Showing posts with label PT. Pindad. Show all posts
Showing posts with label PT. Pindad. Show all posts

Monday, November 24, 2014

Krakatau Steel Pasok 98 Persen Baja Militer

Panser Anoa buatan Pindad saat Peringatan HUT TNI Ke-69 di Dermaga Ujung Armada RI Kawasan Timur (Armatim), Surabaya, Selasa (7/10). Sebanyak 526 alat utama sistem persenjataan (alutsista) dikerahkan pada TNI kali ini antara lain 192 unit alustsista dari TNI AD, 195 alutsista dari TNI AL, dan 139 pesawat dari TNI AU. (Detik Foto/Dikhy Sasra)

Jakarta, (IMP) -- PT Krakatau Steel memperbarui kerjasama suplai baja khusus militer dengan PT Pindad. Perjanjian itu ditandatangani di sela kegiatan Indo Defence 2014 di Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/11). Sebanyak 98 persen bahan baku pembuatan peralatan militer berasal dari perusahaan baja itu.

Presiden Direktur Krakatau Irvan K. Hakim mengatakan penandatanganan itu adalah pembaruan kerjasama yang sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

“Ini dilakukan dalam rangka menyambut kebutuhan besar untuk alutsista TNI dan kepentingan pertahanan nasional dari Kementerian Pertahanan,” kata Irvan.

Irvan mengatakan 98 persen bahan baku baja untuk pembuatan kapal cepat rudal TNI, panser buatan Pindad, dan kapal logistik Kementerian Pertahanan, dipasok oleh Krakatau Steel.

"Jadi kami merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Komite Industri Pertahanan. Dalam hal ini, kami bertindak sebagai supplier bahan baku untuk industri ini," kata Irvan kepada CNN Indonesia.

Irvan menjamin kualitas produksi baja untuk Pindad selalu di bawah pengawasan ketat baik Kementerian Pertahanan dan harus memenuhi standar kualitas NATO. Baja khusus Pindad adalah jenis armor steel yang tidak bisa diperjualbelikan secara bebas. 

Untuk memproduksi baja yang antipeluru itu, Krakatau membangun fasilitas produksi tersendiri. “Standar kualitas bukan sesuatu yang bisa ditawar-tawar,” katanya.

Penandatanganan kerjasama dilakukan oleh Irvan dan Pelaksana Tugas Direktur Utama Pindad Tri Hardjono.


Wednesday, November 5, 2014

''Panser badak Lebih Unggul Dari Tarantula"

Indo Defence Expo 2014 (muhammad luthfi rahman)

(IMP) -- Industri senjata dalam negeri kembali membuat terobosan baru. PT Pindad mampu menelurkan sebuah kendaraan tempur yang dinamakan panser badak.

Kadep komunikasi Pindad Sena Maulana menyatakan panser badak lebih unggul dari panser tarantula buatan Korea Selatan.

"Panser Tarantula dari Korea Selatan sama-sama 90 milimiter (canon), tapi badak lebih unggul. Kelebihannya pada manuvernya yang lebih tinggi," terang dia.

Tak hanya itu, menurutnya, harga panser badak pun terbilang murah dengan kecanggihan teknologi yang dimilikinya. Harga panser badak pun jauh berada di bawah panser tarantula.

"Harganya sesuai dengan budget TNI dan bentuknya sesuai dengan karakteristik asia. Harganya di bawah tarantula, coba googling aja kalau gak percaya," pungkas dia.


Tuesday, October 21, 2014

Evolusi Panser Anoa Menjadi Amfibi


(ARC/IMP) -- Memperoleh pesanan ratusan unit, tidak membuat PT.Pindad berhenti mengembangkan evolusi Ranpur Anoa. Setelah berhasil memadukan pelindung keramik tambahan, kini Pindad beranjak ke evolusi selanjutnya. Yaitu menjadikan Anoa spesies Amfibi. Dan inilah dia prototipe pertama Anoa Amfibi.

Prototipe pertama yang belum memiliki nama resmi ini, secara terbatas telah dipamerkan di sebuah acara di Sespim Polri Bandung beberapa waktu lalu. ARC pun berupaya mencari lebih tahu spesifikasi teknis ke kru Pindad. Menurut informasi terbatas yang diperoleh, Pindad melakukan upaya Re-enginering untuk membuat Anoa amfibi ini. Selain tentunya memasang perangkat yang dibutuhkan seperti Propeler di bagian belakang serta penahan ombak di bagian depan. Dari foto yang terlihat, Propeler yang terpasang memang cukup besar, namun bisa dilipat.

Anoa (ARC)

ARC juga diberi kesempatan melihat video uji coba yang dilakukan di Danau di Jatiluhur, Jawa Barat. Tampak sang Anoa melaju dari daratan menuju danau lalu mengapung. Sejurus kemudian Anoa itu melaju dan membuat beberapa manuver di air. Menurut Pindad, kecepatan mengarungi saat uji coba mencapai 4,5 knot. Namun sayangnya, video itu belum bisa dipublikasikan.



(ARC)

Sunday, August 24, 2014

Melihat Perakitan Kendaraan Tempur PT Pindad

Retrofit Tank AMX X2. (TEMPO/Aditya Herlambang Putra)

(IMP) -- Modifikasi atau retrofit tank AMX-13 milik TNI di Unit Produksi PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, 23 Agustus 2014. TEMPO/Aditya Herlambang Putra


Modifikasi tank AMX-13 milik TNI di Unit Produksi PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, 23 Agustus 2014. Tank yang sebelumnya bermesin bensin dimodifikasi menjadi bermesin Diesel Turbointercooler. TEMPO/Aditya Herlambang PutraAPC 6x6 Anoa 2


Pekerja menyelesaikan perakitan kendaraan tempur lapis baja APC 6x6 Anoa 2 di Unit Produksi PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, 23 Agustus 2014. 


Perakitan kendaraan tempur lapis baja APC 6x6 Anoa 2 di Unit Produksi PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, 23 Agustus 2014. 


Pekerja menyelesaikan perakitan kendaraan taktis Komodo 4x4 di Unit Produksi PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, 23 Agustus 2014. 


Direktur Utama PT Pindad, Sudirman Said mengendarai kendaraan taktis Komodo 4x4 di Bandung, Jawa Barat, 23 Agustus 2014. Mobil ini mengadopsi desain dan konsep mobil perang Humvee buatan Amerika Serikat atau Sherpa buatan Prancis.


Sunday, March 16, 2014

Lapan Uji Terbang Pesawat EDF dan Turbo Jet

Pesawat EDF siap diterbangkan (all photos : 8ptrkendali)

(IMP) -- Lapan melaksanakan uji terbang pesawat EDF dan Turbo Jet di Landasan Pesawat, Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, Rabu (5/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengujian LSU atau pesawat tanpa awak dan rangkaian pengembangan bidang peroketan.


Pesawat Electric Ducted Fan atau EDF telah diujiterbangkan sejak 2013 dan sukses terbang pada Desember 2013. EDF dapat menempuh kecepatan terbang minimal 200 kilometer per jam. “Pada pengujian kali ini, kami untuk ke sekian kalinya mengulang kesuksesan melakukan uji terbang, pesawat menempuh kecepatan terbang sesuai yang ditargetkan!” tutur Kepala Bidang Teknologi Kendali dan Telemetri yang sekaligus menjadi Kepala Program EDF dan Turbo Jet, Herma Yudhi Irwanto, M. Eng.


Selain menerbangkan EDF, Lapan juga menguji terbangkan RKX 200 TJ. Uji terbang tersebut merupakan bagian pengembangan lanjutan dari pesawat EDF. “Untuk pesawat RKX 200 TJ ini, tahun ini Lapan kembangkan EDF dengan mesin jenis turbo jet yang direncanakan terbang menjangkau kecepatan 250 km/jam,” ujarnya. Meski belum autopilot, menurut Herma Yudhi, target tersebut dapat terpenuhi pada pengujian perdana ini.


Proses tersebut menjadi catatan yang membanggakan bagi Lapan. Hal tersebut merupakan langkah maju pengembangan peroketan Lapan sebagai tahapan pengembangan roket besar yang dapat digunakan untuk peluncur satelit.


Friday, March 7, 2014

Rantis Berpeluncur Roket Terbaru Diuji Coba


(ARC/IMP) -- Inilah pertama kalinya kendaraan taktis (Rantis) 5 ton 6x6 "peluncur roket" produksi Balitbang Kemhan beraksi. Rantis berikut roketnya ini beraksi di kawasan pantai santolo indah pameungpeuk, garut jawa barat pada kamis (06/03).

Rantis hasil karya anak bangsa ini berhasil meluncurkan 2 buah roket RHAN 1220 produksi bersama konsorsium roket nasional tanpa kendala apapun. Dengan sudut elevasi 50 derajat dan azimut 250 mengarah ke laut selatan roket mampu meluncur sejauh 14 kilometer. Bersamaan dengan itu, RHAN- 1220 B yang merupakan varian baru dari RHAN dengan kaliber 122, juga berhasil diluncurkan dari laras GRAD pada peluncur Perkasa.


Menurut Kepala pusat Peneltian dan pengembangan litbang alat peralatan pertahanan (kapuslitbang Alpalhan Balitbang kemhan) Brigjen TNI yul Afiandi, Rantis 5 ton 6x6 peluncur roket ini merupakan produksi dalam negeri yang dihasilkan dari penelitian Balitbang Kemhan bekerjasama dengan Pindad dan mitra kerja swasta lainnya.

Sebelum digunakan dalam kagiatan peluncuran, rantis tersebut juga sudah diadakan uji coba kelayakan berbagai medan di wilayah jawa barat. Meski sudah berhasil meluncurkan roket, Rantis ini tetap akan dikembangkang lebih lanjut baik dari sisi kendaraan ataupun peluncur roket.


(ARC)

Thursday, March 6, 2014

KKIP: Belum Ada Pembicaraan Soal Ekspor Rudal C705 Versi Indonesia


JAKARTA, (IMP) -- Juru bicara Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) RI, Silmy Karim menampik pemberitaan yang diluncurkan media Taiwan, Senin (3/3) kemarin.

Di situ disebutkan, Pemerintah Cina menuntut uang tambahan dari Indonesia atas rencana ekspor rudal antikapal C705 produksi sendiri ke pasar luar negeri. Prototipe rudal C705 sejatinya adalah buatan Cina.

“Belum ada pembicaraan soal itu (rencana penjualan rudal C705 produksi sendiri ke luar negeri). Yang ada baru pembahasan tentang produksi misil untuk memenuhi kebutuhan kita (Indonesia) saja,” kata Silmy saat dikonfirmasi ROL, Selasa (4/4).

Media di Taiwan, Want China Times, sebelumnya menyebutkan Indonesia membeli 40 rudal antikapal C705 dari Cina. Hal ini diungkapkan dalam pertemuan antara para pejabat tinggi militer Cina dan Indonesia yang dipimpin oleh Kepala Staf Umum Tentara Rakyat Cina Jenderal Fang Fenghui dan Panglima TNI Jenderal Moeldoko, di Beijing, akhir bulan lalu.

Want China Times menuliskan, pembelian misil tersebut awalnya direncanakan untuk melengkapi sejumlah kapal cepat rudal (KCR-40) milik TNI Angkatan Laut RI.

Rudal C705 sendiri dirancang dan diproduksi oleh perusahaan industri pertahanan yang berbasis di Beijing, Aerospace Science and Industry Corporation. 

Akan tetapi, tulis laman Taiwan itu lagi, Cina ternyata menolak menyerahkan teknologi (ToT) C705 sepenuhnya ke Indonesia. Ini dikarenakan masih banyaknya negara lain yang mencari atau membeli senjata canggih tersebut dari negeri tirai bambu. 

Beijing malah meminta biaya tambahan dari RI untuk mengamankan hak memproduksi rudal C705 sendiri. Namun, hal ini juga dibantah Silmy. Menurut dia, Cina menyerahkan sepenuhnya teknologi C705 kepada Indonesia. 

“Jadi, tidak ada masalah sebenarnya. Saya malah jadi bertanya, media itu mengambil perkataan saya dari mana? Saya sendiri tidak ikut ke Beijing (menemani Panglima TNI Moeldoko),” jelas Silmy.


Thursday, December 5, 2013

Brunei Pesan 4 Panser Buatan Pindad, Alutsista Indonesia Diminati di Bridex 2013

Sultan Brunei Hassanal Bolkiah turun dari tangga pesawat CN 295 setelah melakukan inspeksi dan mencoba cockpit pesawat terbaru buatan PT Dirgantara Indonesia itu (Bisnis/Arif Budisusilo)

Bandar Seri Begawan, (IMP) -- Indonesia memperoleh sejumlah komitmen bilateral dalam pameran BRIDEX 2013 termasuk pemesanan 4 unit Panser Anoa dari Brunei Darussalam yang diharapkan pembeliannya diteken tahun depan.

Menurut Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, komitmen pembelian panser Anoa yang diproduksi PT Pindad tersebut menandakan bahwa industri pertahanan Indonesia semakin dipercaya.

"Ini dapat dlihat dari semakin banyaknya penggunaan internal maupun dari pembeli luar negeri serta peningkatan kapabilitas teknologinya," ujar Sjafrie sebelum mengakhiri kunjungan dua hari ke Brunei, Rabu (4/12), dalam rangka menghadiri pameran Bridex 2013 di Bandar Seri Begawan, 3-6 Desember. Dari Brunei, Sjafrie langsung bertolak ke Kanada.

Keikutsertaan Indonesia di Bridex 2013 memperkokoh posisi Indonesia dalam industri strategis di bidang kemiliteran dan pertahanan. "Kita membawa misi untuk memperkenalkan dan mengembangkan industri pertahanan kita," ujarnya.

Industri strategis yang mengikuti pameran antara lain PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT LEN, PT PAL, dan PT Dok Perkapalan Kodja Bahari serta sejumlah perusahaan swasta. 


Sebelum bertolak ke Kanada, Wamenhan bertemu dengan pejabat dan utusan Kementerian Pertahanan dari Turki, Filipina, dan Prancis serta sektor swasta dari Brasil dan Inggris di Pavilion Indonesia, di lokasi Bridex 2013.

Dari rangkaian pertemuan bilateral itu, Indonesia memperoleh beberapa komitmen pembeliam maupun dukungan kerjasama militer, termasuk joint production beberapa produk dalam negeri dengan produsen lain yang turut pameran.

Turki, misalnya, memastikan kerjasama konkret dengan PT Pindad dalam produksi medium tank, selain kerjasama dengan LEN untuk pengembangan alat komunikasi.

Dengan Filipina, diperoleh komitmen memastikan rencana kontrak pembelian dua kapal strategic vessel serta observasi kemungkinan pemesanan CN-295.

Prancis, lanjut Sjafrie, memastikan pengiriman meriam 155 Nexter akan hadir pada 5 Oktober 2014, yang terdiri dari 1 baterai atau sekitar 18 unit meriam. Prancis juga akan melanjutkan dukungan untuk PT Pindad dalam memproduksi Panser Anoa melalui pasokan perangkat mesin Renault Rack Defense.


Indonesia juga memperoleh komitmen dari Lurssen, Inggris, yang memastikan bahwa 2 unit multirole light fregat akan dikirim pada Juni 2014.

Sjafrie melanjutkan dalam pameran Bridex-2014, produk industri pertahanan Indonesia mendapat perhatian besar dari Sultan Brunei Hasanal Bolkiah dan negara sahabat yang lain.

Angkatan Udara Brunei bahkan melakukan joy flight pesawat CN235 dan CN295, Rabu. Pada Kamis dijadwalkan Putra Mahkota Pangeran Al-Muhtadee Billah Bolkiah juga akan melakukan joy flight pesawat CN 295. "Ini untuk merasakan kapabilitas pesawat agar user merasa confidence."


Sementara itu, dalam diskusi dengan industrialis swasta peserta Bridex 2013, Sjafrie mendukung keinginan mereka agar pemerintah memiliki kebijakan dan regulasi yang memungkinkan terciptanya kontinuitas order.

"Selain itu perlu dukungan kebijakan skema pembiayaan yang bisa mendapatkan bantuan bank pemerintah untuk membiayai produksi," katanya.

Setidaknya terdapat tiga area yang perlu menjadi perhatian untuk terus memperkuat industri strategis di Indonesia, yakni skill sumberdaya manusia, manajemen yang terkait dengan leadership, serta infrastruktur industri.

Dia yakin, dengan dukungan pemerintah, semua pelaku baik swasta maupun BUMN dapat mengambil manfaat dari industri strategis sehingga bisa lebih efisien, dan produktif.

Dengan demikian akan semakin terbuka kesempatan bagi industri pertahanan masuk ke pasar regional dengan kompetensi tinggi.


Monday, August 26, 2013

BUMN Siap Persenjatai TNI Dan Jualan Ke Luar Negeri


KUPANG, (IMP) -- Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan kesiapan perusahaan BUMN untuk melengkapi persenjataan TNI mulai dari darat, laut maupun udara. Menurut Dahlan, perusahaan pelat merah seperti PT PAL, PT Pindad maupun PT Dirgantara Indonesia sangat mampu menyediakan semua kebutuhan TNI.

"PT PAL, Pindad, PT DI harus bisa memberi kepercayaan. Ini kesempatan bagi semuanya. Melayani sebaik-baiknya melayani kebutuhan TNI," ucap Dahlan di Kupang, NTT, Sabtu (24/8).

Mantan dirut PLN ini menuturkan, PT PAL saat ini bisa memenuhi kebutuhan kapal-kapal untuk TNI Angkatan Laut, sedangkan PT Pindad sudah mampu membuat senjata dan tank untuk memenuhi kebutuhan TNI Angkatan Darat.

"Baru sekali ini BUMN mendapatkan order banyak dari kementerian pertahanan. Setelah industri dalam negeri maju," katanya.

Tidak hanya itu, perusahaan pelat merah juga telah siap ekspansi atau jualan ke luar negeri. Salah satu contohnya pesawat C-295 yang telah melakukan roadshow ke negara Asia Tenggara beberapa waktu lalu.


Tidak ingin asal jual, Dahlan ingin memastikan dulu kualitas buatan perusahaan BUMN dengan mencoba terlebih dahulu menggunakan pesawat C-295.

"Tentu saya harus juga merasakan pesawat ini, mau jual masa tidak pernah merasakan. Kemarin saya naik ke Cilacap, ya memang begini aksesoris tidak seperti komersial, stabil, landing, take off bagus," tutupnya.


Thursday, June 20, 2013

Produksi Panser Anoa Digeber untuk Memenuhi Pesanan 150 Unit Kedua



(IMP) -- Setelah TNI memesan 150 panser Anoa produksi Pindad pada tahun 2008, pabrik persenjataan di Bandung, Jawa Barat yang sudah berstatus BUMN itu seperti mendapat pasokan darah segar. Jumlah total dana yang dikucurkan pemerintah untuk membeli 150 unit panser Anoa melebihi Rp 1 trilliun sehingga operasional produksi Anoa pun berjalan lancar.

Tidak hanya merampungkan 150 unit panser Anoa, para teknisi senjata Pindad saat ini juga sedang menggeber produksinya demi memenuhi pesanan TNI yang jumlah totalnya (termasuk pesanan 150 unit pertama) , mencapai lebih dari 300 unit. Anoa yang sudah dioperasikan bahkan ada yang dikirim ke Lebanon guna mendukung tugas Pasukan Perdamaian PBB Indonesia, Satgas Indo FPC TNI Konga XXVI-D2/UNIFIL.


"Sebanyak 150 Anoa, saat itu dipesan langsung oleh Bapak Wapres Yusuf Kalla. Itu merupakan kejutan sekaligus tantangan karena Pindad belum memiliki pengalaman memproduksi panser. Tapi berkat kerja keras Pindad akhirnya berhasil mewujudkan panser yang dipesan oleh pemerintah," papar Tuning Rudyati, Kepala Departemen Humas dan Hukum Pindad kepada Angkasa di Pindad, Bandung, Jawa Barat (14/6). 

"Saat ini kami sedang bekerja keras untuk memenuhi pesanan Anoa dari TNI dan juga Malaysia. Dengan kemampuan Pindad memproduksi sebanyak 80 unit Anoa per tahun, kami yakin pesanan dari para konsumen bisa dipenuhi," tambah Tuning.

Selain panser Anoa, Pindad juga memproduksi kendaraan taktis (rantis) Komodo hasil rancangan tahun 2011. Rantis yang sudah dicoba ini memiliki sejumlah kemampuan seperti lincah bergerak di medan berlumpur, berpasir, jalur terjal dengan tanjakkan 31 derajat dan kemiringan 17 derajat serta kemampuan jelajah hingga 450 km. 


Monday, April 22, 2013

Pindad Siap Luncurkan Tank Pertama Buatan RI



Bandung, (IMP) -- PT Pindad (Persero) akan meluncurkan kendaraan tempur roda rantai atau tank. Tank yang rencananya akan dirilis merupakan tank tempur tipe ringan atau light dan medium versi Indonesia. 

Hal disampaikan Kepala Departemen Produksi II (Divisi Kendaraan Khusus), Hery Mochtady kepada detikFinance di Kantor Pusat Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/4/2013).


Untuk konsep tank versi light, Pindad mengadopsi tenologi dan desain tank jenis Scorpion buatan Inggris. Nantinya, tank ini, akan dikendalikan oleh tiga orang yakni bertindak sebagai commander, gunner dan driver.

“Kalau light tank itu skala Scorpion, kalau medium itu skala dengan Marder. Ke sana kita akan kembangkan. Kalau kelas heavy seperti Leopard sepertinya kita belum. Itu terlalu berat. Kita lebih cocok di medium tapi persenjentaan kita bisa pakai misil anti tank atau pakai 105 kaliber besar,” tambahnya.

Meskipun akan mengembangkan 2 tipe tank yakni tipe light dan medium. Kemampuan senjata, tetap bisa ditingkatkan atau mengadopsi kemampuan heavy tank seperti Leopard.


Untuk komponen, Hery mengakui, pihaknya di Pindad tetap memprioritaskan komponen lokal. Namun, saat komponen tersebut tidak dijual atau dikembangkan di dalam negeri, pihaknya baru membeli dari luar negeri.

“Tapi secara realistis, kita masih terbatas untuk power pack, engine, transmisi, dan cooling. Kita belum ada yang supply. Kalau senjata kaliber besar, kita masih impor karena di dalam negeri belum ada. Tapi kita usahakan, setiap kegiatan development setiap. Kalau terpaksa dengan luar negeri, kita harus ada TOT (transfer of technology), apa yang bisa kita ambil dari sana. Minimal kita tahu, konsep desain dan kalkulisinya seperti apa,” tegasnya.


Wednesday, March 20, 2013

Indonesia - Belarus Sepakat Produksi Remote Weapon System Yang Akan Dipasangkan di Panser Anoa


(photo : Militaryphotos)

Jakarta, (IMP) -- Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, Indonesia dan Belarus sepakat untuk memproduksi bersama pengendali atau remote control untuk senjata yang akan dipasangkan di Panser Anoa produksi PT Pindad.

Menurut Purnomo, kerja sama tersebut dipayungi dalam nota kesepahaman bersama yang telah ditandatangani dirinya dengan Ketua Komite Industri Militer Negara Belarus Sergei Gurulev di Istana merdeka, Jakarta, Selasa.

"Yang barusan itu ''joint production'' (produksi bersama) ''remote weapon system (RWS)'' untuk dipakai di Panser Anoa," katanya.

Ia mengatakan, selama ini ''remote control'' tersebut dibeli dari Belarusia, dengan adanya kerja sama ini nantinya akan diproduksi bersama antara Indonesia dengan Belarus.

"Jadi nilai tambah untuk kita, kita bisa buka lapangan kerja, investasi bersama," katanya.

(photo : Defense Studies)

Selain itu, menurut dia, peningkatan kerja sama untuk industri pertahanan ke depan dapat ditingkatkan. Selain produksi bersama ''remote control weapon station (RCWS)", menurut Purnomo juga dapat ditingkatkan untuk produksi kendaraan pengangkut tank yang dapat mengangkut dua tank dan ''anti tank guide missile''.

Ia menambahkan, Belarus memiliki kemampuan penguasaan dalam teknologi senjata sebagai salah satu pecahan dari Uni Soviet. "Jadi dulu sebelum Uni Soviet pecah, ada industrinya itu di berbagai tempat. Nah di Belarus ini ada juga industri pertahanan mereka," katanya.

Sementara itu Presiden Direktur Pindad Adik A Soedarsono mengatakan, "remote weapon system" yang akan diproduksi tersebut akan dibenamkan di Panser Anoa sehingga dapat mengendalikan senjata dari dalam Panser.

"Jadi nanti di Anoa itu tidak usah ada orang di atasnya. Itu produksinya di Pindad," katanya.


Wednesday, February 13, 2013

IFV Marder Basis Tank Medium TNI AD


(JakartaGreater/IMP). Arah dijadikannya IFV Marder sebagai Tank Medium TNI AD, semakin mendekati kenyataan, setelah pemerintah Jerman memberikan blueprint Marder kepada Indonesia, satu paket dengan pembelian 100 MBT Leopard 2 dan 50 IFV Marder 1A3.

Dengan asistensi Rheinmetall Jerman, PT Pindad akan membuat line produksi dari tahap awal hingga jadi. PT Krakatau Steel diharapkan mampu membuat spesifikasi logam untuk memenuhi armor harness Marder buatan PT Pindad nantinya. Turret yang dipilih kemungkinan besar Hitfact 105- 120 mm Oto Melara.

Dengan bobot yang lebih ringan dan rendahnya recoil force, turet ini menghasilkan tenaga tembakan yang besar untuk menghancurkan main battle tank secara akurat. Turret Hitfact 105 – 120 mm memiliki sejumlah keunggulan karena meriam maupun senjata mesinnya telah terintegrasi.


Selain itu, awak dari Tank yang menggunakan turret Hitfact dapat melacak dan mendeteksi lawan secara independen, terlepas dari pergerakan turet. Dia juga dapat mengontrol pergerakan turret maupun senjata dan mampu melacak sasaran dengan remote control, yang dipandu Kamera TV infra merah.

Selain dilengkapi senjata mesin otomatis 7,62 mm, turret ini bisa dilengkapi senjata mesin pertahanan udara 12,7 mm. Turet Oto Melara fully-stabilized 105-mm high-velocity rifled gun buatan Italia ini memiliki efektif jarak tembak 3 km dengan amunisi sesuai dengan standar NATO 105 mm.

Tank rekayasa Rheinmetall ini diklaim mampu bertarung dengan main battle tank lainnya. Rheinmetall melihat Marder memiliki sejumlah kelebihan, sehingga mereka kembangkan menjadi tipe IFV Upgrade dan Tank Marder 105-120 mm.


Armor
Protection against small arms 20 mm armour-piercing and shell splinters
Weight
29,200 kg combat condition
Speed
75 km/h maximum road speed
Range
500 km
Dimensions
Length, 6.79 m; Width, 3.24 m; Height, 2.98 m turret



Banyak komponen yang bisa diupgrade ke IFV/ Tank Marder untuk meningkatkan performanya, seperti mengganti track-nya dengan TR30, atau mengganti fuel tank, hydraulic, air pressure tank dan seat structures, dengan alumunium SAG.


Untuk urusan anti-udara Merder juga bisa dilengkapi dengan Roland short range air defence missile system yang pensiun dari militer Jerman tahun 2005, digantikan LFK NG missile system, buatan MBDA dan Diehl. Perancis menggunakan Roland 3 untuk MBT AMX 30 mereka. Namun senjata anti-udara Roland terus dikembangkan Perancis.

Versi terbaru Roland Carol merupakan sistem senjata efektif untuk menghadapi ancaman udara dari extremely low hingga medium altitude. Roland Carol merupakan standalone weapon system yang bisa dipasang di Marder. Senjata ini diproduksi tahun 1995 dan digunakan oleh Perancis dan Jerman.


Dengan demikian, Marder nantinya bisa difungsikan sebagai Infantry Fighting Vehicle (20 mm Rheinmetall MK 20 Rh202 fully remote machine gun) dengan ATGM Milan, Medium MBT Canon 105-120mm Hitfact, maupun Lapis baja anti serangan udara jarak pendek dengan mengusung Roland Carol buatan EADS.

Jerman mendisain IFV Marder untuk pasukan Infanteri Mekanis mereka dengan konsep dasar harus bisa bertempur baik dari alam maupun luar kendaraan tempur dan kendaraan tersebut harus bisa memberikan perlindungan dari serangan nuklir, biologi dan kimia.

Perusahaan Saab Swedia juga telah membuat BT46 two-way simulator, yang bisa digunakan untuk berlatih perang menggunakan: Leopard, Marder, Luchs, Wiesel, Fennek dan Boxer. Jerman juga memesan simulator ini, karena Saab BT46 gun training simulator dapat mensimulasikan dengan secara recara akurat balistik dan kecepatan terbang amunisi yang secara simultan memberikan feedback kepada petembak dan target.

Teknologi IFV Marder dilepas oleh Jerman karena Marder akan dipensiunkan oleh AD Jerman, untuk diganti dengan IFV PUMA.



Indonesia sebenarnya ingin juga membeli IFV Puma dari Jerman. Namun untuk barang produksi tahun 2010 itu, Ibu Angela Merkel belum bersedia menjualnya.

Dengan adanya transfer teknologi IFV Marder ke PT PIndad, diharapkan teknologi lapis baja Indonesia terus berkembang dan tank medium Pindad segera menjadi kenyataan.


(JakartaGreater)

Sunday, February 3, 2013

Era Baru Rudal Indonesia

Menyonsong Masa Depan Rudal Indonesia


(IMP) -- Indonesia akhirnya bergerak maju untuk menyongsong industri peluru kendali dalam negeri. Kerjasama pembuatan Rudal C-705 dengan China, sempat membuat kepala para petinggi Dephan pening, karena tuntutan China cukup tinggi, jika Indonesia ingin memperoleh ToT-nya (transfer of technology). 


(Senin, 28 Januari 2013). TEMPO.CO, Jakarta - TNI Angkatan Laut akan menggunakan rudal C-705 asal Cina pada kapal cepat rudal (KCR) buatan dalam negeri.Rencananya, sebanyak 16 kapal perang KCR-40 buatan pabrik kapal di Batam, PT Palindo Marine, bakal dilengkapi dengan peluru kendali tersebut.

“Kontrak sudah diteken, rudal diperkirakan tiba pada tahun 2014,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama, Untung Suropati, kepada Tempo, Senin, 28 Januari 2013. 

Sesuai UU Nomor 16 Tahun 2012, pemerintah akan melakukan kerja sama transfer teknologi dalam skema pembelian alat utama sistem persenjataan ini. Dengan skema transfer teknologi ini, diharapkan tiga pabrik dalam negeri: PT. Pindad, Lapan, dan PT. Dirgantara Indonesia, bakal mampu membuat rudal sendiri. 

Sebelumnya, Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Pos Batubara, mengaku sedang menegosiasikan kontrak transfer teknologi dengan produsen Tiongkok itu. “Masih kami upayakan ke arah sana,” kata Pos, ditemui usai peresmian KRI Beladau 643 di Batam, pekan lalu.

Dia memastikan produsen lokal akan terlibat dalam proses transfer teknologi antara Cina dan Indonesia. “Harapannya kita mampu produksi sendiri,” ujar dia.

Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan, Mayor Jenderal Ediwan Prabowo, mengatakan sejumlah produsen lokal mulai terlibat dalam persenjataan KCR 40. “PT. Pindad mulai terlibat, tapi persentasenya masih kecil,” kata Ediwan.

Dia enggan menyebutkan nilai kontrak pengadaan rudal Cina tersebut. “Kontrak pengadaan senjata dipisah dengan pembuatan kapalnya,” kata Ediwan. Nilai pembuatan kapal cepat rudal 40 mencapai Rp 75 miliar per unit. Seluruhnya menggunakan skema pinjaman dalam negeri.



Persyaratan alih teknologi Rudal C-705 China itu, tampaknya terkait dengan syarat pembelian kapal seperti berita ini (perlu konfirmasi lebih lanjut):

(Senin, 28 Januari 2013). VIVAnews - Demi memperlancar angkutan dan distribusi barang di Indonesia, pemerintah melakukan penataan dan pembenahan sejumlah pelabuhan. Tak hanya itu, pemerintah menyiapkan dana triliunan rupiah untuk membeli kapal buatan China.

“Tahun ini, pemerintah akan mempercepat pembangunan 44 pelabuhan,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah Tertinggal dan Bulog, M. Natsir Mansyur, di JCC Senayan, Jakarta, Senin 28 Januari 2013.

Natsir menambahkan, pemerintah akan menyiapkan dana Rp15 triliun untuk membeli 2.500 kapal dari China. Pembelian sebanyak 500 unit per tahun itu bertujuan untuk mewujudkan program seashore shipping (pengangkutan barang dari satu provinsi ke provinsi lainnya) menjadi lebih efisien.

Sebab, selama ini, pengangkutan komoditas seperti makanan, ternak, dan minyak antarprovinsi biayanya terlalu tinggi, lebih mahal dibanding ke luar negeri. “Pengiriman jeruk Pontianak ke Jakarta saja biayanya mahal,” kata dia.

Menurut Natsir, alasan memilih kapal China itu adalah pertimbangan waktu produksi yang lebih cepat. Jika memproduksi di dalam negeri, satu unit kapal pembuatannya bisa memakan waktu setahun.

Natsir menambahkan, penandatanganan pembelian kapal dari Negeri Tirai Bambu itu telah dilakukan. Perbankan berperan besar sebagai mitra dalam membantu pembiayaannya. Namun, masih belum diketahui bank mana yang ditunjuk untuk menjadi mitra penyaluran pembiayaan Rp15 triliun itu.

Roket RX-550


Selama ini Lapan telah mengembangkan berbagai tipe roket: RX-550 dengan jangkaun 300 km, RX-122 dengan jangkauan 20 Km, RX-200 dengan jangkauan 40 Km dan RX-320 dengan jangkauan 80-100 Km.

Dengan kerjasama China diharapkan Lapan mampu mengembangan desain untuk mendapatkan konfigurasi roket yang sesuai dengan misinya, antara lain untuk memprediksi fenomena yang terjadi pada sistim propulsi roket seperti erosive burning dalam ruang bakar, karakteristik aliran fluida dalam nosel dan saat terjadi thrust vectoring, maupun sistim pendingin pada engine roket cair.

Kerjasama ini juga diharapkan memberi masukan bagi Lapan, untuk peningkatan desain struktur roket, yakni kemampuan memprediksi fenomena aeroelastis dan aerothermoelastis roket, khususnya sirip dan nosecone, sistem peredam getaran dan shock struktur payload serta optimasi berat struktur terhadap beban kerjanya, terutama nosel melalui analisis statis, dinamik dan thermal baik untuk material komposit maupun logam. Perbaikan desain diperlukan agar gerak roket lebih baik sehingga mencegah penyimpangan trayektori roket.

Perbaikan lainnya yang dibutuhkan Lapan adalah peningkatan kualitas produk yang dihasilkan, seperti kenaikan Isp propelan, kehalusan fabrikasi struktur, optimalisasi berat struktur menggunakan material komposit, sesuai dengan roadmap tahun 2014.



Sementara PT Pindad juga mulai mengembangkan amunisi kaliber besar seperti 105 mm dan 120 mm. Amunisi ini dikembangkan menjadi warhead dan rudal dengan mode proximity fuse. Proximity fuse menyebabkan kepala rudal akan meledak pada jarak yang telah ditentukan dari target. Teknologi proximity fuse ini menggunakan kombinasi dari satu atau beberapa sensor di antaranya radar, sonar aktif, infra merah, magnet, foto elektrik. Tidak hanya itu, PT Pindad juga terus mengembangkan rudal darat.


Apa yang sedang dikembangkan oleh Lapan dan PT Pindad merupakan pijakan bagi pengembangan sistem persenjataan rudal. Istilah kerennya, jika cita-cita itu tercapai maka rudal Indonesia nanti akan menjadi alternatif salah satu penangkal, sehingga Indonesia tidak tergantung dengan banyaknya jumlah kapal perang atau senjata. Targetnya adalah rudal berpangkalan di darat yang mumpuni dan disegani.


(JKGR/IMP)

Thursday, December 27, 2012

Bangkitnya Industri Pertahanan Dalam Negeri

Masa Depan INDUSTRI PERTAHANAN DALAM NEGERI

CN 235 PT. DI



JAKARTA, (IMP) -- Debu yang menempel dibadan pesawat N-250 buatan Baharudin Jusuf Habibie mungkin sedikit-sedikit terhapus seiring menggeliatnya kembali industri kedirgantaraan dalam negeri. Pada 2012 ini, titik tolak menuju kemandirian industri strategis pertahanan dalam negeri, sudah dipancangkan pada 5 Oktober lalu. UU Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertepatan dengan hari ulang tahun ke-67 TNI itu.

Presiden Yudhoyono menyatakan bahwa regulasi itu merupakan oli untuk bisa licin meluncurkan berbagai produk alat utama sistem senjata (alutsista) dalam negeri. Lahirnya UU ini dipercaya bakal mempercepat perkembangan industri pertahanan dalam negeri. Maklum, dengan keberadaan regulasi ini, persoalan laten mengenai kesulitan sinergi antar industri pertahanan, bisa terselesaikan. Apalagi, UU ini mengatur sinergi antar industri strategis maupun industri pertahanan dalam memproduksi alustsista.

Kelahiran UU Industri Pertahanan tak bisa dilepaskan dari pembentukan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) pada 2010 yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2010. Keberadaan KKIP amat menguntungkan PT Dirgantara Indonesia (DI), PT Pindad, maupun PT PAL, sebagai tiga industri pertahanan terbesar milik negara. KKIP-lah yang berkontribusi membentuk masterplan revitalisasi industri pertahanan, kriteria industri pertahanan, kebijakan dasar pengadaan alutsista TNI dan Polri, serta verifikasi kemampuan industri pertahanan dan revitalisasi manajemen BUMN Industri Pertahanan.

KKIP dibentuk untuk mengawal pembangunan alutsista dalam negeri hingga 2029 yang dibagi menjadi empat tahap. Tahap pertama, 2010 hingga 2014, KKIP mencanangkan empat program strategis, meliputi penetapan program revitalisasi industri pertahanan, stabilisasi dan optimalisasi industri pertahanan, penyiapan regulasi industri pertahanan dan penyiapan produk masa depan.

Pada 2012 ini, hampir semua program sudah terealisasi. Bahkan, PT DI sudah merasakan manfaatnya. "Sebelum ada KKIP, untuk pemesanan alutsista TNI harus melalui proses tender. Kalau saat ini, pengguna (TNI) bisa menunjuk secara langsung industri yang diinginkan. Yang terpenting, kesanggupan dari PT DI untuk menerima pesanan dari TNI dan Polri," kata dia. Sebagai bukti, pada 2011, PT DI sudah menerima pesanan tujuh unit helikopter Bell 412 EP dan sejumlah alutsista lainnya dari TNI. Bahkan, pada 2012 ini PT DI menerima pesanan pembuatan 9 unit pesawat angkut CN-295, 2 unit pesawat helikopter super puma untuk TNI AU, bahkan PT DI telah mengekspor pesawat CN-235 Maritime Patrol Aircraft (MPA). 

Kemitraan Strategis PT DI juga melakukan kemitraan strategis dengan produsen pesawat dari luar negeri, seperti Airbus Military dan Eurocopter European Aeronautic Defense Space Company (EADS). Kemitraan dengan Airbus Military akan semakin erat setelah kesepakatan produksi bersama pesawat C 212-400 versi upgrade dan C295. Pesawat yang akan dinamai NC 212 itu ditawarkan kepada pelanggan sipil serta militer, dilengkapi dengan avionik digital dan sistem autopilot terkini.

PT Pindad juga menerima banyak pesanan alutsista. Salah satu produk yang diminati adalahpanser anoa 6x6 yang telah melanglang buana dan menjadi kendaraan taktis dalam misi perdamaian PBB, sedangkan PT PAL dipercaya menggarap kerja sama pembuatan tiga unit kapal selam dengan Korea Selatan.

Ada pula pembuatan kapal trimaran, yaitu kapal antiradar dengan tiga lambung asal Swedia yang dibuat perusahaan swasta di Banyuwangi. Kapal yang memiliki kemampuan minim terdeteksi radar dengan kecepatan 48 knots dan dilengkapi pelontar roket ini akan digunakan TNI AL untuk operasi khusus. Walaupun pada percobaan pertamanya, kapal ini gagal dan harus terbakar habis.


Di sektor swasta, industri pertahanan juga menggeliat, seperti pembuatan Kapal Cepat Rudal (KCR) C705 produksi PT Palindo Marine seharga 73 miliar rupiah yang memiliki kecepatan 30 knots. Jarak tembak sasaran rudal C705 mencapai 70 kilometer. Saat ini, satu KCR yang diberi nama KRI Clurit telah beroperasi di bawah Komando Armada RI Kawasan Barat. Namun, keberhasilan sejumlah industri pertahanan itu masih sangat kecil dibandingkan dengan impor alutsista yang dilakukan tiga matra TNI. 

Saat ini sebagian besar alutsista milik TNI masih didominasi produk luar. Pesawat tempur masih didominasi nama, seperti F-16, sukhoi, dan hawk. Tank-tank pun masih didominasi produk asing. Tak terkecuali dengan kapal-kapal tempur. Tak heran, jika Wakil Presiden Boediono pada pembukaan Indo Defence 2012 Expo dan Forum di Jakarta, Rabu (7/11), mengatakan Indonesia perlu belajar dari negara-negara yang sukses mengembangkan industri pertahanan. 

Di banyak negara yang sudah sukses mengembangkan industri pertahanan, mereka tidak melepaskan industri itu tumbuh sendiri. Dia menyatakan industri pertahanan adalah salah satu dari industri berteknologi tinggi. Setiap pembuatan perencanaan dan rancangan harus diintegrasikan dengan kemampuan secara luas, termasuk perguruan tinggi. Jika tidak, industri pertahanan akan mandek. Lahirnya UU Industri Pertahanan merupakan perkembangan baik karena akan memberikan guideline yang bisa dipegang semua pelaku. 

Masalahnya sekarang, bagaimana ini diterjemahkan dan direalisasikan dalam program yang lebih operasional dan konkret, selain tentunya menyangkut biaya dan kualitas produknya. Oleh karena itu, Wapres mendorong agar kerja sama dengan industri pertahanan di luar negeri bisa dilaksanakan dengan baik. Kerja sama itu bisa memberikan keuntungan bagi kemajuan kedua industri pertahanan yang bekerja sama.


Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, menuturkan lahirnya UU Industri Pertahanan sangat strategis dan fundamental untuk membangkitkan kembali industri pertahanan. Adanya UU ini diyakini akan mendorong kemampuan memproduksi dan pengembangan jasa pemeliharaan dari industri pertahanan semakin berkembang. "Ini akan memberikan dampak, di antaranya kekuatan pertahanan dan keamanan Indonesia menjadi andal. UU ini juga akan menguatkan industri pertahanan itu sendiri untuk mandiri dan memproduksi produk alutsista secara berkesinambungan," ujar dia. Pada 2029 diharapkan industri pertahanan Indonesia sudah bisa disejajarkan dengan industri pertahanan dunia. Capaian itu mungkin akan membuat Habibie terharu.


(Perkembangan Militer)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...