Monday, July 21, 2014

Hamas Lumpuhkan 11 Tentara Israel dalam 24 Jam

Brigade Ezzedine al-Qassam, Hamas (Photo: Marco Longari)

Gaza, (IMP) -- Kelompok Hamas Palestina terus menghadang agresi militer Israel di Gaza. Pertempuran darat di wilayah tersebut semakin sengit.

Pasukan sayap bersenjata Hamas, al-Qassam Brigades menyatakan pihaknya berhasil menumpas 11 tentara Israel lewat 4 “Operasi Spesial” selama 24 jam.

“Pasukan khusus kami berhasil menyusup melalui terowongan ke barisan musuh. Dan pejuang kami bertarung melawan mereka,” demikian pernyataan al-Qassam Brigades, seperti dimuat Al-Arabiya, Sabtu 19 Juli 2014.

“Salah satu pejuang kami mengonfirmasi 5 tentara Israel tewas, 3 di antaranya ditembak pada bagian kepala, 2 lainnya ditembak pada bagian badan.”

Dalam sebuah video yang disebar di internet terlihat pasukan Hamas menembaki tentara Israel menggunakan sniper.

Pihak Israel kemudian mengonfirmasi bahwa ada pejabat senior di antara tentara yang tewas, yakni mayor Amotz Greenberg dan tentara, Sersan Adar Barsano.

Seperti dimuat Jerusalem Post, militer negeri zionis juga mengatakan ada 2 tentara mereka yang terluka dalam pertempuran dengan Hamas.

Jumlah korban tewas di kubu Israel tak sebanyak korban jiwa di Gaza. Sejauh ini, ada lebih dari 320 warga Gaza yang tewas akibat gempuran udara dan darat yang dilancarkan Israel.

Konflik terbaru ini dipicu oleh aksi penculikan dan pembunuhan terhadap 3 remaja Israel. Kemudian pemuda Palestina juga ditemukan tak bernyawa di hutan belantara setelah diculik dan dibakar hidup-hidup.

Israel mulai melancarkan agresi militer Operasi “Protective Edge sejak Selasa 8 Juli dini hari hingga sekarang. Dunia mengecam serangan Israel, namun negeri zionis tetap bersikeras bahwa langkahnya sudah tepat. 


(Liputan6.com/Jakarta Greater)

Saturday, July 19, 2014

Menhan Resmikan KRI Bung Tomo di Inggris


London, (IMP) -- Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro meresmikan kapal perusak kawal rudal jenis Multi Role Light Frigate (MRLF) KRI Bung Tomo-357 dan KRI John Lie-358 di Dermaga Anchorline, Barrow-In-Furness, Inggris, Jumat (18/7).

Selain dihadiri jajaran Kementerian Pertahanan RI, acara pemberian nama dan peresmian KRI Bung Tomo-357 dan KRI John Lie-358 juga dihadiri anggota DPR dari Komisi I bidang pertahanan, pejabat TNI Angkatan Laut, Dubes RI didampingi pejabat KBRI London serta pejabat pemerintahan Inggris, demikian Pensosbud KBRI London Heni Hamida kepada Antara London, Sabtu.

Setelah peresmian, kedua KRI langsung menuju Indonesia dan diharapkan bisa turut berpartisipasi memeriahkan HUT TNI ke-69 pada 5 Oktober 2014 di Pangkalan TNI Angkatan Laut Surabaya.

Kapal perang produksi BAE Systems, Inggris, tahun 2004 tersebut memiliki spesifikasi teknis yang handal. 

Dengan panjang 95 meter dan lebar 12,7 meter serta dilengkapi sistem pendorong empat motor pokok CODAD (Combined diesel and diesel) yang mampu berlayar dengan kecepatan maksimum 31 knots.

Kedua kapal perang tersebut juga dilengkapi dengan sistem persenjataan yang tergolong mutakhir, seperti peluru kendali anti kapal permukaan MM 40, peluru kendali anti serangan udara Sea Wolf, meriam 76 mm, meriam 30 mm serta torpedo anti kapal selam. 

Didukung oleh sistem kendali persenjataan, navigasi dan komunikasi yang terintegrasi dengan baik, kapal jenis MRLF tersebut dirancang untuk mampu bertempur menghadapi ancaman baik dari atas air, bawah air maupun udara.

Sebelum diresmikan menjadi kapal perang Republik Indonesia oleh Menteri Pertahanan RI, kedua kapal menjalani prosesi pemberian nama yang memiliki arti simbolis agar kapal tersebut memiliki semangat kepahlawanan dari tokoh pahlawan nasional yang digunakan serta agar kapal beserta awaknya di dalam pengabdiannya demi kejayaan bangsa dan negara senantiasa dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Prosesi pemberian nama KRI Bung Tomo-357 dan KRI John Lie-358 dilakukan oleh Lies Purnomo Yusgiantoro, istri Menhan RI selaku ibu kandung kapal. 

Bung Tomo merupakan salah satu tokoh pahlawan yang lahir di Surabaya pada tanggal 3 Oktober 1920. 

Bung Tomo terkenal karena peranannya yang signifikan dalam membangkitkan semangat rakyat Indonesia untuk melawan kembalinya penjajah yang akan menguasai negara Indonesia. 

Semangat pertempuran Bung Tomo telah ditunjukkan dalam pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan oleh seluruh bangsa Indonesia. 

Sementara Laksamana Muda TNI Jahja Daniel Dharma atau yang lebih dikenal sebagai John Lie merupakan salah seorang perwira tinggi TNI Angkatan Laut pada masa perang revolusi. 

Pada awal kemerdekaan, John Lie ditugaskan mengamankan pelayaran kapal-kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia yang akan diperdagangkan di luar negeri menembus blokade penjajah. 

Hasil dari penjualan hasil bumi tersebut selanjutnya digunakan demi keperluan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


Markas Divisi III Marinir Sorong Rampung Dibangun

Dalam divisi ini akan ditempatkan 6 ribu hingga 10 ribu personel yang siap menjaga wilayah timur Indonesia (photo: Marinir)

Jakarta, (IMP) -- Markas Divisi III Marinir di Sorong yang telah direncanakan Mabesal sejak setahun lalu kini sudah rampung dibangun. Markas yang terletak di kilometer 16 Sorong Aimas itu berdiri megah. Kepastian administrasi dan kedatangan personel, tinggal menunggu keputusan Presiden.

“Divisi Marinir merupakan tahapan dalam membangun Armada RI kawasan Timur di Sorong yang telah direncanakan lama oleh Kemhan dan Mabesal,” ujar Dirjen Kuathan Kementerian Pertahanan RI Laksda TNI Agus Purwoto di kantornya beberapa waktu lalu.

Sejauh ini, Korps Marinir TNI AL terbagi menjadi pasukan, yakni Pasmar 1 yang bermarkas di Gedangan Sidoarjo dan Pasmar 2 yang bermarkas di Jakarta.

Lebih lanjut, menurut Agus, pembangunan Divisi III Marinir merupakan pengembangan postur organisasi Marinir sebagai Kotama (Komando Utama—red) yang ditempatkan di daerah strategis dan rawan konflik.

Rencananya, dalam divisi ini akan ditempatkan 6.000 hingga 10 ribu personel yang siap menjaga kedaulatan NKRI di pulau paling timur Indonesia. Selain itu, kebutuhan akan Alutsista juga menjadi perhatian pemerintah yang saat ini telah memasuki penghujung masa jabatan.

“Paling tidak, ini merupakan pencapaian dalam MEF tahap I dan akan dilanjutkan kemudian di tahap II,” papar Agus.

Ditinjau dari letak geografis, Sorong merupakan kota strategis di Pulau Papua, khususnya Papua Barat. Kota yang terletak di ujung kepala burung Pulau Papua tersebut merupakan pintu masuk Papua dan penghubung antara Papua dengan daerah lain.

Beberapa konflik horizontal kerap terjadi di kota ini. Salah satunya, kerusuhan bernuansa SARA pada April lalu, serta adanya pasukan OPM pimpinan Izak Klablim dikabarkan sering melakukan operasi di daerah ini.

Diharapkan, dengan kehadiran Divisi Marinir di Sorong dapat meminimalisasi gejala-gejala tersebut, baik dengan Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Sepanjang sejarah perjalanan korps yang memiliki slogan Jalesu Bhumyamca Jayamahe (Di Laut dan Darat Kita Jaya) ini selalu dikenal dekat dengan rakyat, serta merakyat.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...