Showing posts with label JERMAN. Show all posts
Showing posts with label JERMAN. Show all posts

Friday, May 24, 2013

Empat Pesawat Latih Grob Siap Dikirim ke Indonesia


(IMP) -- Empat unit pesawat latih Grob G 120TP buatan pabrik Grob, Jerman telah siap dikirim ke Indonesia. Keempat pesawat yang telah diberi warna dan registrasi TNI AU tersebut, diluncurkan (Rolled Out) di pabrik pesawat Grob di Tussenhausen,Mattsies, Jerman, Rabu (22/5/2013), pukul 10.00 waktu setempat.

Upacara Roll Out pesawat Grob G 120TP dilaksanakan oleh CEO Grob, André Hiebeler dan disaksikan oleh rombongan delegasi Indonesia dipimpin Kabaranahan Kementerian Pertahanan RI Laksda TNI Rachmad Ir. Rachmad Lubis. Duta Besar RI untuk Republik Federasi Jerman Dr. Eddy Pratomo dan Atase Pertahanan RI Kolonel Pnb Syamsul Rizal turut menghadiri seremonial ini. Sementara dari pihak TNI AU sebagai pengguna pesawat ini diwakili oleh Asops KSAU Marsda TNI Bagus Puruhito, Aslog KSAU Marsda TNI Ida Bagus Anom Manuaba, Dankodikau Marsda TNI M. Nurullah, serta Komandan Lanud Adisutjipto Marsma TNI Agus Munandar.


Keempat pesawat Latih Dasar (LD) dengan registrasi LD-1201, LD-1202, LD-1203, dan LD-04 tersebut selanjutnya akan dikirim ke Indonesia menggunakan kapal laut dan akan tiba di Indoensia sekitar pertengahan atau akhir Juli 2013. Pesawat Grob G 120TP dibeli Pemerintah Indonesia untuk digunakan TNI AU sebagai pengganti pesawat Latih Mula (LM) AS-202 Bravo dan pesawat Latih Dasar (LD) T-34C yang telah digunakan selama lebih 30 tahun. Indonesia membeli 18 unit pesawat ini sekaligus menjadikannya sebagai launch customer. Ke-18 pesawat dijadwalkan pengirimannya akan selesai tahun depan.


Angkasa yang turut dalam rombongan sempat diberi kesempatan untuk terbang sekitar 15 menit dan mencicipi beberapa manuver menggunakan pesawat serupa milik Grob bersama Chief Test Pilot Ulrich Schell. 


(Angkasa/Roni S)

Tuesday, May 21, 2013

Alutsista dari Jerman Berlabel "Leopard RI"

Tank Leopard buatan Jerman (fineartamerika.com)

Jakarta, (IMP) -- Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, menegaskan dalam waktu dekat pesanan Tank Leopard dari Jerman akan datang. Tank tersebut sudah dimodifikasi dan nantinya akan berlabel "Leopard RI". 

“Leopard itu sudah dimodifikasi dan itu akan terpakai untuk daerah tropis. Karena itu namanya Leopard RI karena sudah di adjusted yang bisa dipakai didaerah tropis,” katanya, Selasa (21/5). 

Tadinya, pemerintah hanya akan mendapatkan 44 Tank Leopard. Tetapi, ia merasa cukup beruntung karena dengan anggaran 44 tank baru, Indonesia justru bisa mendapatkan sekitar 160 Tank. “Tadinya, dengan uang yang sama, kita hitung hanya dapat 44 brand new (tank). Tapi dengan uang yang sama kita bisa mendapatkan 100 main battle tank terus kita dapat lagi sekitar 50 medium battle tank,” katanya. 

Meski bekas, ia menegaskan alutsista tersebut tetap bisa digunakan dan bahkan sudah cocok dengan kondisi NKRI. Menurutnya, hal tersebut justru lebih menguntungkan. 

Untuk diketahui, hal yang sama juga pernah terjadi pada saat pembelian pesawat F16 dari Amerika Serikat. Indonesia pada awalnya akan membeli pesawat baru sebanyak enam pesawat. Tapi dengan F-16 yang tidak baru, namun masih bisa digunakan dan dimodifikasi, Indonesia bisa mendapatkan lebih dari enam unit.


Wednesday, May 15, 2013

Menhan: Beli 114 tank Leopard, Indonesia dapat 50 tank

Tank Leopard 2 (www.militaryphotos.net)

(IMP) -- Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan, Indonesia mendapat tambahan 50 tank dari rencana pembelian ratusan tank dari Jerman. Jumlah tersebut didapatkan tanpa menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Tank tambahan tersebut merupakan kendaraan pengangkut personel jenis Marder. "Itu dalam pengadaan di sana (Jerman). Bukan tambahan dana, pengadaan itu dilakukan sesuai dengan alokasi dana yang ada pada kita," kata Purnomo di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (15/5).

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral era Gus Dur ini melanjutkan, dalam perencanaan yang telah dimasukkan dalam APBN, dana pembelian yang tersedia sebesar USD 280 juta. Dari jumlah itu, Indonesia diperkirakan hanya mendapat 44 unit tank.

"Setelah kita ke sana, kita lakukan negosiasi, ternyata kita bisa dapat 164 unit. Tapi tidak menambah jumlah anggaran," ungkapnya.

Proses pengiriman seluruh tank yang dipesan Indonesia itu dilakukan secara bertahap. Terlebih, Jerman siap untuk segera mengirimkan seluruh pengiriman hingga serah terima.

"Ini yang sedang kita terus (dipotong sendiri). Mereka siap, ya kirim, karena tidak mungkin langsung angkut semuanya," pungkasnya.


Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo berharap, seluruh tank yang dipesan dari Jerman segera diterima Indonesia dalam waktu dekat. Terlebih, pengadaan alutsista sendiri masih berjalan lancar sesuai dengan rencana.

"Perkembangan Leopard bahwa perjalanan untuk pengadaan tetap berjalan sesuai dengan rencana. Kita harapkan tahun ini akan datang, ada uji coba misalnya manuver dengan penembakan, kita berharap sebelum 5 Oktober alat-alat itu sudah datang," ujar Pramono.


Friday, May 10, 2013

Berlin Approves Sale of 164 Tanks to Indonesia

The deal had indicated himself, and now he is perfect: The federal government acknowledges that it has agreed the sale of modern battle tanks to Indonesia. 104 "Leopard 2" 50 and older "Marder" models may be supplied in the country. 
(photo : Defense Studies)

Berlin, (IMP) -- The German government has approved another controversial deal, the German armaments industry into a crisis zone. This gave the German company Rheinmetall by the secret, which meets Federal Security Council authorization of exports of 104 battle tanks "Leopard 2", four Büffel ARV (Bergepanzer), three Leguan AVLB bridge-laying tanks (Brückenlegepanzer) and three Kodiak AEV (Pionierpanzer) in Indonesia. About the upcoming business had previously been the news agency Reuters reported.

Marder 1A2 (photo : Defense Studies)

Apart from said tanks the armaments giant will provide a further 50 armored type "Marder 1A2" to Southeast Asia, in addition to modernize older models of the type for the deal. The previously unknown figures on the billion deal to go from a response of the federal government out of the green Bundestag Katja Keul, the present SPIEGEL ONLINE.

Büffel ARV/Bergepanzer (photo : fahrzeugbilder)

The interest in Indonesia has been known for a long time, but so far, the federal government had kept covered. Indonesia was first asked in the Netherlands for a possible export of "Leopard" tanks, the model is considered one of the most modern battle tank ever. There, but failed on the export Parliament, which made concerns about the human rights situation in Indonesia claimed. Thereupon, Indonesia turned to the Federal Republic.

Kodiak AEV/Pionierpanzer (photo : doppeladler)

Rheinmetall has developed the applications used by the Bundeswehr "Leopard" tanks and the tanks equipped with safety devices and systems for the street fighting in populated areas. Indonesia was interested in this version which is called "MBT Revolution."

Changing export rules

The possible deal with Indonesia had been on a visit to the Chancellor in the summer 2012 issue, then the Indonesian government spoke fairly openly about the interest in the German military vehicles. The Indonesian government said at the time of a routine renewal of the local armed forces and joined a bet against their own people, for example at demonstrations. However, human rights activists were alarmed. Indonesia is not a model country of democracy: In No. 100 the country is listed in the corruption index of Transparency International, Amnesty International speaks of massive human rights violations in individual provinces.

Leguan AVLB/Brückenlegepanzer (photo : Military Today)

With export permits for armored vehicles in third countries by the Federal Security Council, in which all important ministers are represented alongside the Chancellor, Germany changed step by step its previously restrictive rules on arms exports. So far has been that permits for frigates, fast or submarines could also be approved for controversial recipient countries, since it is difficult to engage with these weapons in conflicts inside or violate human rights. Armored vehicles, however, were taboo. "What floats, is what rolling, do not go," was the appropriate dictum of times the long-term Foreign Minister Hans Dietrich Genscher.


Saturday, May 4, 2013

Jerman Setujui Penjualan Tank Leopard 2 ke Indonesia

Teknisi memeriksa Main Batle Tank (MBT) Leopard yang akan di beli oleh pemerintah Indonesia dari Jerman saat persiapan Indo Defence Expo dan Forum 2012 di Kemayoran, Jakarta, (06/11). TEMPO/Dasril Roszandi

Berlin, (IMP) -- Pemerintah Jerman telah menyetujui penjualan sekitar 100 tank Leopard 2 dan 50 kendaraan lapis baja pengangkut personel kepada Indonesia, tetapi menunda keputusan tentang penjualan tank ke Arab Saudi. Soal ini disampaikan sumber di Kementerian Pertahanan Jerman, yang dimuat kantor berita Reuters, Jumat 3 Mei 2013.

Dewan Keamanan Nasional Jerman, yang meliputi Kanselir Angela Merkel dan beberapa menteri kabinet, harus menyetujui penjualan senjata dalam skala besar dan pemerintah tidak memberi komentar atas keputusannya ini.

Indonesia, yang ekonominya terbesar di Asia tenggara, sebelumnya telah mengindikasikan akan membeli 130 tank Leopard dari Rheinmetall AG, Jerman, sebagai bagian dari rencana untuk memodernisasi militernya.

Sumber di kementerian Pertahanan Jerman itu tidak mengatakan berapa besar nilai transaksi pembelian peralatan kebutuhan militer. Namun pihak Indonesia tahun lalu mengatakan bahwa nilai kesepakatan awal untuk membeli 130 tank adalah US$ 280 juta.

Sumber dari kalangan industri mengatakan, Berlin akan menunda keputusan tentang penjualan tank ke Arab Saudi sampai usai pemilu federal pada bulan September. Penjualan tank ini merupakan isu sensitif di Jerman karena oposisi mengkritik penjualan peralatan militer ke beberapa negara Timur Tengah karena adanya catatan tentang pelaksanaan hak asasi manusia di negara-negara itu.


Saturday, March 2, 2013

Indonesia Jajaki Kerjasama Alutsista Dengan Jerman dan Hungaria

(IMP) -- Indonesia akan menjajaki kerja sama alutsista dengan dua negara Eropa Timur yaitu Jerman dan Hungaria. Hal ini akan dibicarakan saat kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Ani Yudhoyono ke Berlin, Jerman dan Budapest, Hungaria pada 3-8 Maret 2013 mendatang. 

Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan bahwa Indonesia sudah banyak keterkaitan dalam hal alutsista dengan Jerman antara lain pesawat latih untuk TNI AU, Tank Leopard dan Tank Marder (segera tiba) dan beberapa alutsista lainnya. Hal inilah yang menjadi masukan Kemenhan kepada Presiden untuk memperkuat kerjasama alutsista dengan Jerman.



Berbicara mengenai Hungaria, mengapa negara ini dipilih, Menhan mengatakan bahwa TNI sejak dulu sudah terbiasa dengan alat-alat dari Blok Timur (Uni Soviet dan sekutu). Perwira-perwira TNI sudah kenal betul dengan alutsista dari Blok Timur. Dari harganya pun alutsista dari Blok Timur lebih murah dan teknologinya sebanding dengan alutsista Blok Barat (AS dan sekutu).

"Kayak Sukhoi. Itu sebetulnya Sukhoi yang kita punya compareable untuk F-15 di mana negara tetangga kita kan juga punya F-15. Bahkan kemarin waktu latihan bersama di Australia dengan Super Hornet, kita bisa mengimbangi mereka, cukup baik. Ya kita memberikan perkembangan modernisasi TNI, sekarang ini kan cukup besar," paparnya usai bertemu dengan Presiden SBY di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2013.


Meskipun Menhan mengatakan ia tidak ikut dalam rombongan kunjungan kerja Presiden itu, namun ia berharap hal itu dapat menjadi masukan saat lawatan ke Jerman dan Hungaria.

Kemenhan sendiri sejauh ini belum akan menambah alutsista dari Jerman. Sebab, sebelumnya sudah ada kerja sama pengadaan tank Leopard dan tank Marder yang kini dimiliki TNI Angkatan Darat.

"(Kerja sama lagi) Belum. Ini just in case saja. Kan presiden akan bertemu pimpinan negara di sana, bicara berbagai sektor kan harus siap. Tidak ada kan lagi proses akhir, dalam arti kata sekarang kita kan akan dapat cukup banyak dari sana," imbuhnya.

Akan ada penambahan ke depannya?

"Nggak sudah cukup itu. Waduh, itu saja sudah efek penggentarnya sudah cukup baik bagi kita," jawabnya.

Sebelumnya Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional, Teuku Faizasyah mengatakan selama kunjungan ke Jerman, Presiden RI akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Federal Jerman dan Kanselir Republik Federal Jerman, Angela Merkel. Kedua pertemuan bilateral tersebut akan membahas tindak lanjut Kemitraan Komprehensif yang diluncurkan oleh Presiden RI dan Kanselir Jerman di Jakarta, pada 10 Juli 2012.

"Selain itu juga akan dibahas secara mendalam prioritas kerja sama di bidang ekonomi (perdagangan, investasi dan pembangunan), kesehatan, pendidikan, riset dan teknologi, serta industri pertahanan. Juga akan dibahas kerja sama terkait ketahanan pangan, ketahanan energi, dan transportasi," kata Faizasyah.

Sementara itu, Menhan menambahkan, dalam waktu dekat ini, tambahan alutsista berupa Tank Marder dari Jerman akan segera tiba, untuk melengkapi 103 Leopard dari Jerman. Tank medium untuk pengangkut pasukan tersebut akan melengkapi alat-alat tempur pasukan Indonesia.
"Jadi dengan ini kita memiliki satuan yang lengkap, ada tank yang light (ringan), medium (sedang), danmain atau heavy (utama atau berat)," katanya.

Menhan berharap, ke depan, Indonesia dapat terus meningkatkan dan mencukupi alutsista yang dimiliki oleh TNI, baik Angkatan Darat, Udara maupun Laut. 


(Detik/Antara)

Monday, February 4, 2013

Tank Marder 1A3 Untuk TNI AD

Tank Marder 1A3 (Foto:defencenet.gr)

Bersamaan dengan pembelian main battle tank dari varian Leopard 2A4 dan varian Leopard Revolution, TNI AD setidaknya juga mendapat jatah 50 buah tank bersenjata angkut personel Marder 1A3, yang juga merupakan buatan pabrikan pertahanan Rheinmetall, Jerman.

Ditilik dari riwayatnya, tank Marder sebenarnya produk lama. Prototipe awalnya saja dirancang tahun 1960-an, dengan produksi perdana pada 1971, yang dilanjutkan dengan pengembangan sejumlah varian hingga tahun 1990-an. Bahkan, untuk saat ini sebagian tank Marder varian awal di Jerman sudah akan digantikan oleh generasi yang lebih baru yaitu Puma.

Meskipun begitu, kehadiran Marder di tanah air tetap akan menambah daya tempur TNI AD. Soalnya boleh dibilang inilah kali pertama TNI AD mengoperasikan kendaraan tempur lapis baja angkut personel yang memiliki daya gebuk jauh lebih baik dari yang selama ini dimiliki. Memang, dari segi pengategorian, Marder ini tergolong apa yang diistilahkan di dunia militer Barat sebagai infantry fighting vehicle (IFV), yaitu kendaraan tempur angkut infantri, namun dengan kemampuan tempur terbatas.

Salah satu ciri khas IFV seperti Marder adalah adanya kanon atau meriamnya berkaliber kecil, yang untuk Marder menggunakan Rheinmetall MK 20 Rh202 kaliber 20 mm . Kanon yang dipakai adalah dari jenis otomatis, artinya peluru tidak perlu di-reload (diisi) satu persatu. Peluru yang digunakan bisa dari berbagai jenis seperti amunisi konvensional, penembus baja serta high explosive (HE) atau amunisi berdaya ledak tinggi. Hal ini jelas tidak dimiliki oleh kendaraan angkut personel yang selama ini dioperasikan TNI AD yaitu AMX VCI serta Alvis Stormer, yang hanya dibekali senapan mesin berat kaliber 12,7 mm atau 7,62 mm.

Bagian belakang Marder 1A3 (Foto:Sonaz/Wiki) 

Sebagai senjata tambahan, pada bagian kiri turret (kubah/menara) kanon terpasang sejajar senapan mesin 7,62 mm. Turret senjatanya busa diputar 360 derajat, sementara kanonnya bisa digerakkan vertikal dari -17 derajat hingga +65 derajat dengan kecepatan 40 derajat per detik. Sebagai tambahan peranti beladiri, Marder dilengkapi dengan tujuh pelontar granat kaliber 76 mm untuk melontarkan granat asap.

Desain interior Marder tak jauh berbeda dengan kendaraan tempur asal Eropa sejenisnya. Pengemudi duduk di sisi kiri depan, sementara mesin berada di sebelah kanannya. Di bagian tengah terdapat tempat untuk dua awak di bawah kubah meriam, di mana komandan kendaraan duduk di kanan dan juru tembak di kiri. Di bagian belakang terdapat ruang pengangkut enam personel infantri yang duduk beradu punggung, bukan berhadapan.

Marder menggunakan mesin diesel MTU MB Ea-500 enam silinder berpendingin cair yang mampu menghasilkan 600 hp (tenaga kuda). Pada varian awal Marder, mesin ini mampu memacu kendaraan hingga 75 km/jam di jalan mulus. Namun pada varian berikutnya di mana sudah tedapat sejumlah modifikasi yang membuat berat kendaraan bertambah secara signifikan hingga mencapai sekitar 35-an ton, kecepatan maksimalnya pun turun menjadi sekitar 65 km/jam saja.

Tipe Tracked multi-role armoured infantry fighting vehicle. Produsen Rheinmetall AG Jerman. Kru 3 + 6 Infantri. Panjang 6,8 m. Lebar 3,4 m. Tinggi 3 m. Berat 33,5 ton. 

Persenjataan 
- Meriam Rheinmetall MK 20 Rh 202 20 mm
- Senapan mesin 7,62 mm
- Enam peluncur granat asap 

Mesin 
diesel MTU MB Ea-500 600hp 

Kecepatan maksimal 
66 km/jam 

Jarak tempuh 
500 km 


(Joko/Lemjiantek/Wikipedia)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...