Showing posts with label Sepakbola Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Sepakbola Indonesia. Show all posts

Thursday, January 10, 2013

Kejahatan Sepak Bola Indonesia?

Ilustrasi


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh, Abdullah Sammy, Wartawan Republika 

(Catatan Sepak Bola Indonesia)

Saya ingin membuka tulisan ini dengan membahas film produksi Columbia Pictures berjudul Identity. Film ini awalnya mengisahkan 10 orang yang berada dalam satu motel di pinggiran Nevada, Las Vegas.

Kesepuluh orang itu adalah seorang ibu, ayah, anak, artis, wanita penghibur, wanita muda, penjaga hotel, polisi, pelaku kriminal, dan pemeran utama yakni seorang sopir yang diperankan oleh John Cusack. 

Singkat cerita, satu per-satu sosok perlahan terbunuh. Sontak, film ini mengajak penonton menebak-nebak siapakah penjahat utama dari kesepuluh tokoh ini? Jawaban dari pertanyaan ini semakin mengerucut ketika satu per-satu dari 10 tokoh mati. 

Si ibu mati, begitu pun artis, ayah, sang wanita penghibur, penjaga hotel, dan pelaku kejahatan yang seluruhnya tewas. Tinggal tersisa seorang anak, wanita muda, polisi, dan si sopir. 

Sosok penjahat di film ini menampakkan titik terang ketika kedok polisi terbongkar. Sosok polisi di film itu ternyata adalah polisi gadungan. Dia sejatinya adalah penjahat yang kabur dari penahanan.

***

Penggalan kisah film yang mendorong penonton berpraduga itu mirip dengan cerita sepak bola Indonesia saat ini. Tingkah polah pelaku sepak bola nasional membuat masyarakat jadi bertanya-tanya.

Siapakah pelaku kejahatan utama di sepak bola Indonesia? Siapa yang merusak, siapa pula yang mau menyelamatkan nasib sepak bola?

Seperti di film, jangan dahulu mengira tampilan atau penamaan sesuai dengan kenyataan. Jangan buru-buru menebak kalau Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) punya peran yang sesuai dengan namanya. 

Jangan pula buru-buru yakin kalau Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia memiliki misi untuk bersatu. Daripada menebak-nebak, lebih baik cermati seluruh tindakan yang telah dilakukan PSSI dan KPSI selama ini. 

Sejak awal PSSI pimpinan Djohar Arifin terbentuk, La Nyalla Mattalitti yang saat itu menjadi anggota Komite Eksekutif, sudah memperlihatkan sikap memberontak. Jauh sebelum mencuatnya polemik kompetisi, La Nyalla Mattalitti (kini Ketua KPSI) sudah bersuara keras soal keinginannya memasukkan eks pengurus PSSI era Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie ke dalam formatur PSSI Djohar Arifin Husin. 

Keinginan ditolak. La Nyalla makin berontak

Sikap perlawanan makin berkobar ketika PSSI memutuskan merombak kompetisi dengan menambah peserta dari beberapa eks tim Liga Premier Indonesia (LPI). September 2011, La Nyalla sempat berujar bahwa seluruh anggota PSSI, termasuk dirinya, harus mundur karena tidak memegang amanah.

La Nyalla pun berujar bahwa penentuan sistem kompetisi ditetapkan tanpa sepengetahuan dirinya sebagai anggota Komite Eksekutif. Kredibilitas pernyataan La Nyalla saat itu dibantah langsung oleh Toni Apriliani yang kini menjadi sekutunya di KPSI. "Kita sudah nunggu dia yang keluar rapat. Kita juga sudah telepon dia,” kata Toni kepada wartawan pada 25 September 2011.

Sekalipun pernah mengaku dirinya dan seluruh anggota PSSI tidak amanah, La Nyalla justru kini percaya diri saat duduk di kursi Ketua Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia. Bahkan secara sepihak dia mengklaim sebagai Ketua PSSI yang sah.

Lantas, apakah benar KPSI hendak menyelamatkan sepak bola? Saya kira ada benarnya. KPSI menyelamatkan kepentingannya. 

Tengok saja, aksi membentuk timnas tandingan. Walau FIFA, AFC, dan AFF sejak awal menegaskan bahwa tim Indonesia harus berada di bawah payung PSSI, mereka memilih bergeming pada sikapnya. Bahkan permintaan pelatih Nil Maizar untuk memanggil pemain, diabaikan KPSI. 

Pengabaian hanya karena satu alasan; "Sepak bola Indonesia yang sah, adalah sepak bola yang timnasnya berada di bawah kepengelolaan KPSI," Begitu alasan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia. Jadi jika tidak ada KPSI, maka tidak ada istilah Indonesia. Seperti itu logika yang bisa dipetik.

Lantas bagaimana dengan PSSI Djohar Arifin, apakah mereka berada di pihak perusak atau penyelamat? Untuk menilainya, tidak perlu mendengar kata pembelaan dari pengurus PSSI. Cukup tengok, apa yang telah mereka perbuat selama setahun lebih menjabat.

Fakta membuktikan, di era Djohar Arifin-lah sepak bola Indonesia mencatat rekor terburuk sepanjang sejarah, yakni kekalahan telak 0-10 dari Bahrain! Mau ada sejuta kata pembelaan, rekor 0-10 tidak akan terhapus dan terbatahkan. Kekalahan di Sea Games dan Piala AFF menjadi satu fakta tersendiri yang bukan hanya milik Djohar Arifin, namun juga para pendahulunya. 

Kekalahan memang tidak semata bisa ditimpakan pada PSSI Djohar Arifin semata. Sebaliknya, mayoritas pengurus di KPSI sudah lebih dulu matang dan kaya oleh kekalahan. 

Sebagai catatan, selama hitungan tahun rezim pengurus PSSI Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie berkuasa, kekalahan timnas selalu jadi hasilnya. Mau 0-1, 0-2, 1-7, atau 0-10, kekalahan tetap kekalahan. titik.

***

Lantas menakah letak kejahatan sepak bola Indonesia sebenarnya? Di PSSI atau KPSI? 

Selagi anda berpikir, ada baiknya menengok akhir jalan cerita Identity. Dari empat orang yang di duga menjadi pelaku kejahatan pembunuhan, ternyata semua dugaan itu mentah. Karena sejatinya, tidak ada kisah pembunuhan di sebuah motel di kota Nevada. Tidak ada pula sosok 10 tokoh yang terlibat konflik.

Segala kisah itu hanya bayangan di dalam diri seorang pria psikopat bernama Malcolm Rivers yang sedang diintrogasi oleh psikolog dan polisi. Sosok seorang ibu, ayah, anak, artis, wanita penghibur, wanita muda, penjaga hotel, polisi, pelaku kejahatan, dan sopir, menjadi 10 kepribadian yang bersemayam dalam diri Rivers.

Kepribadian itu yang satu persatu coba disembuhkan Rivers ketika berkonsultasi dengan psikolog. Dari empat pribadi yang tersisa itu, Rivers sukses mengubur kepribadiannya sebagai seorang penjahat (polisi gadungan) maupun pribadinya sebagai seorang sopir. 

Walhasil yang tersisa adalah pribadi Malcom Rivers yang feminim laiknya sang wanita muda. Di akhir cerita, misteri pun terungkap. Sosok wanita feminim di tubuh Malcom juga terbunuh oleh sosok anak kecil lugu. 

Dan ternyata, keperibadian paling jahat dari 10 sosok di diri Malcom Rivers adalah pribadi sang anak kecil yang lugu. Pribadi anak yang ternyata memiliki kecenderungan untuk menghabisi nyawa orang lain secara brutal!

Kisah Identity punya nafas cerita yang mirip dengan kisah sepak bola Indonesia. Karena sejatinya, permasalahan sepak bola Indonesia ada di dalam diri organisasi PSSI dan KPSI sendiri.

Permasalahan yang tercermin dari hak pemain yang diabaikan. Permasalahan yang tercermin dari krisis prestasi yang ditorehkan. Permasalahan yang terjadi karena buruknya kinerja perangkat pertandingan. Semua masalah ini terjadi di PSSI maupun KPSI! 

Lantas jika mau berujar penyelamat, lebih baik lakukan dahulu pembayaran hak kepada pesepak bola, lakukan dulu pembenahan kualitas liga, dan lakukanlah pemberantasan terhadap praktik mafia. Karena di situlah letak kejahatan di sepak bola Indonesia sesungguhnya. 


(twitter: @Sammy_Republika)

Friday, January 4, 2013

Inilah Putra NTB di Juventus dan Timnas Italia


Twitter
Emil Audero (atas paling kiri) Bersama Timnas Italia


REPUBLIKA.CO.ID,TURIN -- Namanya Emil Audero Mulyadi. Pria kelahiran Mataram NTB 15 tahun yang lalu itu adalah penjaga gawang muda yang memperkuat klub raksasa Italia, Juventus. 

Sekitar tiga tahun yang lalu, Emil masih bermukim di Indonesia. Ayahnyz pun hingga kini masih menyamdang status WNI. Dua tahun yang lalu, Emil memutuskan mengasah karier sebagai pesepak bola di tanah kelahiran sang ibu, Italia.

Keputusan Emil terbukti tepat. Hanya beberapa bulan setelah berkarier di Italia, dia direkrut Juventus. Tidak hanya itu, Emil pun menjelma menjadi pemain utama di tim Juventus U-17.

Gemilangnya penampilan kiper bertinggi badan 188 sentimeter ini langsung tercium ke seantero Italia. Namanya pun dipilih masuk memperkuat timnas Italua U-17. Hingga kini Emil yang lahir di NTB menjadi pilihan utama timnas Italia U-17.

Prospek karier Emil di Juventus pun cerah. Ini terbukti dengan keputusan pelatih Antonio Conte memanggilnya berlatih dengan tim utama si Nyonya Tua pada Januari ini.


(Republika)

Tuesday, January 1, 2013

Jack Brown, Pengibar Merah Putih di Old Trafford

Yang Membanggakan Anak Bangsa

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOJack Alan Brown, bocah 11 tahun berdarah Indonesia - Inggris yang meraih penghargaan juara World Skills Final 2012 MU Soccer Schools saat wawancara di Jakarta, Senin (31/12/2012). World Skills Final 2012 MU Soccer Schools diikuti sekitar 30 anak berumur antara 10 sampai 16 tahun dari 25 negara.


JAKARTA, KOMPAS.com. Satu lagi putra terbaik bangsa menyabet prestasi membanggakan dalam bidang sepak bola di kancah dunia. Adalah Jack Brown, seorang anak berusia 11 tahun keturunan Indonesia-Inggris yang baru saja menyabet gelar penghargaan "The World Final Skill Test 2012 MU Soccer School" sebagai siswa terbaik di Akademi Setan Merah tersebut.

Meski usianya relatif terbilang muda, Jack mampu membuat para juri dan konsestan lain terkesan dengan kemampuannya mengolah bola saat mengikuti kejuaraan MUSS di Old Trafford, Manchester. Di stadion kebesaran kota Manchester itu, ia berhasil menjadi yang terbaik dengan menyisihkan 30 anak pemenang dari babak kualifikasi yang digelar di 25 negara. 

Awal keikutsertaan Jack bermula ketika kedua orangtuanya, Indah Brown dan Lance Brown mengikutsertakannya dan sang kakak, George Brown, di summer camp MUSS Singapore pada Juli 2012. Pemusatan latihan akademi itu sendiri sempat diadakan di Senayan, Jakarta, dengan jumlah peserta mencapai 250 anak yang berusia antara enam tahun sampai 16 tahun.

Di Jakarta, Jack mendapat poin 600, yang merupakan ranking tertinggi dalam ajang tersebut. Walhasil, ia pun langsung menuju Old Trafford untuk mengikuti babak final dan tidak perlu mengikuti babak penyisihan di Singapura bersama enam pemenang dari Jakarta lainnya.

Salah satu hal menarik ketika Jack dinobatkan sebagai pemenang penghargaan tersebut adalah ketika dia ditanya mengenai asalnya oleh pelatih MU, Sir Alex Ferguson. Dengan polos, penggemar Wayne Rooney itu pun mengatakan, bahwa dirinya berasal dari Indonesia. 

"Itu dia ucapkan di depan 30 konsestan lainnya. Saat menerima piala, pembawa acara kemudian menyebut bahwa pemenang The World Final Skill Test 2012 MU Soccer School adalah Jack yang berasal dari Indonesia. Sekitar 70 ribu penonton yang berada di Old Trafford pun langsung bersorak. Ini sangat membanggakan bagi kami," ujar Indah Brown saat berbicang dengan Kompas.com di Jakarta, Senin (31/12/2012).

Seolah, Merah Putih pun berkibar di Old Trafford. Dan, sang pengibar itu adalah bcah 11 tahun bernama Jack Brown tersebut.

Bakat bola
Lahir di Jakarta, 2 November 2001, sepak bola telah lekat dalam kehidupan Jack sejak kecil. Ia memulai karier sepak bolanya pada usia enam tahun saat didaftarkan kedua orangtuanya ke Akademi Sepak Bola Arsenal dan MU di Dubai. Di kedua akademi tersebut, pemain yang berposisi sebagai striker ini berlatih selama enam hari dalam seminggu untuk mengasah kemampuannya. 

Selain di akademi sepak bola, Jack juga sering menyempatkan berlatih di halaman rumahnya bersama sang kakak. Tak jarang juga, ia menggunakan waktu luangnya untuk membaca sejumlah koleksi buku autobiografi para penggawa Setan Merah yang dibelikan oleh kedua orang tuanya. 

"Aku sudah selesai membawa buku Wayne Rooney dan Paul Scholes. Aku punya juga buku Ryan Giggs, tetapi belum sempat aku baca," ujar Jack.

Atas usahanya menekuni sepak bola, karier sepak bola Jack pun bisa terbilang istimewa. Ia dua terpilih sebagai Best Player of the Year of Sony Turnament 2010 dan 2012 lalu Dubai English Speaking School Tournament 2011 dan 2012. Selain itu, ia juga didaulat menjadi The Best Midfielder 2012 di IFA Tournamen. 

Jack mengaku, sangat senang bisa meraih sejumlah prestasi tersebut. Apalagi, ia bisa bersalaman dengan Ferguson dan sejumlah pemain inti MU, termasuk Rooney yang menjadi idolanya. "Ini adalah momen terbaik dalam hidupku. Aku sangat senang sekali bertemu dan bersalaman dengan mereka," katanya. 

Di kejuaraan itu, Jack mengalahkan pesaingnya yang usianya rata-rata lebih tua. Bahkan, ia berhasil mengalahkan wakil dari Inggris, Alex, yang merupakan juara bertahan The World Final Skill Test MU Soccer School. "Jack menang tahun dengan dengan skor tertinggi selama tiga tahun terakhir. Dulu David Beckham juga ikut kejuaraan ini saat usianya 10 tahun dan hanya mendapatkan juara tiga," tambah sang ibunda, Indah.

Indonesia
Saat ini, Jack memang sedang diproyeksikan menjadi pemain sepak bola handal oleh kedua orang tuanya. Meski bercita-cita untuk menjadi bagian dari skuad MU dan Inggris, Jack tidak memungkiri suatu saat nanti dirinya juga akan bisa membela tim nasional Indonesia. 

"Insya Allah, aku harap bisa begitu (membela timnas Indonesia)," kata Jack yang cukup fasih berbahasa Indonesia ini. 


Jack sendiri mengetahui sejumlah pemain anyar skuad Garuda seperti Andik Vermansah, Irfan Bachdim, Cristian Gonzales, dan Markus Horizon. Ia mengaku beberapa kali melihat pemain nasional idolanya tersebut saat bertanding membela nama Indonesia dalam sejumlah turnamen Asia di televisi. 

Setelah lulus sekolah tingkat dasar, Jack sendiri berencana akan melanjutkan pendidikannya di Inggris karena mendapat beasiswa dari sekolahnya di Dubai. Di negeri sepak bola tertua itu, penggemar Rooney tersebut berencana akan kembali masuk ke akademi sepak bola untuk mengasah kemampuannya demi mencapai cita-citanya tersebut. 


Biodata Jack
Nama Lengkap: Jack Alan Brown.
Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 2 November 2001
Orang Tua: Lance Brownd dan Indah Brown.
Kakak: George Brown.
Hobi: Sepak bola, rugby, renang. 
Sekolah: Jumeirah Primary School (Tingkat 6)
Prestasi: The World Final Skill Test MU Soccer School 2012, Football Tournament Dubai English Speaking School (2011 dan 2011), Best Player of the Year of Sony Turnament (2010 dan 2012), The Best Midfielder IFA Tournamen (2011).


(Source: Kompas)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...