300 ke Suriah


Moscow, (IMP) -- Rusia mempertahankan keputusannya untuk menjual sistem pertahanan udara ke Pemerintah Suriah. Namun belum jelas, apakah Negeri Beruang Merah itu akan menjual misil S-300 yang ditakuti oleh Israel. 

Terkait penjualan S-300, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov sama sekali tidak berkomentar. Banyak pihak yang cukup yakin bahwa penjualan S-300 berada di luar kontrak perdagangan senjata Rusia dan Suriah. Demikian seperti diberitakan Associated Press, Sabtu (11/5/2013). 

"Rusia sudah menjual persenjataan itu dalam waktu yang cukup lama, kami juga sudah menandatangi kontrak dan menyelesaikan proses pengiriman sistem pertahanan misil itu," ujar Lavrov. 

Israel sebelumnya sudah membujuk Rusia agar membatalkan penjualan misil S-300 ke Suriah karena senjata tersebut dinilai bisa mendestabilisasikan keamanan Negeri Yahudi. Amerika Serikat (AS) pun khawatir zona larangan terbang di Suriah akan semakin sulit diberlakukan bila Suriah memiliki senjata tersebut. 

Seperti diketahui, AS dan Rusia mulai berbincang pada pekan ini untuk menyamakan persepsi dan mencari solusi baru untuk Suriah. Langkah itu cukup disambut oleh Pemerintah Suriah, maupun fraksi oposisi. 


Salah satu masalah yang akan dibahas dalam dialog itu, antara lain, mencari cara dalam membangun pemerintahan transisi di Suriah. Namun mereka belum menentukan, kapan pemerintahan itu dibentuk. 

Sejauh ini, fraksi oposisi memberi prasyarat untuk digelarnya dialog dengan Pemerintah Suriah. Mereka hanya sepakat berbincang bila Presiden Bashar al-Assad dan kroninya turun dari jabatan.




Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan mengunjungi Presiden Rusia Vladimir Putin pekan depan. Kunjungan bilateral tersebut terkait kekhawatiran Tel Aviv bahwa Moskow kemungkinan akan mengirimkan persenjataan canggih ke Suriah.

Juru bicara Putin, Dmitry Peskov membenarkan rencana kunjungan Netanyahu itu. Namun dirinya enggan memberikan keterangan rinci.

"Netanyahu dan Putin akan membahas masalah perdagangan persenjataan ke Suriah, terutama sistem peluru kendali anti-serangan udara S-300 yang canggih," kata sumber di pemerintahan Israel kepada wartawan, Minggu (12/5)/

Israel pada pekan lalu melancarkan serangan udara sebanyak dua kali di dekat Damaskus. Seorang sumber di pihak Israel mengatakan bahwa serangan-serangan itu ditujukan untuk mencegah pemindahan senjata-senjata canggih kepada Hisbullah, kelompok Syiah Lebanon yang kuat dan memiliki keterikatan dengan Suriah. 

Sebelum menemui Putin, Netanyahu juga telah mengabarkan tentang pembelian persenjataan peluru kendali S-300 buatan Rusia yang dilakukan Suriah. S-300 disebut senjata dari darat-ke-udara yang bisa menghalau pesawat atau peluru kendali.




Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) John Kerry berharap, distribusi sistem pertahanan misil canggih milik Rusia ke Suriah akan dibatalkan. Kerry menilai, distribusi senjata itu akan mendestabilisasikan keamanan Israel.

"Kami sudah mengatakan sebelumnya bahwa misil itu akan berpotensi merusak keamanan Negara Israel. Kami sudah menjelaskan, kami lebih senang jika Rusia tidak memasok senjata itu," ujar Kerry, seperti ketika berkunjung ke Italia, seperti dikutip Associated Press, Jumat (10/5/2013).

Gedung Putih turut menghimbau Negeri Beruang Merah agar memutuskan pasokan senjata, termasuk di antaranya adalah sistem pertahanan misil ke Suriah. Menurutnya, senjata tambahan itu tidak akan mempercepat munculnya solusi politik.

Israel sebelumnya sudah meminta Rusia agar menunda penjualan itu. Selain bisa mengancam Israel, eksistensi perisai misil Rusia yang canggih itu juga bisa mempersulit AS menerapkan zona larangan terbang di Suriah. 

Sampai saat ini, Rusia pun jarang berkomentar mengenai transfer senjata untuk Suriah. Ketika Kerry berkunjung ke Moskow, Kerry tampaknya tidak membahas hal itu bersama Presiden Vladimir Putin.

Senjata yang akan dijual ke Suriah adalah sistem pertahanan misil S-300. Sebelum krisis Suriah berlangsung, Negeri Yahudi memang sudah mewanti-wanti pengiriman senjata tersebut.

Pada dasarnya, akuisisi S-300 hanya ditujukan untuk memperbaharui senjata pertahanan misil Suriah yang sudah usang. Namun proses transaksi itu semakin dikecam, terutama setelah jumlah korban yang tewas dalam perang saudara Suriah semakin meningkat. 

Suratkabar Wall Street Journal melaporkan, kontrak penjualan itu mencapai ratusan juta dolar AS. Suriah akan mendapatkan enam buah peluncur dan 144 misil yang siap dioperasikan. Persenjataan itu akan sampai ke Suriah dalam tiga bulan ke depan.


Monday, February 18, 2013

Revisi Sistem Pertahanan Rudal AS di Eropa

Peluncur rudal THAAD (Foto:Defense Update) 

(Artileri/IMP). Para ahli di Pentagon meragukan efektifitas dari sistem pertahanan rudal AS di Eropa, yang saat ini tengah disebarkan guna mengeliminasi ancaman potensial Iran. Para ahli yakin bahwa masih ada cara lain agar lebih efektif, walaupun harus merevisi rencana Obama tahun 2009 tentang penempatan sistem pertahanan rudal baik dari aspek teritorial, serta perkembangan ilmiah.

Badan Associated Press (AP) memperoleh akses ke briefing rahasia Government Accountability Office (GAO) dari Kongres AS. Badan itu mengatakan GAO menyatakan sikap skeptisnya terhadap rencana Pentagon untuk menyebarkan sistem pertahanan rudal di Eropa (EPAA), yang diadopsi dari rencana pemerintahan Obama pada tahun 2009.

Rencana Obama tersebut terdiri dari empat tahap. Yang pertama yaitu dengan menggunakan sistem kontrol informasi tempur multifungsi berbasis-laut Aegis di Laut Mediterania. Sistem ini dilengkapi radar dengan jangkauan hingga 400 kilometer (SPY-1) dan rudal pencegat SM-3 (Blok I). Sistem ini telah disebarkan, dan terkoneksi dengan radar sistem peringatan di Turki. Hal ini diungkapkan secara resmi saat KTT NATO di Chicago pada Mei 2012 lalu.

Tahap berikutnya, Washington bermaksud untuk menyebarkan interseptor di Rumania (Blok II A), dan kemudian di Polandia (Blok II B), sementara membangun kompleks sistem kontrol informasi Aegis di Laut Mediterania. Rudal SM-3, menurut perkiraan para ahli, tidak akan mampu mencapai Ruisa. Zona kehancuran rudal ini hanya 250 kilometer, namun, setelah 2018, sistem ini akan dimodifikasi sesuai dengan rencana (Blok II B). Zona kehancuran akan lebih jauh termasuk menjangkau rudal antara benua Topol dan rudal Sotka Rusia, yang saat ini dikerahkan Rusia di antara Moskow dan Ural.

Kritik dari Pentagon ditujukan pada tahap kedua dan tahap berikutnya. Ternyata Rumania bukanlah lokasi terbaik untuk penyebaran rudal pencegat AS. Akan lebih baik jika dipindahkan ke Laut Utara. Namun dalam kasus ini, sistem pertahanan rudal ini akan berada di potensi jalur pergerakan rudal antarbenua Rusia. Selain itu, rudal AS akan dapat menghancurkan alutsista Rusia sebelum mereka diluncurkan.

Sebuah sumber militer anonim mengatakan pada AP bahwa keputusan seperti itu akan menyebabkan protes diplomatik keras dari Moskow, menguatkan tuduhan Kremlin mengenai arah pertahanan rudal AS yang memang ditujukan kepada Ruisa. Apakah menjadi argumen yang baik bagi pemerintah AS untuk tidak mengikuti saran dari Pentagon? Rasanya tidak mungkin.

Adapun tahap ketiga dari rencana tersebut, Pentagon meyakini bahwa penyebaran rudal AS di Polandia akan efektif jika sistem tersebut dimodifikasi untuk mencegat rudal musuh saat fase awal peluncuran. Sementara itu, pengembangan sistem itu belum sampai kesana. Sumber lain mengatakan kepada AP bahwa pemerintah AS belum serius dalam menggarap pembuatan sistem pertahanan rudal tersebut. Dugaan lain mengatakan bahwa ide AS ini tidak layak diimplementasikan (kondisi sistem pertahanan rudal yang belum optimal). Namun hal ini bisa saja sebagai pernyataan untuk menipu Rusia.

Selain itu, harus dipahami bahwa rencana Obama untuk menciptakan sistem pertahanan rudal mobile (bergerak) banyak menerima kritik dari Partai republik - lawan politik di Kongres. Kritik itu sendiri bukan ditujukan untuk menolak dari penyebaran rudal. Banyak yang mendukung penyebaran rudal ini, sebagian mendukung untuk pencegahan dari "mitra" jauh yang agresif -China- dengan dalih melindungi sekutu -Jepang dan Korsel- dari rudal Korea Utara, yang mengumumkan telah menciptakan rudal jarak jauh pada akhir tahun lalu.

China juga sukses melakukan uji coba rudal balistik antarbenua Dongfeng-42 yang mampu mencapai setiap titik di Amerika Serikat. Steven Hildreth, seorang ahli pertahanan rudal dari Congressional Research Service mengatakan bahwa AS terfokus pada retorika Korea Utara. Menurut dia, fokus AS untuk Korea Utara tidak mungkin hanya ditujukan kepada Korea Utara semata namun ada "elephant in the room" yang tidak mungkin diabaikan oleh AS yaitu China. AS telah mengumumkan pembentukan sistem pertahanan rudal di kawasan Asia Pasifik.

Langkah-langkah yang diambil Rusia adalah penyebaran rudal nuklir taktis Iskander, peluncuran sistem radar Voronezh, yang memonitor hingga 50 target udara dengan jangkauan 6.000 kilometer, dan penyebaran sistem pertahanan rudal S-400

Kesimpulan Pentagon hampir identik dengan yang dibuat oleh Dewan Riset Nasional dari National Academy of Sciences Amerika Serikat (NRC) pada bulan September 2012.

Faktor yang paling penting ditujukan dalam kedua studi yang dibuat NRC ini adalah bahwa pertahanan rudal AS di Eropa tidak akan efektif jika masih memiliki masalah dengan sensor (sistem itu tidak dapat membedakan mana rudal musuh dan mana target palsu). Menurut pada ilmuwan, ada masalah pada Blok I. Misalnya radar SPY-1 Aegis yang tidak memenuhi persyaratan kebutuhan obyektif dari EPAA, sedang radar TPY-2 berbasis-darat yang dikerahkan di Turki telah ditempatkan di lokasi yang salah, harus dua kali lebih besar dan harus dipasang pada platform turntable agar dapat memantau lebih dari satu arah.

NRC juga mendesak AS untuk menolak pelaksanaan tahap keempat dari pertahanan rudal AS, yang tujuan sebelumnya adalah untuk mencegat rudal jarak jauh Iran (yang saat ini belum ada). Untuk mengatasi hal ini, dianjurkan untuk menggunakan pencegat THAAD yang ada, dan lokasi baru untuk penyebaran mereka adalah di Pantai Timur, seperti Fort Rum (New York), atau di negara bagian Maine. Yang perlu diperhatikan, rencana keuangan Pentagon untuk 2013 meliputi pembangunan pangkalan ketiga rudal pencegat di Pantai Timur dan perluasan pangkalan di Alaska dan California. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika telah bergerak ke arah yang disarankan.

Moskow bisa bernafas lega sekarang? Di satu sisi, hal itu bisa saja. Namun apapun bisa terjadi sebelum 2018. Sementara itu, langkah-langkah yang diambil Rusia adalah penyebaran rudal nuklir taktis Iskander, peluncuran sistem radar Voronezh, yang memonitor hingga 50 target udara dengan jangkauan 6.000 kilometer, dan penyebaran sistem pertahanan rudal S-400, semua akan memberikan jaminan bagi Rusia dari ancaman AS atau NATO.


(Artileri)

Brasil Beli Sistem Pertahanan Udara Terbaik Rusia


(Artileri/IMP). Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Brasil, Jenderal Jose Carlos de Nardi, mengungkapkan bahwa Brasil akan membeli sistem pertahanan udara portabel Igla (Needle) dan sistem pertahanan udara Panzer-C1 dari Rusia. Tidak hanya itu, Brasil juga akan memperoleh transfer teknologi dan hak untuk membangun pabrik perakitannya di negara mereka sendiri. Hal ini sangat memungkinkan, bahwa Federasi Rusia akan ambil bagian dalam skema organisasi baru yang fundamental untuk sistem pertahanan udara Brasil.

Presiden Vladimir Putin mengatakan pada pertemuan komisi untuk kerjasama militer-teknis Rusia, yang diselenggarakan pada bulan Desember 2012, bahwa salah satu acuan penting untuk meningkatkan ekspor senjata Rusia adalah melalui penelitian bersama, pengembangan dan produksi produk militer. Dia juga mengatakan bahwa perhatian khusus akan ditujukan pada kerjasama dengan negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India dan China).

Rusia telah membuat terobosan besar dalam hubungannya dengan Brasil. Pada bulan Desember 2012, setelah Presiden Brazil Dilma Rousseff mengadakan kunjungan ke Rusia, perusahaan Rusia Russian Technologies dan Odebrecht Defesa e Technologia dari Brasil menandatangani dua perjanjian besar. Perjanjian itu tentang pembentukan perusahaan patungan yang akan merakit helikopter multiguna Mi-171 dan layanan armada tempur helikopter Mi-35M (12 helikopter diakuisisi Brasil). Dan pada bulan Januari, rombongan delegasi Brasil berkunjung ke Rusia untuk membicarakan pembelian sistem pertahanan udara Rusia.

Jenderal Jose Carlos de Nardi, memimpin delegasi tersebut. Ia didampingi oleh para ahli dari Odebrecht Defesa (memproduksi rudal Mectron), Embraer Defesa (memproduksi radar Orbisat) dan Avibrás (memproduksi rudal Astros dan sistem anti-pesawat).

Jenderal Jose Carlos menyatakan bahwa para pihak yang bekerja untuk kontrak akan membeli dua baterai portabel sistem rudal anti-pesawat Igla dan tiga baterai dari sistem pertahanan udara Panzer-C1. Dalam kontrak disyaratkan transfer teknologi sehingga perangkat keras dapat dirakit sendiri oleh Brasil. Kontrak bernilai lebih dari satu miliar dolar AS. Menurut surat kabar Folha de São Paulo, kontrak akan ditandatangani saat kunjungan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev ke Brasil pada akhir Februari nanti. Surat kabar Brasil menulis bahwa udara dan sistem pertahanan rudal adalah jalur terlemah dalam pertahanan negara Brasil. Surat kabar itu juga menyebutkan sistem pertahanan rudal dan sistem anti-pesawat Rusia adalah "senjata paling modern dan efisien di dunia."

"Kesepakatan pada transfer teknologi untuk langkah perakitan selanjutnya merupakan kesepakatan yang saling menguntungkan. Segera setelah Brazil mendapatkan kesempatan untuk memproduksi sistem Panzer berlisensi, Brasil tidak akan lagi perlu untuk mengumumkan tender internasional guna membeli sistem pertahanan udara. Perangkat keras yang akan dirakit di wilayah Brasil akan menjadi milik Brasil," kata seorang sumber di koran Kommersant. "Situasi di pasar senjata sekarang berbeda dengan masa lalu, banyak negara yang hanya bersedia membeli jika ada transfer teknologi atau usaha patungan. Kita tidak bisa menutup mata terhadap hal ini," tambah sumber tersebut.

Perlu dicatat bahwa kerjasama Rusia dengan Brasil memiliki masa depan, karena ini juga tentang penciptaan struktur organisasi fundamental baru udara Brasil dan pertahanan ruang dengan partisipasi Rusia. Biro desain Rusia Almaz-Antey telah menyiapkan presentasi untuk Brasil. Menurut proyek, Brasil harus dibagi menjadi 5 kelompok sistem pertahanan udara eselon dengan hanya menggunakan senjata Rusia. Itu tentang penciptaan sistem tiga eselon tinggi, menengah dan rudal jarak pendek, yang diwakili oleh kompleks rudal S-300 dan modifikasi Buk dan sistem Tor.

Pertanyaannya adalah apakah Brasil memiliki uang untuk itu, wartawan surat kabar Folha bertanya-tanya. Sebelum kunjungannya ke Moskow, Dilma Rousseff mengunjungi Paris, di mana dia mengumumkan membatalkan tender 5 miliar dolar untuk pembelian 36 pesawat tempur Dassault Rafale. Bagi Rusia, itu lebih dari sebuah keputusan yang menguntungkan, mengingat bahwa perusahaan-perusahaan Rusia tidak berpartisipasi dalam tender. Sekarang, mengingat fakta bahwa Rusia telah memutuskan untuk mentransfer teknologi kepada Brasil, ini akan membuka peluang baru bagi Su-35 Super Flanker untuk ditenderkan, itupun jika Brasil memang tetap berminat menambah jet tempurnya.

Adapun mengenai harga sistem pertahanan udara baru yang akan dibeli Brasil ini, jelas bukan barang yang murah mengingat keunggulan tak terbantahkan dari sistem pertahanan rudal dan anti-pesawat Rusia. Seperti ucapan co-pendiri Air Power Australia, Dr. Carlo Kopp mengatakan bahwa pesawat tempur AS F-15, F-16 dan F/A-18, serta F-35 Joint Strike Fighter yang dinilai "menjanjikan", tidak akan memiliki kesempatan untuk bertahan hidup dalam perjuangannya menghadapi sistem pertahanan udara Rusia.

"Sulit untuk mengatakan bagaimana unsur sistem pertahanan udara Rusia memberi mereka keunggulan yang besar, karena kebanyakan dari mereka bekerja di kompleks rudal jarak jauh 48N6E2/E3 dan 40N6, serta radar baru dengan phased array high RF Power. Sangat berbahaya, "kata Kopp dalam sebuah wawancara dengan Lenta.ru.

"Sistem anti-pesawat self-propelled baru, seperti Triumph, Antey-2500, sistem radar untuk melindungi dari rudal anti-radar dan bom pandu (guided), sistem roket dan rudal Including-gun Tor-M2e dan Panzer-C1 juga menjadi penghalang serius bagi musuh untuk menekan melalui udara," kata Kopp. Bukan sesuatu yang kebetulan jika banyak negara (China, Iran, India, Suriah, Irak) ingin membeli sistem pertahanan udara Rusia.

Brazil dan Rusia melakukan kerjasama militer dan teknis berdasarkan perjanjian antar pemerintah sejak tahun 2008. Menurut Russian Technologies, selama 2008-2012, pengiriman senjata Rusia ke Brazil telah mencapai 306,7 juta dolar AS.


(Artileri)

Friday, February 15, 2013

Rusia Hibahkan Peluru Kendali kepada Suriah


(IMP) -- Suriah dikabarkan menerima sistem pertahanan udara, yakni peluru kendali antipesawat dan Panzer-C1 pada awal tahun ini.

Kabar itu dibocorkan salah seorang sumber militer Rusia. Ia mengatakan sistem pertahanan udara yang diberikan Rusia sesuai dengan kontrak yang ditandatangani antara kedua negara. Sistem pertahanan udara itu dikirim ke Suriah melalui laut.

Anatoly Isaykin, Direktur Kantor Rosoboronexport Rusia, menekankan kerja sama teknik militer dengan Suriah tersebut dilakukan berdasarkan hukum internasional, yang mengindikasikan negaranya mengekspor sistem pertahanan udara ke Suriah sesuai dengan kontrak yang ditandatangani.

Sistem pertahanan udara Panzer-C1 sangat akurat dan bisa menargetkan semua serangan udara saat ini dan masa depan serta tersedia dengan ketinggian 20 kilo meter.

Kecepatan setiap rudal mencapai 1300 meter per detik, karenanya sistem memungkinkan untuk mennyerang empat target sekaligus.

Sistem persenjataan itu juga bisa mencapai target darat dan laut, serta mengarahkan tembakannya dari situs bergerak dan tertentu.


(Republika/Antara)

Wednesday, January 23, 2013

ANALISIS NEXT WEAPON;

TUNGUSKA OR PANTSYR...???


Pantsir-S short-range air defense system


TNI AD tidak mau tanggung-tanggung dalam memodernisasi persenjataan mereka. Rencana Pembelian 8 unit AH 64 D Apache Longbow semakin mendekati kenyataan setelah kongres AS memberikan lampu hijau untuk menjual helikopter itu kepada Indonesia.

JKGR-(IDB) : Kementerian Pertahanan akan tetap membeli helikopter Apache dari Amerika Serikat. Harga yang mahal tidak menyurutkan niat pemerintah. “Harganya memang sangat mahal, kami harus mempertimbangkan kekuatan anggaran,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Mayor Jenderal Ediwan Prabowo kepada Tempo, Rabu, 9 Januari 2013. …”Congress notification sudah kami terima, kini tinggal tunggu persetujuan DPR kita,” kata Ediwan.


HELLFIRE
Rudal HELLFIRE AGM-114R3


Pembelian 8 unit AH 64 D Apache Longbow juga meliputi persenjataan mutakhir milik Amerika Serikat, yakni 32 launcher misil M299A1 HELLFIRE serta 140 rudal HELLFIRE AGM-114R3.

Apache Longbow Enhancements:
Longer-range weapons accuracy and all-weather/night fighting, Detection of objects (moving or stationary) without being detected, Classification and threat-prioritization of up to 128 targets in less than a minute.
Integrated sensors, networking, and digital communications for situational awareness, management of the combat arena in real time, and digital transmission of images and target locations to joint operations battlefield commanders.

Sejumlah peralatan pendukung untuk helikopter Apache ini juga diborong Indonesia termasuk:
" 19 T-700-GE-701D Engines (16 installed and 3 spares), 9 Modernized Target Acquisition and Designation Sight/Modernized Pilot Night Vision Sensors, 4 AN/APG-78 Fire Control Radars (FCR) with Radar Electronics Units (Longbow Component), 4 AN/APR-48A Radar Frequency Interferometers, 10 AAR-57(V) 3/5 Common Missile Warning Systems (CMWS) with 5 th Sensor and Improved Countermeasure Dispenser, 10 AN/AVR-2B Laser Detecting Sets, 10 AN/APR-39A(V)4 Radar Signal Detecting Sets, 24 Integrated Helmet and Display Sight Systems (IHDSS-21) ".


Mi-35 P 

Mi-35 TNI AD


Selain AH 64 D Apache Longbow, TNI AD juga telah memiliki Letayushiy tank atau tank terbang, Mi-35P (Mil Mi-24 (NATO: Hind).

Menurut Jane’s Defence, Mil Mi-35P memiliki kesamaan fungsi dengan jenis helikopter AH-1 Cobra, UH-60 Black Hawk, AH-64 Apache, A129 Mangusta dan Kamov Ka-52 Alligator.

Mi-35P merupakan helikopter bermesin ganda yang ditujukan untuk memberikan dukungan bagi tentara darat dari jarak dekat, menghancurkan kendaraan lapis baja serta sebagai alat transportasi pasukan atau barang; artinya helikopter ini merupakan alat tempur pasukan infantri yang terbang.

Kinerja
Laju maksimum: 335 km/h (208 mph)
Jarak jangkau: 450 km
Batas tertinggi servis: 4.500 m
Persenjataan
12,7 mm YaKB-12.7 Yakushev-Borzov multi-barrel machinegun
1500 kg bom
4× Peluru kendali anti tank (AT-9 Spiral-2) alias 9M120 Ataka.
4× 57 mm S-5 rocket pod atau 4× 80 mm S-8 rocket pod
2× 23 mm meriam dua laras atau
4× tangki bahan bakar eksterna
Sebagai rudal anti tank, jangkauan AT-9 cukup jauh, bisa mencapai 6 – 8 Km dengan kecepatan luncur 550 meter per detik. Rusia sangat mengandalkan AT-9 sebagai pilihan alutsista mereka. Selain dirancang untuk diluncurkan dari heli Mi-35/Mi-24, heli tempur kelas berat Mi-28 Havoc juga mengandalkan AT-9 untuk menghancurkan tank musuh.
AH 64 D Apache dan Mi35P


AH 64 D Apache Longbow


Helikopter serbu tetap saja memiliki kelemahan dalam medan pertempuran. AH-64 Apache hanya bisa terbang selama 3 jam 9 menit, dan harus turun / menarik diri dari medan pertempuran, untuk pengisian ulang bahan bakar. Karena keterbatasan itu, maka helikopter serbu disebut sebagai alutsista bantuan bagi pertempuran/ serangan darat.

Heli Apache AH 64 maupun Mi35P lebih ditujukan sebagai fungsi Attack (bantuan), menetralisir sasaran yang sulit dituntaskan oleh pasukan darat.

Lalu unit mana yang mengisi posisi defence/ pertahanan, embeded dengan pasukan kavaleri, jika MBT Leopard 2 dan IFV Marder bergerak di medan pertempuran. Begitu pula dengan perlindungan terhadap MLRS Astros II dan Meriam Caesar 155mm yang baru dibeli.
Yom Kippur 1973


Perang Yom Kippur 1973


Peperangan Yom Kippur antara Israel dan Mesir bisa memberi gambaran betapa pentingnya rudal pertahanan bagi satuan lapis baja.

Pagi 6 Oktober 1973, setelah Brigade lapis baja Mesir berhasil menyeberangi Terusan Suez dan menyapu pasukan Israel di pos terdepan, Angkatan Udara Israel langsung mengudara memburu satuan lapis baja Mesir. 

Mereka tidak sadar rudal anti-udara Mesir sudah menunggu di belakang satuan Lapis baja. Ratusan pesawat Israel yang melakukan penyerbuan rontok dimakan SAM Mesir.

Kesalahan Mesir adalah, payung udara ini tidak terus bergerak bersama dengan satuan lapis baja yang terus melaju ke depan. Akhirnya Israel menemukan celah untuk melakukan serangan balik, mengisolasi satuan lapis baja yang sudah menyeberangi terusan Suez dan melakukan penghancuran.

Tunguska Atau Pantsyr


Tunguska M1


TNI AD pun mulai mencari sistem persenjataan anti-udara yang bisa melindungi kendaraan lapis baja saat bergerak di medan pertempuran. Untuk itu Tunguska M1 Anti-Aircraft System milik Rusia (NATO SA-19 Grison) mulai dilirik.

Tunguska M1 merupakan sistem senjata dan rudal, untuk pertahanan udara low level, baik untuk pesawat terbang, helikopter maupaun sasaran darat. Kelebihannya, persenjataan ini bisa membidik targetnya baik dalam keadaan diam maupun saat bergerak, dilengkapi rudal jarak jauh serta senjata mesin, untuk pertahanan jarak dekat. Tunguska sudah digunakan Angkatan darat Rusia sejak tahun 1998 dan telah diekspor ke Jerman, India, Peru, Maroko dan Ukraina.

Dengan kecepatan maksimum 900 meter/second, rudal ini mampu membidik sasaran darat 15 meter hingga 6 km untuk sasaran darat dan 6 hingga 15 km untuk sasaran udara. Tunguska juga dilengkapi dengan dua twin-barrel 30mm anti-aircraft guns yang bisa menyemburkan peluru 5000 butir per menit dengan jarak 3 km untuk sasaran udara. Untuk sasaran udara bisa mencapai 4 km.

Radar Tunguska mampu menjejak musuh dikejauhan 18 km dan mulai bisa tracking di jarak 16 km.
Pantsyr S1 


Pantsyr S-1 (tracked)


Pilihan lainnya adalah senjata sistem pertahanan udara jarak dekat Pantsyr-S 1 (SA-22 Greyhound). Senjata ini lebih maut untuk menangkis berbagai jenis senjata: pesawat tempur, helikopter, roket, peluru kendali, precision-guided munition hingga unmanned air vehicles. Pantsyr juga bisa menghantam light-armoured ground targets.

Produsen pantsyr S1 sama dengan Tunguska M1, didisain oleh KBP Instrument Design Bureau, di Tula dan dirakit oleh Ulyanovsk Mechanical Plant, Ulyanovsk, Rusia. Pantsyr diyakini lebih akurat dibandingkan Tunguska M1, karenasistemnya pun lebih baru. Sistem pertahanan dan persenjataannya dapat diaktifkan dalam beberapa mode frekuensi dan beroperasi pada multimode adaptive radar-optical control system.

Pantsyr didisain untuk menghadapi semua tipe target, khususnya high-precision weapons. Pantsyr ini dioperasikan oleh Uni Emirate Arab sejak tahun 2007. Suriah menerima sekitar 50 pantsyr pada tahun 2008. Jordiania juga memesannya dengan jumlah yang dirahasiakan.
Pantsyr S1 surface-to-air missiles

Pantysr S1


Pantsyr-S1 mengusung 12 rudal 57E6 permukaan-ke-udara dengan hulu ledak 16 kg. Rudal ini memiliki berat 65kg dan memiliki kecepatan maksimum 1,1 km/ detik dengan daya jangkau 1 hingga 12 km.

Dua senjata 2A72 30mm dilengkapi dengan 750 putaran dari berbagai amunisi (HE (high-explosive) fragmentation, fragmentation tracer and armour-piercing with tracer). Menyemburkan 700 putaran/ menit dengan jarak hingga 4 km.

Jarak deteksi sasaran 30 km dan tracking 30km. Air defence system ini mampu menjejak benda sebesar 2cm² hingga 3cm² untuk target sejauh 24 km. Radar Pantsyr dapat menjejak rudal yang sedang dalam perjalannaya menuju sasaran.

Rudal ini dipasang di truk The Ural-5323 truck 8×8 atau di kendaraan lapis baja (tracked).

Pantysr Chasis Ural Truck 8×8


Ada baiknya yang dipilih adalah Pantsyr yang menggunakan platform tank (roda rantai/ tracked) agar bisa mengikuti pergerakan MBT Leopard/ IFV Marder serta lapis baja kavaleri lainnya.

Kasus perang Yom Kippur 1973 menunjukkan, satuan pertahanan udara Mesir tidak bisa mengikuti kecepatan pergerakan lapis baja, menyebabkan payung udara bagi lapis baja bolong dan berhasil dimanfaatkan Israel.

Jika ke depan TNI jadi membeli sistem persenjataan pertahanan udara jarak jauh seperti S-400 atau S-300 maka Pantsyr juga bisa melindungi S 300 tersebut.

Membeli Pantsyr dan S-300 adalah harga yang terlalu murah untuk melindungi ratusan juta penduduk Indonesia serta menjaga wilayah Indonesia yang sangat luas dari Sabang sampai Merauke beserta kekayaannya yang melimpah.

Hal itu pula yang diyakini oleh Vietnam. Meski ekonomi mereka relatif lebih lemah dari Indonesia, namun untuk urusan menjaga tanah air dan rakyatnya, Alutsista nomer 1 yang mereka beli, seperti 6 KS Kilo, Frigate Gepard Class Rusia, serta 40 Rudal Pertahanan pantai Bastion-P Yakhont (SS-N-26) anti-ship missiles 


Sumber : JKGR
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...