Showing posts with label TNI-AD. Show all posts
Showing posts with label TNI-AD. Show all posts

Tuesday, January 17, 2017

Skadron 12 TNI AD Terima Dua Heli Bersenjata

Helikopter AS550C3 Fennec TNI AD (photo: Haryadi Dwi)

Angkasa/(IMP) -- Skadron 12/Serbu Pusat Penerbangan TNI AD yang bermarkas di Waytuba, Lampung, Minggu siang (15/1) ini menerima dua unit heli AS550C3 Fennec dari tempat perakitannya di PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat. Helikopter yang akan dipersenjatai dengan peluncur roket FZ219 (buatan Belgia) dan senapan mesin FN Herstal 12,7 mm (Belgia) ini merupakan bagian dari 11 unit Fennec pesanan Kementerian Pertahanan beberapa tahun lalu.

Kedua helikopter diserahterimakan lima bulan lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan. Demikian informasi yang diterima Angkasa dari pihak DI. “Kedua pesawat meninggalkan apron DI pukul 09:00 pagi tadi. Ferry flight dibantu penerbang-penerbang dari Skadron 12 Penerbad. Pesanan berikutnya akan diantar dalam waktu mendatang,” ujar Kepala Program Helikopter DI, Hadi Prasongko, Minggu pagi (15/1) kepada Angkasa.

(photo : A. Darmawan)

AS550/5 adalah lightweight/multipurpose helicopter untuk misi militer yang dikembangkan pabrik Eurocopter (kini Airbus Helicopter) dari basis AS350 Ecureuil. Dari ke-11 Fennec pesanan Kementerian Pertahanan untuk memperkuat pasukan udara TNI AD tersebut, lima unit berasal dari tipe AS550C3 (single engine) dan enam AS555AP (twin-engine). TNI AD juga membeli satu unit tambahan dari tipe AS350B3 Ecureuil (original utility).

Di antara helikopter-helikopter rakitan DI, AS 550/5 Fennec merupakan lansiran baru. Seperti diungkap Dirut DI Budi Santoso, heli-heli baru ini memang bikinan luar, tapi pesanan Kementerian Pertahanan yang dirakit pihaknya memungkinkan enjinir DI memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman dalam perancangan sistem internalnya. Dan, untuk ini DI berhak atas royalti dari property right-nya.

Skadron 12/Serbu sendiri merupakan satu dari lima kesatuan udara Puspenerbad yang dibentuk untuk misi serbuan dan mobilitas udara pasukan-pasukan TNI AD. Selain Skadron 12/Serbu, mereka juga memiliki Skadron 11/Serbu (bermarkas di Semarang, Jawa Tengah), Skadron 13/Serbu (Berau, Kalimantan Timur), Skadron 21/Sena (Pondok Cabe/Banten), dan Skadron 31/Serbu (Semarang/Jawa Tengah). Pesawat yang telah dimiliki Puspenerbad adalah NC212 serta heli NBO-103, NBell-412, Mi-17 dan Mi-35P.


Wednesday, November 5, 2014

''Panser badak Lebih Unggul Dari Tarantula"

Indo Defence Expo 2014 (muhammad luthfi rahman)

(IMP) -- Industri senjata dalam negeri kembali membuat terobosan baru. PT Pindad mampu menelurkan sebuah kendaraan tempur yang dinamakan panser badak.

Kadep komunikasi Pindad Sena Maulana menyatakan panser badak lebih unggul dari panser tarantula buatan Korea Selatan.

"Panser Tarantula dari Korea Selatan sama-sama 90 milimiter (canon), tapi badak lebih unggul. Kelebihannya pada manuvernya yang lebih tinggi," terang dia.

Tak hanya itu, menurutnya, harga panser badak pun terbilang murah dengan kecanggihan teknologi yang dimilikinya. Harga panser badak pun jauh berada di bawah panser tarantula.

"Harganya sesuai dengan budget TNI dan bentuknya sesuai dengan karakteristik asia. Harganya di bawah tarantula, coba googling aja kalau gak percaya," pungkas dia.


Tuesday, October 21, 2014

Evolusi Panser Anoa Menjadi Amfibi


(ARC/IMP) -- Memperoleh pesanan ratusan unit, tidak membuat PT.Pindad berhenti mengembangkan evolusi Ranpur Anoa. Setelah berhasil memadukan pelindung keramik tambahan, kini Pindad beranjak ke evolusi selanjutnya. Yaitu menjadikan Anoa spesies Amfibi. Dan inilah dia prototipe pertama Anoa Amfibi.

Prototipe pertama yang belum memiliki nama resmi ini, secara terbatas telah dipamerkan di sebuah acara di Sespim Polri Bandung beberapa waktu lalu. ARC pun berupaya mencari lebih tahu spesifikasi teknis ke kru Pindad. Menurut informasi terbatas yang diperoleh, Pindad melakukan upaya Re-enginering untuk membuat Anoa amfibi ini. Selain tentunya memasang perangkat yang dibutuhkan seperti Propeler di bagian belakang serta penahan ombak di bagian depan. Dari foto yang terlihat, Propeler yang terpasang memang cukup besar, namun bisa dilipat.

Anoa (ARC)

ARC juga diberi kesempatan melihat video uji coba yang dilakukan di Danau di Jatiluhur, Jawa Barat. Tampak sang Anoa melaju dari daratan menuju danau lalu mengapung. Sejurus kemudian Anoa itu melaju dan membuat beberapa manuver di air. Menurut Pindad, kecepatan mengarungi saat uji coba mencapai 4,5 knot. Namun sayangnya, video itu belum bisa dipublikasikan.



(ARC)

Thursday, October 16, 2014

"Iveco Tank Transporter" Pengangkut Tank Leopard


Surabaya, (IMP) -- TNI terus memoderenisasi peralatan perangnya. Langkah tersebut menjadi tuntutan bagi TNI dalam menjaga kedaulatan negara. 

Salah satu armada tempur terbaru yang dimiliki Indonesia ialah transporter, yakni truk pengangkut untuk tank Leopard. 

Transporter ini mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya mampu mengangkat beban seberat 90 ton. 


Tidak hanya itu, armada buatan Italia ini mampu bergerak dalam jarak yang cukup jauh. Dalam pengoperasiannya, truk ini dilengkapi dengan lowbed doll buatan Jerman.

Keistimewaan yang dimiliki lowbed doll yakni memiliki tujuh sumbu yang memungkinkan seluruh rodanya mampu bergerak secara bersamaan sehingga menjamin kelincahan dengan radius putar yang kecil.


(Sindo/ARC)

Thursday, August 14, 2014

13 Tank Marder Jerman Bakal Tiba Oktober di Markas Yonif 413/Bremoro

Kendaraan tempur Marder (photo : Kaskus Militer)

Sukoharjo, (IMP) -- Sebanyak 13 unit tank jenis Marder buatan Jerman bakal tiba di Markas Batalyon Infanteri 413/Bremoro Palur, Mojolaban, Solo, Oktober 2014 mendatang.

Danyonif 413/ Bremoro, Mayor (Inf) Setyo Wibowo, menerangkan pihaknya telah mendapat kejelasan perihal rencana kedatangan tank seberat 30 ton perunit itu. Diperkirakan tiba di tempatnya pada 5 Oktober. Saat ini, tank-tank untuk memperkuat pertahanan NKRI itu ada di pangkalan Surabaya, Jawa Timur.

“Baru diserah terimakan setelah tanggal 5 Okober. Kami masih terus berkoordinasi. Tinggal selangkah lagi jadi pasukan mekanik atau tank,” terangnya, baru-baru ini.

Pria pernah menjabat sebagai Wakil Komandan Yonif Lintas Udara 330 itu mengaku, pihaknya terus melakukan persiapan baik dari segi kemampuan prajurit maupun tempat dan fasilitasnya.

“Sudah siap sejak lama. Kami tinggal menerima tanknya tidak lama lagi. Dipastikan tetap tahun ini,” ungkap Mayor (Inf) Setyo Wibowo.

Disinggung apakah tank-tank itu akan dikenalkan pada masyarakat luas, dirinya mengaku belum ada rencana. Meski begitu, dengan dibentuknya pasukan tank di 413/Bremoro, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri.

“Kami harus izin pimpinan daerah dulu. Kan itu beratnya 30 ton, bisa merusak jalanan, yang penting tanknya datang dulu,” pungkas Mayor (Inf) Setyo Wibowo.


Thursday, July 10, 2014

Maintenance Dan Pelatihan Automotive Panser Tarantula TNI-AD


(IMP) -- Setelah datangnya tim CMI Defence Belgia ke Kikavser 3 untuk melaksanakan maintenance Kanon Ranpur Tarantula, maka lanjutan dari kegiatan tersebut pada awal bulan Juni 2014 rombongan tim maintenance Doosan DST dari Korea Selatan datang ke Kikavser 3 untuk melaksanakan kegiatan perawatan dan pelatihan mengenai Automotive Ranpur Tarantula kepada para Danran, Pengemudi, dan anggota Tim Pemeliharaan (Tim Har) Kikavser 3.


Rombongan yang berjumlah 7 orang dan dipimpin langsung oleh General Manager Doosan DST Mr. You Sik Kwak langsung menuju garasi ranpur Kikavser 3 setelah disambut oleh Letda Kav hara Ibnufauzi selaku Perwira Pendamping. 


Di garasi ranpur mereka langsung membagi tugas, sebagian tim langsung melaksanakan pengecekan 6 unit ranpur Tarantula didampingi oleh anggota Tim Har. Sebagian lagi memberikan pengetahuan teori dan praktek kepada para Danran dan Pengemudi ranpur Tarantula. 

Pengecekan yang dilakukan meliputi pengecekan mesin, sistem kelistrikan, panel-panel dashboard, lampu-lampu, ramp door, generator, pompa air, winch, dsb. Sementara untuk pelatihan automotive meliputi pengenalan mesin, pengoperasian ranpur, prosedur menghidupkan dan mematikan kendaraan, cara pelumasan, penggunaan winch, bongkar pasang roda,dsb. 


Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar dan diakhiri dengan foto bersama dan pembagian sertifikat dari tim Doosan DST kepada para peserta pelatihan dan maintenance.


Friday, March 28, 2014

TNI Mulai Latih Pilot Apache

(photo : Jimmy van Drunen)

Semarang, (IMP) -- TNI mulai melatih pilot yang akan menerbangkan helikopter serang Apache sebagai salah satu kesiapan sebelum kedatangan alat tempur asal Amerika Serikat itu pada 2017.

"Delapan Apache keseluruhannya baru akan tiba pada 2017," kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Budiman usai kunjungan di Pangkalan TNI Angkatan Darat Bandara Ahmad Yani Semarang, Kamis.

Tahun ini, lanjut dia, para pilot yang akan menerbangkan heli tempur tersebut akan dilatih bekerja sama dengan Amerika Serikat.

Untuk latihan tersebut, Indonesia akan memperoleh pinjaman heli. "Ini kan heli canggih, jadi harus dilatih dahulu," katanya.

Jika telah tiba di Indonesia, kata dia, heli tempur yang menjadi bagian dari penguatan alat utama sistem pertahanan tersebut akan ditempatkan sebagian di Natuna.

"Akan ditempatkan di Natuna, cadangannya di Jakarta," kata dia.

Untuk seluruh alutsista baru, Budiman mengatakan sebagian besar belum datang ke Indonesia. Dia memperkirakan sebagian alat tempur akan datang pada Oktober 2014.

"Diperkirakan pada Oktober 2014, mudah-mudahan lebih dari separuh sudah datang," katanya.


Pramono Bantah Habibie soal Tank Leopard

Teknisi berada di atas Main Battle Tank Leopard yang dipamerkan pada Indo Defense di Jakarta Internatonal Expo, Kemayoran, Jakarta, Selasa (6/11/2012). Pameran tersebut diikuti 500 peserta dari 40 negara. Ajang unjuk gigi industri alutsista ini akan dibuka hari ini dan belrangsung hingga 10 November.

Jakarta, (IMP) -- Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Pramono Edhie Wibowo angkat bicara, membantah kritik Presiden ketiga RI BJ Habibie soal pembelian tank Leopard oleh bekas kesatuannya itu. Dia berpendapat penilaian Habibie tak tepat.

"Kalau Pak Habibie bilang tank Leopard keberatan berton-ton dan nggak ada jembatan yang mampu dilalui tank ini, saya tanya semenjak tank itu datang ke Indonesia apa ada jembatan yang ambruk ?" ujar Pramono di Jakarta, Jumat (28/3/2014). Sebelumnya, Habibie mengatakan, tank Leopard tak cocok dengan karakteristik Indonesia.

Pembelian 116 tank Leopard bekas dari Jerman terjadi saat Pramono menjabat KSAD. Sejak tank-tank itu tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, dibawa ke Mako Kopassus di Cijantung, dan kemudian dipamerkan di Kemayoran, Pramono mengaku langsung memeriksa apakah ada jembatan yang ambruk karena dilewati Leopard.

"Tidak ada yang ambruk. Saya pun bertanya, Pak Habibie ini kenapa menghina Kementerian PU Indonesia yang buat jembatan ? Jangan selalulah membangga-banggakan produk asing," kata anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini.

Selain itu, Pramono pun menepis pandangan Habibie yang menyatakan Indonesia tak membutuhkan Leopard karena tank ini dirancang untuk gurun pasir. Dia mengatakan, negara-negara seperti Brasil, Singapura, Belanda, dan Jerman yang tak punya gurun pasir juga menggunakan Leopard.

Pramono menambahkan, sekarang tak kurang dari 15 negara memiliki Leopard. Menurut dia, keberadaan tank tersebut akan sangat berguna bagi pertahanan Indonesia dalam situasi genting. 

Diberitakan sebelumnya, Habibie mengkritik keputusan Kementerian Pertahanan membeli tank Leopard. Menurut dia, tank Leopard tak cocok sebagai alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia. 

"Kita impor tank Leopard itu untuk apa ? Itu kan untuk negara padang pasir, bukan negara maritim," papar Habibie saat memberikan pidato penutup dalam seminar Uji Publik Capres 2014: Mencari Pemimpin Muda Berkualitas di The Habibie Center, di Jakarta, Rabu (26/3/2014).

"Skenario perang berubah. Sekarang pembuat tank itu mencari orang yang mau bayar besi tuanya. Pakai dong otaknya," ujar Habibie. Terlebih lagi, lanjut dia, tank tersebut memiliki berat mencapai 60 ton. 

Alat seberat itu, menurut Habibie, tidak akan cocok dioperasikan di Indonesia. "Belum tentu bisa lewat jembatan, tidak kuat nanti jembatannya. Dan, saya dengar akan datang langsung 120 (buah), mau taruh di mana ?" ujarnya. 

Habibie meyakini Kementerian Pertahanan sudah mengetahui kondisi-kondisi teknis itu. Namun, menurut dia, Kemenhan sepertinya lebih mementingkan unsur ekonomi dibandingkan unsur teknis dari pembelian tank itu.


Thursday, March 6, 2014

TNI AD Operasikan 28 Panser Korea Selatan

Panser Tarantula TNI AD (photo : jaka92)

(IMP) -- TNI Angkatan Darat mengoperasikan 28 panser kanon Ta­rantula buatan Korea Selatan dengan kanon Cockerill Mk III ukuran 90 milimeter. Kepala Staf TNI AD Jenderal (TNI) Budiman, yang ditemui di Jakarta, Kamis (27/2), mengatakan, untuk pertama kalinya TNI AD menggunakan panser buatan Korsel dengan penggerak enam roda tersebut ditempatkan di Jakarta dan Jawa Timur.

“Ada 20 unit ditempatkan di Jakarta dan delapan unit di Jawa Timur di sebuah batalyon kavaleri di Pasuruan,” kata Budiman. Panser tersebut dibuat atas kerja sama pabrikan Korsel dengan PT Pindad di Bandung, Jawa Barat. 

Uji tembak sudah dilakukan dengan beragam munisi 90 milimeter pada Oktober 2013 di Cipatat, Jawa Barat. Panser kanon tersebut memiliki keunggulan, antara lain, tolak balik (recoil atau entakan) saat menembakkan meriam tidak terasa. KSAD mengatakan akan melakukan transfer teknologi semak­simal mungkin dalam proyek Tarantula.


Friday, January 24, 2014

TNI Akan Diperkuat 8 Helikopter Tempur


Balikpapan, (IMP) -- Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman mengatakan, TNI AD akan diperkuat dengan delapan helikopter tempur AH-64 Apache yang akan didatangkan secara bertahap mulai tahun 2015. "Secara bertahap helikopter tersebut akan kita datangkan mulai 2015 hingga 2017. Helikopter canggih buatan Boeing ini akan dioperasikan oleh para penerbang Angkatan Darat (Penerbad)," katanya di Samarinda, Kamis (23/1).

Ia mengatakan, TNI AD tengah menyiapkan sejumlah titik untuk menjadi pangkalan senjata berawak ini. Menurut KSAD, salah satunya adalah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di kabupaten paling utara Provinsi Kaltim itu selain helikopter Apache, juga akan menjadi pangkalan heli tempur Agusta dan berbagai jenis pesawat lain.

Indonesia membeli varian terbaru dari helikopter serbu tersebut, yaitu versi AH-64E. Sejak 2013, model ini oleh Amerika Serikat, negara pembuatnya, mulai dipakai untuk menggantikan AH-64D Longbow, yang di ASEAN dimiliki oleh Singapura.

Dia mengatakan, AH-64E memiliki mesin T700-GE-701D yang hemat bahan bakar dan lebih efisien sehingga dapat terbang lebih jauh, lebih lama, dan bisa membawa persenjataan lebih banyak. Rotornya terbuat dari bahan komposit yang lebih ringan namun lebih kuat yang membuat jenis heli ini terbang lebih cepat ketimbang seri D.

Jenderal Budiman mengatakan, harga delapan heli lengkap dengan persenjataan dan pelatihan pilot serta kru darat adalah 600 juta dolar AS. Selain Indonesia, katanya, Taiwan, India, dan Qatar juga sudah memesan AH-64E bersamaan dengan Korea Selatan dan Jepang. India bahkan bisa memaksa Boeing melakukan alih teknologi dengan membuat sebagian komponen untuk India di India.

Dia mengatakan, senjata utama Apache AH-64 adalah rudal AGM-114 Hellfire. Rudal ini dijuluki tank-killer atau penghancur tank, julukan yang didapatnya dari berbagai medan perang. Apache membawa 16 rudal Hellfire dibagi ke dalam 4 peluncur di sayapnya dengan jangkauan tembak hingga 12 km.

Senjata lapis kedua dari Apache adalah roket Hydra 70 mm yang dibawa dalam sepasang peluncur roket isi 19 roket. Untuk pertahanan udara, helikopter ini dilengkapi rudal AIM-9 Sidewinder dan AIM-92 Stinger. Heli ini juga bisa mengangkut rudal anti radiasi AGM-122 untuk menghancurkan instalasi radar musuh.

"Jadi kita tunggu saja," kata KSAD Jenderal Budiman.


Tuesday, December 17, 2013

PT. DI Serahkan 3 CN 295 dan 6 Bell 412 EP kepada Kemenhan

Deretan pesawat dan helikopter pesanan diparkir sebelum diserahkan kepada pemesan di Hanggar PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) Bandung, Jawa Barat (photo : bisnis jabar)

Jakarta, (IMP) -- PT. Dirgantara Indonesia menyerahkan tiga pesawat CN 295 dan enam helikopter Bell 412 EP kepada Kementerian Pertahanan. Acara serah terima alutsista itu digelar di hangar Dirgantara Indonesia Bandung, Selasa (17/12/2013). 

Menurut keteranan dari Dinas Penerangan TNI, ketiga unit pesawat CN 295 tersebut merupakan bagian dari rangkaian pembelian sembilan unit pesawat CN 295 yang dilakukan oleh Kemenhan pada 2012. Sebelumnya Kemenhan telah menerima dua pesawat CN 295 dan telah menyerahkannya kepada TNI AU.

CN 295 adalah pesawat berdimensi panjang 24,50 meter, lebar 8,66 meter dan, panjang sayap mencapai 25,81 meter dengan kemampuan jelajah 400 km/jam dan daya angkut sampai dengan 6.000 kilogram.


Pesawat itu akan digunakan sebagai penunjang misi militer TNI, misi kemanusiaan, dan pengiriman logistik. Sebelum menggunakan pesawat CN 295, TNI menggunakan pesawat Fokker F-27.

Adapun enam helikopter Bell 412 EP akan dioperasikan oleh TNI AD. Helikopter ini merupakan helikopter bermesin Twin Turbine Pratt & Whitney PT6T-3D Twin-Pac Engines yang mampu terbang pada ketinggian 5.000 kaki dengan kecepatan 240 km/jam selama 3,7 jam.

Helikopter ini memiliki daya angkut 15 crew. Satu helikopter Bell 412 EP juga diserahkan kepada Kepolisian Republik Indonesia dan dua unit Helikopter AS365 N3-Dauphin kepada Badan SAR Nasional (Basarnas).

Berita acara serah terima tersebut ditandatangani oleh Direktur utama Dirgantara Indonesia, Budi Santoso dan Kepala Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kementerian Pertahanan, Laksmana Muda TNI Ir. Rahmat Lubis.

Acara itu juga dihadiri oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, Kabasarnas Letjen TNI (Mar) Alfan Baharuddin, dan Kapolri Jenderal Polisi Sutarman.


Sunday, November 10, 2013

Penyebab Jatuhnya Heli MI-17


JAKARTA, (IMP) -- Kepala Penerangan Mabes TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul mengatakan, penyebab jatuhnya helikopter MI-17 milik TNI Sabtu (9/11) karena hilangnya daya pada mesin. 

"Penyebabnya adalah mesin kehilangan power, jatuh dan terbakar," kata Iskandar, Sabtu. 

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Kabupaten Nunukan, Octavianto mengatakan, helikopter sedang mengangkut logistik bagi prajurit pengamanan perbatasan Indonesia-Malinau dari Tarakan, Kalimantan Utara.

Menurut Iskandar, sembilan orang terbakar dan beberapa di antaranya tewas.

"Perkembangan yang bisa disampaikan adalah saat ini tengah dilakukan evakuasi. Sembilan orang terbakar, dua dari TNI dan tujuh orang pekerja konstruksi," jelas Iskandar.



(IMP) -- Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) membentuk tim investigasi dan tim pemulihan menyusul kecelakaan helikopter Mi-17 di Pos Bulan Desa Long Jelet Kecamatan Punjungan Kabupaten Malinau Kalimantan Utara.

"Tim investigasi terdiri enam orang dan tim pemulihan berjumlah 12 orang sudah ada di Balikpapan. Besok kedua tim menuju ke Tarakan dan dilanjutkan ke lokasi kecelakaan," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Dispenad) Brigadir Jenderal Rukman Ahmad di Markas TNI AD Jakarta, Sabtu malam.

Rukman mengatakan, TNI AD telah melaksanakan evakuasi korban luka dan saat ini berada di Rumah Sakit Angkatan Laut Tarakan.

"Rencana evakuasi korban meninggal akan dilakukan besok (Minggu, 10/11). TNI AD akan mengerahkan helikopter Mi-17 yang didatangkan dari Semarang dan saat ini telah berada di Surabaya. Serta pesawat Cassa 212 yang di Semarang saat ini sudah berada di Balikpapan," kata Rukman.

Pesawat Cassa 212, lanjut Rukman, akan dipakai TNI AD sekaligus untuk mengangkut korban meninggal ke alamat duka masing-masing.

"Dalam evakuasi ini, TNI AD bekerja sama dengan Pertamina dan perusahaan swasta yang mempunyai helikopter di Tarakan yaitu PT NUH dan PT Travira," katanya.

Terkait kondisi teknis pesawat dan cuaca ketika kecelakaan, Rukman mengatakan, TNI AD masih menunggu hasil tim investigasi.

Sedangkan mengenai santunan, ia mengatakan belum dapat memberikan komentar tentang itu. "Tapi yang jelas, TNI AD akan memberikan perhatian semaksimal mungkin. Wujudnya seperti apa akan kami sampaikan lebih lanjut," katanya.


Wednesday, June 19, 2013

KSAD Wacanakan Peningkatan Persenjataan Kopassus

Persenjataan Kopassus akan dilakukan pembenahan untuk meningkatkan profesionalisme prajurit (photo : Viva)

(IMP) -- Persenjataan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) akan dibenahi guna meningkatkan profesionalisme prajurit. Sebab, pengabdian Kopassus selama ini telah sampai kancah internasional.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Moeldoko mengatakan, pihaknya sudah mendiskusikan mengenai kemungkinan dilakukannya pembenahan persenjataan khusus bagi Kopassus.

“Ada beberapa senjata yang akan dibenahi," ucapnya usai menerima brevet kehormatan di Markas Kopassus (Makopassus), di Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (11/6/2013).

Untuk diketahui, selama ini Kopassus memang menggunakan berbagai jenis senjata khusus. Banyak dari senjata itu tidak dipakai oleh satuan lain di luar pasukan elit TNI.

Selain aspek alat utama sistem senjata (alutsista), KSAD juga menekankan pentingnya peningkatan jiwa profesionalisme para prajurit. Seluruh anggota Korps Baret Merah diminta untuk membangun korps agar semakin membanggakan.

“Sejarah yang pernah diukir dari waktu ke waktu Kopassus harus semakin profesional. Sebagai seorang prajurit, profesionalisme tetap harus dijunjung tinggi,” urainya.

Terkait senjata khusus, Agustus tahun lalu Kopassus juga menerima tambahan 315 senapan baru berupa senjata laras pendek HK MP5 buatan Heckler dan Koch (HK) Jerman. Ini melengkapi 104 senjata sejenis yang sebelumnya telah dimiliki. Penyerahan dilakukan oleh Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin.

Senjata itu hasil pengadaan Kemhan 2010 yang terdiri dari 220 pucuk HK MP5 A4, 48 pucuk HK MP5 A5, 38 pucuk HK MP5 K.PWW, dan 9 pucuk HK SD5. Senjata itu berstandar internasional dan banyak dipakai pasukan khusus angkatan bersenjata dari berbagai negara. Untuk senjata pasukan khusus, pengadaan dilaksanakan secara langsung ke produsen agar terjamin kualitas dan akuntabilitas dari peralatan itu.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen TNI Rukman Akhmad menambahkan, sejauh ini rencana pembenahan persenjataan khusus Kopassus belum sampai ada taraf jenisnya. “Masih akan dibicarakan di tingkat staf,” ungkapnya.

Namun dia mengakui bahwa untuk pasukan elit memang membutuhkan persenjataan yang khusus. Senjata-senjata itu harus memiliki standar internasional.

Adapun Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Sisriadi menambahkan, pengadaan senjata khusus bagi Kopassus ditangani oleh angkatan. “Kemhan lebih pada alutsista yang massif dan membutuhkan biaya besar,” imbuhnya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...