Showing posts with label Rudal. Show all posts
Showing posts with label Rudal. Show all posts

Saturday, July 12, 2014

Roket Hamas vs Iron Dome Israel


(IMP) -- M-302, adalah roket andalan militan Hamas yang menjadi buah bibir para analis Israel dan Amerika Serikat. Sebab, roket jenis ini menghujani wilayah Israel setiap 10 menit selama Israel menginvasi Jalur Gaza dalam empat hari terakhir.

Para analis itu bertanya-tanya, bagaimana bisa militan Gaza mampu membuat roket yang bisa menjangkau wilayah Israel dalam jumlah besar. Padahal, kondisi ekonomi Palestina sedang sakit sejak Israel memblokade Jalur Gaza beberapa tahun lalu.

Israel selama ini gencar menuduh Hamas menerima pasokan roket seperti itu dari Suriah dan Iran. Tentara Pertahanan Israel (IDF) mencatat, roket M-302 Hamas ditembakkan ke wilayah Israel setiap 10 menit. Bahkan dalam 72 jam, sudah 400 roket ditembakkan. Data itu mengacu dari keberhasilan sistem pencegat rudal Israel, Iron Dome, yang 90 persen berhasil menangkis roket Hamas.

Iron Dome menjadi andalan Israel, sejak Hamas menguasai Jalur Gaza tahun 2007. Menurut IDF, Hamas memiliki gudang dengan 10 ribu bahan mentah untuk pembuatan roket, yang salah satunya bertipe M-302.


Menurut IB Times, pada Kamis (10/7/2014), roket M-302 pertama kali dikembangkan oleh militer Suriah. Namun, roket jenis itu kini sudah biasa digunakan kelompok Hizbullah dan Hamas, serta pasukan loyalis Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Sejak Hamas memperoleh roket M-302, Israel dibuat repot berkali-kali. Hamas setidaknya telah berhasil menembakan roket jenis itu ke wilayah pesirir Hadera , sekitar 30 km dari Tel Aviv atau 70 km dari Jalur Gaza.

Meski Israel meragukan kemampuan Hamas untuk memproduksi roket M-302, namun analis AS justru percaya dengan kemampuan Hamas. ”Hamas mampu memproduksi roket secara mandiri,” kata Patrick Megahan, analis untuk Pertahanan dan Demokrasi yang berbasis di AS, kepada NBC.

“Setelah kita melihat semuanya, kelompok pemberontak di Suriah juga memproduksi beberapa roket tanpa bantuan dari luar negeri. Apakah Iran dan Suriah menawarkan bantuan berupa bahan yang diproduksi secara massal, itu sulit dilakukan di Gaza di mana bahan-bahan terbatas,” ujar Patrick.

Para pemimpin Hamas telah menegaskan bahwa senjata mereka dibuat sendiri dan tidak dijual di tempat lain. Namun, sumber lain menyatakan, roket M-302 tidak hanya diproduksi Suriah, dan Hamas. China juga memproduksi dengan nama Weishi-2 (WS-2).

”Ini dibuat di bawah lisensi dari China,” kata Tal Inbar, analis Israel kepada NBC. Militer Israel mengakui roket M-302 merupakan model roket hebat.” Yang paling canggih, yang bisa menyerang dengan jarak lebih dari 100 mil, dan jika itu digunakan di Gaza maka warga Israel di bawah ancaman,” kata juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Peter Lerner.


Untuk menangkis serangan serangan roket Hamas, Israel terus meningkatkan kemampuan iron dome. Jika pada konflik tahun 2006 dinyatakan keakuratan iron dome 70 persen, maka kini meningkat menjadi 90 persen bisa mencegat roket Hamas di udara.

Irone Dome dilengkapi perisai elektronik dan hulu ledak khusus yang mampu mendeteksi dan menghancurkan target dalam waktu beberapa detik. Amerika Serikat ikut berperan dalam mengembangkan teknologi Iron Dome yang mahapenting bagi keamanan Israel ini. AS menggelontorkan US$ 235 juta untuk mendanai penelitian dan membuat senjata pelindung itu.

Sistem ini merupakan sistem pertahanan anti-rudal untuk mencegat roket Hamas yang menarget Tel Aviv dan Yerusalem -dua kota terbesar Israel.


Menurut CNN, sistem ini bekerja dengan pertama-tama mengidentifikasi rudal masuk dan kemudian menentukan apakah jangkauan dan arah mereka mengancam daerah padat penduduk, seperti sebuah kota. Jika rudal yang masuk dianggap merupakan ancaman, operator Iron Dome meluncurkan kontra-rudal. Rudal ini akan menghancurkan rudal musuh di udara.

Departemen Pertahanan Israel (IDF) mengatakan sistem ini telah mencegat 56 roket yang ditembakkan dari Gaza dengan sasaran Yerusalem, Tel Aviv, Asdod, Askelon, Kiryat Gat, dan di tempat lain. Menurut IDF, lebih dari 250 roket telah ditembakkan dari Gaza.

IDF menyatakan Israel menggunakan sistem Iron Dome hanya terhadap roket yang meluncur ke daerah-daerah berpenduduk. Jika tampaknya menuju sebuah lapangan kosong, Iron Dome tidak diaktifkan. “Sistem ini merupakan inti dari strategi pertahanan Israel,” tulis CNN.

Ada dua pekerjaan utama sistem ini, yakni mengidentifikasi target dan peluncur rudal portabel akan menembakkan anti-rudal untuk meledakkan rudal Hamas di udara. Sistem ini mudah diangkut, dengan hanya beberapa jam saja untuk merelokasi dan mengaturnya.

Rudal Iron Dome memiliki panjang 3-10 meter dengan diameter 15 sentimeter dan berat 90 kilogram, tulis analisis keamanan IHS Jane pada 2012. Hulu ledak diyakini membawa 11-24 kilogram bahan peledak. Jangkauannya mulai 4 kilometer sampai 70 kilometer.

Israel mulai mengembangkan sistem ini pada 2007. Setelah serangkaian tes penerbangan tahun 2008 dan 2009, alat ini pertama dioperasikan pada 2011. Seperti dikutip IHS Jane, Angkatan Udara Israel melaporkan tingkat keberhasilan sistem ini mencapai 70 persen pada 2011.


Apakah Amerika Serikat terlibat dalam Iron Dome? Ya, tulis ABC News. Pengembangan awalnya dilakukan oleh perusahaan teknologi pertahanan Israel, Rafael. Namun sistem ini disponsori AS. Menurut Congressional Research Service, pada 2014 negara adidaya itu memberikan US$ 235 juta untuk penelitian Iron Dome, termasuk pengembangan dan produksi.

IHS Jane menyatakan pembuatan satu unit Iron Dome menelan biaya US$ 50 juta. Sedangkan sebuah rudal, menutur pejabat Israel, dihargai US$ 62 ribu.

“Ini adalah program yang dirancang untuk memberikan keamanan dan keselamatan bagi keluarga Israel,” ujar Presiden AS Barack Obama mengomentari alat ini. The Jerusalem Post melaporkan, negara-negara lain telah menyatakan minatnya untuk membeli sistem ini, termasuk AS, Korea Selatan, dan beberapa negara anggota NATO di Eropa. 


(sindonews/tempo.co/JakartaGreater)

Sunday, March 16, 2014

Lapan Uji Terbang Pesawat EDF dan Turbo Jet

Pesawat EDF siap diterbangkan (all photos : 8ptrkendali)

(IMP) -- Lapan melaksanakan uji terbang pesawat EDF dan Turbo Jet di Landasan Pesawat, Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, Rabu (5/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengujian LSU atau pesawat tanpa awak dan rangkaian pengembangan bidang peroketan.


Pesawat Electric Ducted Fan atau EDF telah diujiterbangkan sejak 2013 dan sukses terbang pada Desember 2013. EDF dapat menempuh kecepatan terbang minimal 200 kilometer per jam. “Pada pengujian kali ini, kami untuk ke sekian kalinya mengulang kesuksesan melakukan uji terbang, pesawat menempuh kecepatan terbang sesuai yang ditargetkan!” tutur Kepala Bidang Teknologi Kendali dan Telemetri yang sekaligus menjadi Kepala Program EDF dan Turbo Jet, Herma Yudhi Irwanto, M. Eng.


Selain menerbangkan EDF, Lapan juga menguji terbangkan RKX 200 TJ. Uji terbang tersebut merupakan bagian pengembangan lanjutan dari pesawat EDF. “Untuk pesawat RKX 200 TJ ini, tahun ini Lapan kembangkan EDF dengan mesin jenis turbo jet yang direncanakan terbang menjangkau kecepatan 250 km/jam,” ujarnya. Meski belum autopilot, menurut Herma Yudhi, target tersebut dapat terpenuhi pada pengujian perdana ini.


Proses tersebut menjadi catatan yang membanggakan bagi Lapan. Hal tersebut merupakan langkah maju pengembangan peroketan Lapan sebagai tahapan pengembangan roket besar yang dapat digunakan untuk peluncur satelit.


Thursday, March 6, 2014

KKIP: Belum Ada Pembicaraan Soal Ekspor Rudal C705 Versi Indonesia


JAKARTA, (IMP) -- Juru bicara Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) RI, Silmy Karim menampik pemberitaan yang diluncurkan media Taiwan, Senin (3/3) kemarin.

Di situ disebutkan, Pemerintah Cina menuntut uang tambahan dari Indonesia atas rencana ekspor rudal antikapal C705 produksi sendiri ke pasar luar negeri. Prototipe rudal C705 sejatinya adalah buatan Cina.

“Belum ada pembicaraan soal itu (rencana penjualan rudal C705 produksi sendiri ke luar negeri). Yang ada baru pembahasan tentang produksi misil untuk memenuhi kebutuhan kita (Indonesia) saja,” kata Silmy saat dikonfirmasi ROL, Selasa (4/4).

Media di Taiwan, Want China Times, sebelumnya menyebutkan Indonesia membeli 40 rudal antikapal C705 dari Cina. Hal ini diungkapkan dalam pertemuan antara para pejabat tinggi militer Cina dan Indonesia yang dipimpin oleh Kepala Staf Umum Tentara Rakyat Cina Jenderal Fang Fenghui dan Panglima TNI Jenderal Moeldoko, di Beijing, akhir bulan lalu.

Want China Times menuliskan, pembelian misil tersebut awalnya direncanakan untuk melengkapi sejumlah kapal cepat rudal (KCR-40) milik TNI Angkatan Laut RI.

Rudal C705 sendiri dirancang dan diproduksi oleh perusahaan industri pertahanan yang berbasis di Beijing, Aerospace Science and Industry Corporation. 

Akan tetapi, tulis laman Taiwan itu lagi, Cina ternyata menolak menyerahkan teknologi (ToT) C705 sepenuhnya ke Indonesia. Ini dikarenakan masih banyaknya negara lain yang mencari atau membeli senjata canggih tersebut dari negeri tirai bambu. 

Beijing malah meminta biaya tambahan dari RI untuk mengamankan hak memproduksi rudal C705 sendiri. Namun, hal ini juga dibantah Silmy. Menurut dia, Cina menyerahkan sepenuhnya teknologi C705 kepada Indonesia. 

“Jadi, tidak ada masalah sebenarnya. Saya malah jadi bertanya, media itu mengambil perkataan saya dari mana? Saya sendiri tidak ikut ke Beijing (menemani Panglima TNI Moeldoko),” jelas Silmy.


Tuesday, December 17, 2013

China Sepakat Bantu Indonesia Bangun Sistem Peluru Kendali


Jakarta, (IMP) -- Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro mengatakan, Indonesia tidak mengincar sistem peluru kendali jarak jauh yang dapat menjangkau antarbenua. Indonesia justru ingin membangun sistem peluru kendali jarak menengah yang bisa menembakkan rudah berjarak 150-300 kilometer.

“Peluncur peluru kendali antarbenua tidak masuk dalam agenda Indonesia. Keinginan Indonesia tidak muluk-muluk,” kata Purnomo usai menerima kunjungan Menteri Pertahanan China Jenderal Chang Wanquan di Gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta. Senin 16 Desember 2013. 

Purnomo menyatakan, saat ini kementeriannya tengah membahas pembelian kapal selam jenis Kilo dan Amur dari Rusia. Kemenhan juga sudah menyetujui kemungkinan penggunaan rudal Club S, yakni rudal antikapal jarak jauh yang diluncurkan dari bawah permukaan air. Jenis peralatan tempur ini termasuk kategori misil pembunuh yang mempunyai jarak tembak hingga 400 kilometer.

Rudal Club S itu akan melengkapi rudal lainnya yang telah dioperasikan oleh TNI AL, yaitu Yakhont. Kemampuan rudal Yakhont dapat menempuh jarak hingga 200 kilometer. 

“Yang kami bangun saat ini yaitu kemampuan peluru kendali yang bisa mencapai 100, 150, 200, 250, dan 300 kilometer, apakah itu dilemparkan dari kapal selam atau pesawat tempur,” kata Purnomo.



Untuk kerjasama militer dengan China, Purnomo mengatakan saat ini Indonesia tengah membahas mekanisme transfer teknologi Rudal C-705 yang akan digunakan oleh Angkatan Laut Indonesia. Rudal C-705 ketika diluncurkan dapat menempuh jarak 150 kilometer.

Ini merupakan bagian dari kerjasama industri pertahanan kedua negara. Kerjasama itu tertuang dalam nota kesepakatan yang ditandatangani Wakil Menteri Pertahanan dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan Industri Nasional Pertahanan Cina.

Dalam nota kesepakatan itu, disepakati lima hal pokok, antara lain pembelian senjata tertentu harus dilakukan antarpemerintah atau Government to Government. Selanjutnya, alih teknologi peralatan militer tertentu mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi,upgrade, dan pelatihan.

Selain itu ada pula produksi dan pemasaran bersama atas produk persenjataan tertentu yang disepakati antara lain rudal kendali C-705. Kesepakatan pembuatan rudal tersebut dibahas ketika digelar pertemuan di Beijing antara perwakilan Kemhan kedua negara pada tahun 2012.

Saat itu disepakati pembuatan bersama rudal antikapal C-705 akan direalisasikan oleh Kemhan serta Badan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Industri Pertahanan Negara (SASTIND) China. 

Rudal C-705 merupakan pengembangan dari C-704. Bentuknya lebih menyerupai miniatur C-602. Pengembangan rudal baru ini fokus ke tiga hal, yakni elemen mesin, hulu ledak, dan sistem pemandu. Desain modular dari mesin baru meningkatkan jangkauan rudal yang sebelumnya 75-80 kilometer menjadi hingga 170 kilometer, dengan jarak efektif 140 kilometer jika didukung sistem targeting di balik cakrawala (OTHT).

C-705 dipersiapkan untuk mengandaskan kapal perang lawan yang berbobot hingga 1.500 ton (kelas light corvette). Daya hancur yang dihasilkan rudal C-705 bisa mencapai 95,7 persen, ideal untuk menenggelamkan kapal.


Dengan Rudal K-77M Absolute Killer Sukhoi TNI AU Jadi Pemangsa Mematikan


Jakarta, (IMP) -- Para produsen pesawat tempur kini terus berusaha menciptakan pesawat tempur generasi kelima, dimana para pengamat keudaraan menyatakan, “The future is now. There is a new era in military aviation: the F-22 Raptor, the F-35 Lightning II and the T-50 PAk FA– the world’s only 5th Generation Fighters.” Jadi kesimpulannya persaingan utama pesawat tempur generasi kelima sementara ini hanya akan terjadi antara pesawat F-22 dan F-35 buatan Amerika Serikat dengan T-50 PAK FA produksi Rusia.

Pesawat generasi kelima dirancang untuk menggabungkan berbagai kemajuan teknologi di atas jet tempur generasi keempat. Karakteristik yang tepat dari jet tempur generasi kelima yang kontroversial dan hanya samar-samar diketahui detail datanya. Pabrik pesawat Lockheed Martin mendefinisikan mereka memiliki semua aspek-siluman (stealth) termasuk ketika pesawat itu lengkap dipersenjatai. Dengan kelengkapan teknologi Low Probability of Intercept Radar (LPIR), high-performance air frames, advanced avionics features dan highly integrated computer systems, pesawat akan terintegrasi dalam sebuah sistem yang memudahkan penerbang dalam melaksanakan tugasnya dalam teater pertempuran udara.

Kini satu-satunya pesawat generasi kelima saat ini yang sudah siap tempur dan beroperasi adalah F-22 Raptor, yang dipergunakan Angkatan Udara AS (US Air Force) sejak tahun 2005. F-22 Raptor kini adalah unggulan USAF yang oleh Lockheed dikatakan sebagai “advanced stealth, extreme performance, information fusion and advanced sustainment.” Pemerintah AS tidak mengijinkan F-22 dijual kepada negara manapun karena itulah tulang punggung pertahanan udara mereka. Sementara F-35 kini sudah dijual kepada sekutu-sekutunya dan dipersiapkan sebagai fighter bomber canggih yang dipersiapkan akan mampu menyusup hingga kegaris belakang musuh. 

Dilain sisi, pesawat tempur generasi kelima Rusia dan Cina diharapkan akan memasuki tahap operasional pada tahun 2017 dimana kini dalam pengembangan lebih lanjut akan sukses bersama-sama dengan kemajuan dari F-35. Bahkan F-35 yang dipergunakan oleh USMC (Marinir AS) kini sudah dikembangkan berkemampuan STOL (Short Take Off and Landing).


Dalam menghadapi persaingan keunggulan di udara, para produsen di Rusia memunculkan design rudal baru dengan kode K-77M , disebutkan oleh Russia Today sebagai “absolute killer.” K-77M mempunyai keunggulan dibandingkan air to air missile lainnya karena implementasi dari “active phased array antenna (APAA),” yang pada dasarnya memecahkan masalah lock- on dengan membahas masalah esensial bidang pandang dari radar. Menurut Rusia Today, K-77M pada dasarnya menerapkan solusi yang mirip dengan sistem rudal SAM (Surface to Air Missile) Patriot buatan Raytheon.

Rudal K-77M pada dasarnya disiapkan untuk melengkapi pesawat tempur Rusia T-50 PAk FA, yang akan membuat pesawat generasi kelima Rusia itu semakin diminati pembeli. K-77M adalah rudal yang paling akurat di kelasnya. Gabungan antara kemampuan “fire-and-forget” dan “single-shot kill.” Sistem ini bertujuan untuk menggagalkan setiap manuver penghindaran pesawat musuh dari ancaman K-77M hingga tidak memungkinkan target dapat melarikan diri.

Rusia Times mencatat bahwa Mikhail Vershinin, chief engineer dari biro desain Detal, perusahaan negara Rusia yang berbasis di kota Kamensk-Uralsky di Ural berharap akan memulai produksinya pada tahun 2015 setelah didirikannya fasilitas produksi. Dengan dilengkapi K-77M, maka T-50 PAK FA akan menjadi pembunuh yang sulit ditandingi. Para pengamat militer menyebutkan bahwa Amerika Serikat tampaknya saat ini tidak memiliki rudal udara ke udara ataupun yang sedang dalam pembuatan yang dapat bersaing dengan akurasi K-77M tersebut.

Yang menarik, K-77M juga dilaporkan kompatibel untuk dipasang pada pesawat tempur Sukhoi generasi sebelumnya juga. Sistem rudal canggih sepenuhnya kompatibel dengan sistem komunikasi digital dari jet tempur generasi kelima, tetapi dikatakan K-77M dipastikan bisa digunakan pada jet tempur modern dari generasi sebelumnya. Ini berarti absolute killer dapat dipergunakan untuk melengkapi persenjataan pesawat Sukhoi yang kini dimiliki oleh TNI AU.

Dengan demikian, maka dalam menjaga kedaulatan negara di udara, nampaknya apabila K-77M siap beroperasi dan Sukhoi TNI AU diberi persenjataan ini, maka Sukhoi TNI AU akan menjadi pemangsa udara teratas yang mematikan. Apabila dibandingkan, akan semakin sulit bagi pesawat-pesawat tempur yang dimiliki negara-negara tetangga di Asia Tenggara, termasuk Australia dapat meloloskan diri dari sergapan penerbang-penerbang TNI AU. Hanya dengan satu tembakan rudal diluncurkan, kemudian tinggal pergi, lupakan, pesawat lawan akan runtuh tanpa mampu menghindarinya.


Thursday, June 20, 2013

Malaysia Invests In Sukhoi Fighter Readiness

Malaysia has allocated RM300 million to increase the combat readiness of the Royal Malaysian Air Force’s fleet of Sukhoi Su-30MKMs. (photo : airwar)

(IMP) -- The events in Sabah, Malaysia, this past March, when local forces conducted Operation Daulat used combat jets to quell the resistance of the Filipino gunmen on the island of Borneo, may have prompted a spate of arms sales to that country and her closest neighbors. 


The armed forces do have a big wish list for weapons, but procurement processes for the most expensive and longest-lead items are likely to be launched properly only after the general elections in Malaysia later this year. In the meantime, the ministry of finance and the royal treasury–the two main watchdogs–are loosening their grips somewhat so as to give the air force the means to improve its fleet readiness.

(photo : pilot strizhi)

Front cockpit with advanced digital fly-by-wire system, Thales supplies the Head-up display (HUD), navigational forward-looking IR system NAVFLIR and laser designation pod (LDP Damocles). Aircraft carries missile approach warning sensor (MAWS) and laser warning sensor (LWS) manufactured by the AVITRONICS.

In late March, Sukhoi won a three-year contract called “The supply of articles, services and technical assistance for Su-30MKM aircraft” worth RM300 million (more than U.S.$100 million), three times the allocation over the previous three-year period. Respective documents were signed by MOD secretary general Datuk Dr. Haji Ismail Haji Ahmad, with Sukhoi deputy general director for marketing Alexander Klementiev and director for after-sales support Vyacheslav Lozan.

Rear cockpit (photo : pilot strizhi)

The increased spending is meant to boost combat readiness of the Royal Malaysian Air Force (RMAF) Su-30MKM fleet from the current level of 65 to 70 percent to 85 percent in the “near term” and eventually increase this to 100 percent. The RMAF’s 11th Squadron stationed at Gong Kedak has 18 heavyweight twin-engine vectored-thrust fighters received new from Irkut’s IAZ factory in 2007-2011. After the manufacturer’s guarantee period expired, most of the Russian support team departed Gong Kedak AFB, leaving only three of their number–and they then left this past January following expiration of the previous service contract.


“The notable increase in spending on our services will allow our specialists to more closely monitor the aircraft operations and shorten the reaction time to RMAF requests for spares and repair services. Importantly, the new contract calls for a permanent presence of Sukhoi advisors and technicians at Gong Kedak,” Klementiev told AIN. The contract calls for deliveries of additional aerodrome equipment, increase of spares and expendables stocks, carrying out on-site repairs of onboard equipment, consultancy and training for RMAF maintainers.

Damocles laser targeting pod (photo : ausairpower)

As part of the aircraft delivery contract, Russia built the Sukhoi Technical Center (STC) at Gong Kedak. It was completed and handed over to the Malaysian government, which appointed Aerospace Technology Systems Corp. (ATSC) to be the operator. To work at full capacity, STC’s warehouses need to be filled with spares, expendables and maintenance tools, as necessary, which will be done under the new contract.


The facility has several workshops and will permit RMAF and ATSC to perform maintenance, except major overhaul of airframes, engines and the most complex parts of onboard systems. Sukhoi assessed ATSC staff members as “well educated” but indicated they need more training in performing manufacturer-prescribed work on Russian-made jets.


RMAF crews have mastered aerobatics and use of vectored thrust, attracting praise from the Russian air force commander Gen. Victor Bondarev, while he was attending the LIMA 2013 show. Following training of the initial group of Malaysian fighter pilots, Sukhoi and Irkut ceased such services four years ago. They hoped the customer would award them a new contract for pilot training “sometime in the future to ensure that the RMAF 11th Squadron crews are able to use the Su-30MKM capabilities to full extent,” including application of precision-guided munitions. “This would require us to send a group of highly skilled engineers and pilots there who have the complete knowledge of the type’s functional capabilities,” said Klementiev.


ATSC was founded in 1994 as a joint venture with a 70-percent stake held by National Aerospace and Defense Industries, and the rest by Russian partners, and runs the MiG Technical Center at Kuantan AFB and MiG Component Repair Center at MEC City. The company claims to have mastered checks on the Su-30MKM after each 200 flight hours and servicing procedures on the airplane’s OEPrNK optronic aiming and navigation complex system, OLS optical locator, N011M “Bars” fire control radar and fly-by-wire systems, as well as AL-31FP engine module changes.


Despite the increase in funding for RMAF, salesmen remain cautious about prospects of replacement for 18 MiG-29N/NUBs delivered in 1995. “We know about the plans of the military, but we also hear about the economy slowdown and the respective position of the ministry of finance. Cost-effective upgrade solutions may win over,” Victor Komardin, deputy head of Russia’s Rosoboronexport arms sales agency, told AIN.


Guided by this knowledge, Rosoboronexport is offering an upgrade package to the RMAF’s 18-year-old MiGs, which will boost their capability and extend their lifetime to 40 years. Should the customer decide to replace the MiGs with newer aircraft, Russia is ready to supply additional quantities of advanced Su-30MKMs or even consider a request for a fifth-generation fighter. “We are keen to take part in any competition in Malaysia that is officially opened,” Komardin said. Other candidates to replace RMAF MiG-29s are the Boeing F/A-18F Super Hornet, EF-2000 Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale and Saab Gripen.


Tuesday, June 4, 2013

Begini Cara AS Tangkis Rudal Suriah

Rudal Patriot (REUTERS)

WASHINGTON, (IMP) -- Untuk mengantisipasi bergolaknya situasi di Suriah, AS mulai berancang melakukan aksi militer. Satu di antaranya dengan mengerahkan baterai rudal Patriot.

Senjata ini dirancang untuk menjatuhkan Scud atau rudal jarak pendek lainnya, yang diketahui sebagai senjata rezim Bashar. Sistem itu juga dapat digunakan sebagai bagian dari "payung" zona larangan terbang atau operasi udara lainnya.

Pentagon telah mengirimkan sekitar 200 tentara ke Yordania, termasuk satu elemen dari markas Angkatan Darat AS, guna membantu negara tersebut dalam menyiapkan rencana aksi militer terhadap suriah. Beberapa skenario yang kemungkinan ditempuh itu juga meliputi pengamanan atas stok senjata kimia yang dimiliki Suriah.

Pengerahan peluncur anti-rudal Patriot itu merupakan tindak lanjut dari peringatan Washington kepada rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad agar tidak memberikan sistem rudal canggih kepada kelompok milisi Hizbullah di Libanon, yang kini mulai mengambil bagian dalam pertempuran guna mendukung Damaskus.

Israel telah beberapa kali melancarkan serangan udara di Suriah guna mengganggu pengiriman rudal ke Hizbullah itu.

Keputusan penempatan jet F-16 dan baterai rudal di Yordania semakin memperkuat spekulasi tentang kemungkinan intervensi militer dari Amerika Serikat, yang sejauh ini menurut Gedung Putih sangat kecil dilakukan.


(Republika/REUTERS)

Monday, May 27, 2013

Peluncur Rudal Jarak Jauh Bikin AU Iran Tambah Pede


(IMP) -- Pasukan Angkatan Udara Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah dilengkapi dengan peluncur rudal jarak jauh dari permukaan ke permukaan. Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi dalam sebuah acara Ahad (26/5) mengatakan bahwa peluncur rudal tersebut dikembangkan secara kolektif oleh Kementerian Pertahanan Iran dan Divisi Angkatan Udara IRGC.

Vahidi lebih lanjut menyatakan bahwa kekuatan rudal Republik Islam hanya bersifat defensif dan digunakan untuk menjaga perdamaian dan dalam rangka pencegahan. "Sekarang, Kementerian Pertahanan, dengan menggunakan strategi kunci kepercayaan diri, kerja keras dan kemandirian, telah merancang dan memproduksi berbagai jenis senjata dan sistem militer di ruang angkasa, laut, udara, darat, serta bidang elektronik dan optik," kata Vahidi.

"Iran tidak ingin berperang dengan negara manapun dan tidak akan menjadi penyulut perang atau konflik, tetapi juga tidak akan mengizinkan segala bentuk agresi atau aksi konfrontatif [terhadap negara itu]," tambah Menhan Iran.

Ditegaskannya, Republik Islam akan memberikan balasan destruktif terhadap segala agresi musuh, yang akan membuat mereka menyesali tindakan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran mengukir prestasi penting di sektor pertahanan dan mencapai swasembada dalam memproduksi peralatan dan sistem militer penting.


Tuesday, May 7, 2013

Korut Pindahkan Rudal dari Pantai Timur


Pyongyang, (IMP) -- Amerika Serikat mendapat laporan, Korea Utara memindahkan dua rudal Musudan yang sebelumnya berstatus siap diluncurkan. Pihak militer Korut pun memindahkan rudal tersebut dari posisi mereka dari Pantai Timur negara itu.

Rudal Musudan memiliki jangkauan sekitar 3.000 hingga 3.500 kilometer (1.900 hingga 2.200 mil). Peluncuran rudal dapat secara dramatis meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea.

Langkah Korea Utara bertepatan dengan persiapan Presiden Barack Obama untuk bertemu dengan Presiden Korea Selatan Taman Guen-hye di Gedung Putih pada Selasa (7/5) ini. Mereka akan mengadakan pembicaraan dan makan siang kerja diikuti dengan konferensi pers bersama.

Padahal, Menteri Luar Negeri AS John Kerry memperingatkan Korea Utara bulan lalu bahwa itu akan menjadi kesalahan besar untuk meluncurkan rudal jarak menengah. Akan tetapi, peluncuran rudal tersebut menempatkan Seoul, Washington dan Toyko dalam ancaman.

Seorang pejabat AS yang tak mau disebutkan namanya memperingatkan, rudal masih dapat berpindah dan fakta tersebut menyiratkan, ada jaminan rudal tidak akan diatur di tempat lain dan menembak di beberapa titik.

"Ini terlalu dini untuk merayakannya sebagai kabar baik," kata Daniel Russel, Direktur Senior untuk urusan Asia di Dewan Keamanan Nasional.

Namun, seorang pejabat AS ketiga, juga berbicara dengan syarat anonim, mengatakan Amerika Serikat tidak percaya rudal pergi ke situs peluncuran alternatif dan bahwa mereka kini diyakini berada di lokasi non-operasional.

Juru bicara Pentagon George Little menolak untuk mengomentari status rudal Korea Utara. "Saya tidak akan lagi mengomentari intelijen. Tapi apa yang kita lihat baru-baru adalah 'jeda provokasi'." Oleh karena itu, Little mengungkapkan, hal tersebut jelas bermanfaat bagi upaya perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.


(Republika/PressTV)

Monday, April 8, 2013

Jepang Perintahkan Tembak Jatuh Rudal Korea Utara

Rudal Korea Utara (ilustrasi)

(IMP) -- Jepang telah memerintahkan angkatan bersenjatanya untuk menembak jatuh setiap peluru kendali Korea Utara yang menuju wilayahnya, kata juru bicara Kementerian Pertahanan pada Senin, saat spekulasi berkembang bahwa Pyongyang mungkin akan menembakkan rudalnya pekan ini.

Menteri Pertahanan Itsunori Onodera mengeluarkan perintah yang akan melibatkan kapal perusak Aegis, yang dilengkapi dengan pencegat rudal yang berbasis di laut dan dikerahkan di Laut Jepang, kata pejabat pertahanan.

Pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat tidak disebut jati dirinya, mengatakan perintah yang dikeluarkan pada Ahad adalah perintah rutin dan tetap bernada rendah.

"Kami tidak akan mengadakan konferensi pers mengenai perintah ini karena kebijakan Jepang berprinsip bahwa 'kami tidak akan terpengaruh oleh provokasi Korea Utara'."

"Jika kami mengumumkan ini secara terbuka dan menjelaskan secara terperinci, Korea Utara akan mengetahui bagian dari strategi kami," kata juru bicara itu kepada AFP.

Perintah tersebut dikeluarkan pada saat seorang pejabat keamanan Korea Selatan pada Ahad mengatakan, Korea Utara melakukan uji coba peluncuran rudal pekan ini, sementara Amerika Serikat menunda uji coba rudalnya karena bisa meningkatnya ketegangan di semenanjung itu.

Kim Jang-Soo, kepala penasihat keamanan nasional President Park Geun-Hye, mengatakan uji peluncuran atau provokasi lainnya bisa saja terjadi sebelum atau setelah Rabu, tanggal di mana Korea Utara telah menyarankan para diplomat meninggalkan Pyongyang.

Korea Utara marah dengan sanksi PBB menyusul uji nuklir dan rudalnya serta oleh latihan militer gabungan Korea Selatan-AS. Pyongyang telah mengeluarkan serangkaian ancaman apokaliptik perang nuklir dalam beberapa pekan terakhir.

Korea Utara juga dilaporkan telah mengisi dua rudal jarak menengah pada peluncur mobile yang tersembunyi di fasilitas bawah tanah dekat pantai timur, memicu kekhawatiran peluncuran semakin dekat yang lebih lanjut dapat meningkatkan ketegangan.


Saturday, March 23, 2013

Uji Terima Senjata Anti Tank NLAW Produk Inggris


(IMP) -- Pada hari Rabu tanggal 20 Maret 2013 di Pusdikpassus - Batujajar - Bandung Barat telah dilaksanakan kegiatan Uji Terima Rudal Anti Tank Guided Misille (NLAW) produk Inggris dihadiri oleh pejabat dari jajaran TNI AD yang berkaitan langsung dengan uji terima Rudal Anti Tank yang berjalan dengan aman, tertib dan lancar. 


Uji Terima Rudal Anti Tank Guided Misille dilaksanakan dalam rangka memenuhi kebutuhan Alutsista Satuan Batalyon Infanteri jajaran TNI Angkatan Darat, dengan demikian satuan Infanteri jajaran TNI Angkatan Darat memiliki daya tempur yang sangat tinggi dalam rangka mendukung tugas pokok TNI Angkatan Darat.


Friday, March 15, 2013

Iran Sukses Uji Coba Rudal Jarak Dekat


(IMP) -- Angkatan Darat Iran berhasil melakukan uji tembak dua peluru kendali jarak dekat, dalam latihan militer di Kota Tengah Kashan, Kamis (14/3) waktu setempat.

Press TV melaporkan Rudal Nazeat 10 dan Fajr 5 secara efektif mencapai target yang ditetapkan dalam latihan.

"Tujuan latihan itu untuk meningkatkan kemampuan pertahanan satuan-satuan pasukan peluncur roket dan rudal," kata AD Iran dalam satu pernyataan.

Rudal Fajr 5 adalah roket artileri 333-mm dari permukaan ke permukaan dengan jangkauan 75 kilometer. Rudal Nazeat 10 adalah rudal balistik jarak menengah dengan jarak sekitar 100 kilometer.

Angkatan Bersenjata Iran sebelumnya menggelar latihan tiga hari, dengan kode Khatam al-Anbia, di provinsi barat daya Khuzestan pada 9 Maret.


(Republika/IMP)

Sunday, March 10, 2013

Iran Siap Uji Coba Tiga Rudal Baru


(IMP) -- Angkatan Darat Iran akan menguji tiga jenis rudal barunya dalam latihan perang yang akan digelar pada akhir tahun kalender berjalan Persia, yang berakhir pada 20 Maret mendatang. "Rudal-rudal yang telah menjalani tes laboratorium itu akan diuji tembak dalam manuver militer mendatang," kata Wakil Komandan Lapangan Angkatan Darat Iran, seperti dilansir kantor berita Irna.

"Jika disetujui oleh Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, latihan perang akan dilakukan di pusat Iran sebelum akhir tahun, "tegas Brigadir Jenderal Kiomars Heidari.

Dilaporkan, beberapa bagian dari unit rudal Angkatan Darat Iran akan digunakan dalam uji pertempuran besar dan taktik operasional. Selama beberapa tahun terakhir, Iran telah mencapai swasembada di bidang produksi sistem peralatan militer penting.

Republik Islam telah berulang kali meyakinkan negara lain, khususnya negara-negara tetangga, bahwa kekuatan militernya tidak menimbulkan ancaman bagi negara lain, sebab doktrin pertahanannya didasarkan pada pencegahan.

Pada tanggal 10 Februari lalu, Deputi Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Mehdi Farahi mengatakan pasukan Iran telah berhasil memproduksi sejumlah peralatan militer penting buatan dalam negeri seperti rudal udara-ke-udara, Fakour, dan jet tempur F14. Versi terbaru dari rudal permukaan-ke-udara, Ra'd (petir), telah diuji pada 31 Desember 2012 lalu.


(Republika/IMP)

Monday, March 4, 2013

China Siap Jadi Pegimpor Pertama S-400 Rusia

S-400 Triumf (Triumph)


(Artileri/IMP) -- China mungkin akan menjadi pengimpor pertama sistem rudal permukaan-ke-udara baru Rusia S-400 Triumf (Triumph), menurut seorang pejabat tinggi di lembaga perdagangan senjata pemerintah Rusia, mengatakan beberapa waktu lalu. Hal ini terkait minat China untuk mengakuisisi sistem pertahanan rudal tersebut.


Sistem pertahanan rudal S-400 memang telah membangkitkan minat besar bagi negara-negara di dunia, ujar Vyacheslav Dzirkaln, wakil direktur Dinas Federal untuk Kerjasama Teknologi Militer Rusia, mengatakan kepada IIntervax-AVN saat pameran persenjataan internasional IDEX di Uni Emirat Arab.


"Ada minat yang besar untuk sistem rudal permukaan-ke-udara kami dari negara-negara asing. Mengenai hal itu, kemungkinan kami akan mendiskusikannya lagi untuk mengekspor mereka (S-400 Triumf) setelah kami memenuhi kebutuhan dalam negeri, dengan kata lain, ketika kami sudah memasok seluruh satuan militer Rusia dengan S-400," kata Dzirkaln.


S-400 memang relatif mahal, dan belum tentu setiap negara mampu membelinya, katanya. "Saya tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa China akan menjadi negara asing pertama yang membeli sistem tersebut," kata Dzirkalin. 


(Artileri)

Thursday, February 28, 2013

Kabar Terbaru C-705 dan KFX/IFX...?


(26/2) malam, (Aries/ARC) -- Kepala pusat komunikasi publik Kementerian Pertahanan mengadakan acara silahturahmi dengan awak media di Gedung Kemhan di Jakarta. Acara tersebut lebih merupakan pisah sambut pejabat baru di lingkungan Komunikasi Publik Kemhan. Kini, Kapuskomlik Kemhan dijabat oleh Brigjen TNI Sisiriadi, menggantikan Brigjen TNI Bambang Hartawan yang akan menempati pos baru sebagai Karo TU Kemhan. Brigjen TNI Sisriadi sendiri bukan orang asing di kalangan awak media. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Kadispen TNI AD. Namun, sebelum menjabat sebagai Kapuskomlik, Brigjen TNI Sisriadi menjabat sebagai Dirtekind Ditjen Pothan Kemhan.


Latar belakang sebagai Dirtekind tersebutlah yang menarik bagi ARC. Dalam kesempatan berbincang-bincang, ARC pun menanyakan soal kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan berbagai negara. Salah satunya yaitu mengenai kerjasama produksi Rudal C-705 dengan China. Birgjen TNI Sisriadi pun menjelaskan, hingga kini proses kerja sama tersebut masih terus dinegosiasikan alias belum banyak perkembangan berarti. Pasalnya, menurutnya pihak China mengajukan skema kerja sama yang tidak bagus bagi Indonesia. "mereka inginnya kerja sama itu dimulai dari awal sekali, seperti bagaimana cara merakit. padahal, kita tidak butuh itu. yang kita butuh itu kan desain, sistem pemandu dan know how-nya", kata Brigjen Sisriadi.


Lebih lanjut, China juga meminta kontrak senilai US$ 35 juta hanya untuk Transfer teknologi bagaimana menguji coba rudal tersebut sebelum digunakan. Sepertipemeriksaan fisik, uji kalibrasi dan lainnya. Menurut Kemhan, hal tersebut tidak bisa diterima lantaran pengetahuan semacam itu seharusnya memang sudah termasuk dalam kontrak pembelian, bukan Transfer Teknologi. Namun demikian, Kapuskomlik Kemhan memastikan bahwa pihaknya telah membeli Rudal C-705 untuk melengkapi KCR-40 buatan PT. Palindo Marine Shipyard. Hanya saja, Brigjen Sisriadi hanya tersenyum ketika dikejar berapa banyak yang telah dibeli. "coba saja kamu hitung sendiri, hingga tahun 2014 kita akan punya setidaknya 6 buah KCR-40. berarti kita beli berapa..?", candanya. Alhasil, untuk masalah Rudal ini, Kemhan masih melakukan negosiasi dengan pihak China.


Selanjutknya Kapuskomlik Kemhan yang baru menjabat itu juga menjelaskan soal Proyek KFX/IFX. Seperti pada berita sebelumnya, tidak ada kabar baru mengenai proyek ini. Kapuskomlik memastikan, di tahun 2013 ini, Korea Selatan menunda pembiayaan program KFX. Hal tersebut dilakukan lantaran Korea Selatan memajukan terlebih dahulu program FX-III mereka. Dari program FX-III tersebut, Korsel akan meminta ToT atau Offset yang nantinya akan digunakan untuk program KFX. Pasalnya memang ada beberapa teknologi yang belum dikuasai baik Indonesia maupun Korsel. Nah, hal tersebut bisa diraih melalui ToT program FX-III. Kapuskomlik Kemhan juga yakin Korea Selatan tidak akan membatalkan proyek ini secara sepihak. "mereka sudah keluar banyak lho.. jauh lebih banyak dibanding kita. akan sangat rugi bagi mereka", tandas Kapuskomlik Kemhan Brigjen TNI Sisriadi.


(Written by Aries/ARC)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...