Showing posts with label TNI-AU. Show all posts
Showing posts with label TNI-AU. Show all posts

Thursday, March 26, 2015

France Ready to Give RI Technology Transfer

Dassault Aviation Rafale (all photos : Okezone) 

(IMP) -- France asserted on Wednesday that it was willing to provide an industrial cooperation with Indonesia should the Dassault Rafale jet fighter be selected to modernize the Indonesian Air Force.

French Ambassador to Indonesia Corinne Breuzé said that France was open to all cooperation possibilities involving French aircraft maker Dassault Aviation and state-owned aircraft maker PT Dirgantara Indonesia (PT DI).


Other than technology transfer, she said that being 100 percent French, the Rafale would allow its users independence. “It is designed with Safran/Snecma for the engine, Thales for the avionics and MBDA for the armament,” she said.


BreuzĂ© was speaking at an event to introduce the French jet fighter to the Indonesian public, at the Halim Perdanakusuma Air Force Base in East Jakarta. 

She said that the decision to bring the Rafale to Jakarta, despite a high level of operational engagement especially in Iraq, was made by the French defense minister and air force following a courtesy call from Indonesian Defense Minister Ryamizard Ryacudu, who met his French counterpart Jean-Yves Le Drian on March 10.

Ryamizard also visited the Rafale’s assembly line in Bordeaux-Merignac during the March visit.

Two Rafale jet fighters, a Rafale B double-seater and a Rafale C single-seater, arrived on Monday from the just-concluded 2015 Langkawi International Maritime and Aerospace (LIMA) exhibition in Malaysia.


There was also a solo aerobatic display performed by Capt. Benoit Blanche of the French Air Force.

The Rafale is a latecomer in the competition to replace the aging American-made F-5 E/F Tiger II operated by the Indonesian Air Force.

The French jet fighter is facing tough competition, locking horns with a stable of other contenders including the Russian-made Sukhoi Su-35, American-made F-16 Block 60, Swedish-made Saab JAS-39 Gripen and the Eurofighter Typhoon, a collaboration between Germany, Italy, Spain and the UK.


The Indonesian Air Force has repeatedly said it prefers the Su-35, the latest iteration of the Flanker family of jet fighters, although the final decision will be made by the Defense Ministry.

Meanwhile, Dassault Aviation executive vice president for America, Africa and Asia military sales JPHP Chabriol told The Jakarta Post that the best example of French will to transfer technology was India, which selected the Rafale.

He said that from an order of 126 units, 18 were supposed to be produced in France and the rest to be produced locally by Indian industries through progressive transfer of technology.

“From French authorities’ point of view as well as from French industry, there is no limitation to transfer technologies of the Rafale to friendly foreign countries,” he said.




He said Dassault and all associated French companies were quite open to discussions with Indonesian actors to set up a program that suited Indonesian requirements.

“We are not imposing anything; we are ready for discussion to define what is the optimized scheme of transfer of technology in the framework of the Rafale bid,” Chabriol said.

Other than technology transfer, Chabriol emphasized that Indonesia would get total independence if it selected the Rafale because, as it is a 100-percent French product, Indonesia would not have to deal with a third party.

Another advantage of buying the Rafale, he added, was that it could be deployed with very minimal logistical support. 


(The Jakarta Post / DEFENSE STUDIES / Okezone)

Yang Ditawarkan Rafale ke Indonesia


(ARC/IMP) Sebagai peserta yang tampil paling akhir, Dassault Rafale tampak berupaya keras menyalip di tikungan akhir menjelang garis finish. Dan tidak main-main upaya yang dilakukan Dassault. Meski paling buncit, pabrikan Perancis ini langsung memboyong 2 unit jet tempur Rafale, untuk diujicobakan TNI-AU maupun Kementrian Pertahanan. Dan aksi yang dilakukan Rafale ini, sejujurnya mengundang decak kagum.


Namun, sebagaimana amanat Undang-Undang Industri Pertahanan, dan sekaligus pemanis kontrak, setiap pabrikan menawarkan sejumlah paket teknologi transfer. Dan untuk mencari tahu hal ini, ARCinc pun berkesempatan bertanya langsung kepada Executive Vice President America-Africa-Asia Military Sales dari Dassault Aviation, J.P.H.P Chabriol. Dan pertanyaan pertama tentunya paket transfer teknologi apa yang Dassault tawarkan ke pihak Indonesia. 

Jawaban Chabriol cukup lugas. Ia menyatakan Dassault siap memberikan apapun yang Indonesia minta sebagai imbal pembelian Rafale. Mulai dari perawatan, produksi sub sistem hingga perakitan penuh (full assembly) jet tempur Rafale di Indonesia. Chabriol mencontohkan, pada penawaran dengan India, lebih dari 100 unit Rafale akan dibangun di dalam negeri India. "Meski jumlah pembelian Indonesia nantinya tidak sebanyak India, paket full assembly pun bisa saja dilakukan," papar Chabriol. 

Selain itu, janji Dassault memberikan transfer teknologi bisa dilakukan lebih mudah lantaran Rafale merupakan jet tempur yang 100% murni buatan Perancis. Artinya tidak diperlukan persetujuan negara ketiga yang memasok subsistem dari Rafale. Bahkan Chabriol juga menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan Industri Pertahanan lain seperti LEN, Pindad dan lain sebagainya.

Permasalahan lain yang kerap mengantui pembelian senjata oleh Indonesia adalah embargo. Untuk hal ini, Chabriol kembali mempertegas bahwa Rafale adalah 100% buatan Perancis. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran mengenai embargo dari negara ketiga sebagai pemasok subsistem. Alutsista buatan Perancis sendiri sudah banyak digunakan militer Indonesia, mulai dari Helikopter, Panser, Meriam, Radar, dan sebagainya tanpa adanya bayang-bayang embargo. 

Bagaimana dengan harga Rafale yang dianggap cukup mahal. Sembari tersenyum, Chabriol menyatakan keberatannya membandingkan Rafale dengan jet tempur yang lebih murah. Namun, ia kembali mencontohkan saat tender di India, dimana Rafale dibandingkan dengan Typhoon. "Setelah melalui beragam kalkulasi meliputi biaya operasional, life cycle, perawatan, Rafale justru lebih murah dibanding Typhoon", klaim Chabriol.


Sementara itu, dari sisi Indonesia, ARCinc bertanya langsung kepada PT.DI , yang juga ternyata salah satu pemrakarsa kedatangan Rafale ini. Dirut PT.DI, Budi Santoso, menyatakan yang ia cari adalah kemampuan mengupdate dan mengupgrade pesawat tempur. Menurutnya, pesawat tempur berbeda dengan pesawat angkut, dimana dalam masa operasionalnya selama 20-30 tahun, harus selalu diupdate sehingga bisa memenangkan pertempuran. Namun demikian, pihaknya tetap menyerahkan kepada pemerintah dan pihak terkait mengenai transfer teknologi yang disepakati.

Lalu bagaimana dengan Typhoon? Bukankah PT.DI sebelumnya tampak bekerja sama dengan Konsorsium Eurofighter? "Oh.. itu hanya pancingan, buktinya Rafale mau datang kan", kata Budi Santoso sambil tersenyum.


(ARC)

Dua Pesawat Tempur C-01 Rafale Prancis Unjuk Kebolehan di Jakarta


Jakarta (IMP) -- Diam-diam tensi persaingan pabrikan pesawat tempur yang ingin produknya ditunjuk menjadi pengganti F-5E/F Tiger II TNI AU meningkat, dan hari ini dua pesawat tempur C-01 Rafale Angkatan Udara Prancis mampir di Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Kedua pesawat tempur bermesin ganda multi peran buatan Dassault Aviation, Prancis, itu diangkut memakai pesawat angkut menengah A-400M Angkatan Udara Prancis, seturut informasi dari Dinas Penerangan TNI AU, Senin.

Mereka merupakan kontingen yang sama dari Angkatan Udara Prancis, yang sebelumnya berlaga di Langkawi International Maritime and Aerospace 2015, Malaysia, beberapa hari lalu. Di ASEAN belum ada pengguna C-01 Rafale.

TNI AU berencana menghapus F-5E/F Tiger II buatan Northrop, Amerika Serikat. Ada beberapa calon pengisi yang sedang getol menawarkan diri, yaitu JAS39 Gripen buatan SAAB AB, Swedia, Eurofighter Typhoon (Eurofighter/konsorsium Eropa Barat), F-16 Fighting Falcon Block 60 (Boeing-Amerika Serikat), dan Sukhoi Su-35 Flanker (Rusia).

Bukan cuma Skuadron Udara 14 (di mana Tiger II tergabung) yang akan dicarikan pengganti pesawat tempurnya, melainkan akan juga dibangun tiga skuadron udara tempur baru. 

Jika diasumsikan satu skuadron berkekuatan 12 hingga 18 pesawat terbang maka diperlukan 48 hingga 64 unit pesawat tempur baru dilengkapi sistem pendukung, sistem perawatan dan pemeliharaan, sistem pelatihan, dan lain-lain. 

Nama C-01 Rafale nyaris tidak pernah disebut-sebut hingga beberapa waktu lalu dan kini dua unit pesawat tempur yang turut alam Operasi Hermattan, di utara Libya, itu menampakkan dirinya. Selain kandungan teknologinya, produk senjata Prancis dikenal memiliki desain sangat menawan dengan harga cukup tinggi. 

Selama di Jakarta, kedua unit C-01 Rafale itu akan unjuk terbang di hadapan petinggi TNI AU. 

Bukan cuma di Jakarta karena demonstrasi terbang —beberapa pilot tempur TNI AU ikut sebagai penerbang tandem— juga dilaksanakan di Pangkalan Udara Utama Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur. Pangkalan udara inilah yang dikenal sebagai “sarangnya” pesawat tempur TNI AU. 

C-01 Rafale dibuat Dassault Aviation (dulu Dassault Breguet) dalam beberapa varian, yaitu Rafale A, Rafale B, Rafale C, Rafale D, dan Rafale M, yang khusus diciptakan untuk ditempatkan di kapal induk.

Rafale, Typhoon, dan Gripen --semuanya bersayap delta dengan sayap kanard-- aktif dalam operasi kemanusiaan di Timur Tengah atas mandat PBB, di antaranya Operasi Karakal (JAS39 Gripen).

Dibandingkan para pesaingnya, sosok Rafale dan Gripen jauh dari menyeramkan namun menyimpan letalitas dan teknologi tinggi dalam memusnahkan lawan di udara, laut, dan darat. 


Saturday, November 8, 2014

Indonesia Tertarik Beli Pesawat Tempur Su-35

Pesawat Tempur Su-35 (Foto: Sukhoi.org)

RBTH, (IMP) -- Kementerian Pertahanan Indonesia tengah mempertimbangkan opsi pembelian 16 pesawat tempur Su-35 dari Rusia. Pesawat tersebut rencananya akan digunakan untuk menggantikan F-5 Tiger II yang dinilai sudah ketinggalan zaman, demikian diberitakan oleh Defense News.

Saat ini Indonesia memiliki 16 pesawat tempur Su-27SK/SKM dan Su-30 MK/MK2. Hingga 2024, akan ada delapan skuadron yang berisi 16 unit pesawat tipe “Su” per skuadronnya. Kemungkinan skuadron tersebut akan diisi oleh pesawat unggulan saat ini, yakni Su-35. 

Opsi pembelian pesawat tersebut telah dibicarakan dalam pertemuan perwakilan Kementerian Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro dengan Kepala Staf dan Komando Angkatan Udara Rusia pada pertengahan Januari lalu.

Yusgiantoro menyatakan bahwa keputusan akhir mengenai pembelian Su-35 masih belum ditetapkan. Komando Angkatan Udara Indonesia juga tengah mempertimbangkan alternatif lain untuk menggantikan pesawat F-5 yang dinilai sudah menua. Selain Su-35, AU RI juga sedang mempelajari pesawat tempur JAS 39 Gripen buatan Swedia, pesawat F-16 Fighting Falcon Block 60, F-15 Silent Eagle dan F/A-18 Super Hornet asal AS, serta pesawat Rafale asal Prancis. Namun, Su-35 merupakan pilihan utama dari daftar kandidat tersebut.


Semua pesawat tempur yang ikut serta dalam tender adalah pesawat paling modern dalam aviasi militer dunia. Jika pesawat tempur Amerika, Prancis, Swedia merupakan perwakilan generasi "4+”, Su-35 bisa disebut sebagai pesawat tempur generasi “5-". Artinya, Su-35 memenuhi kriteria dan spesifikasi pesawat tempur generasi baru secara maksimal, seperti halnya pesawat tempur F-22 Raptor dan F-35. Su-35 tersebut kerap disandingkan sebagai pesaing utama pesawat tempur AS Raptor.

Biro Konstruksi Sukhoi dengan rendah hati mengategorikan pesawat Su-35 ini sebagai generasi “4++”, yakni pesawat yang lebih unggul dari generasi ke empat, namun belum menjadi generasi kelima. Padahal, banyak pesaing dunia yang menyebut Su-35 sebagai pesawat masa depan.


Tak mudah bagi orang awam untuk membedakan pesawat Su-35 dari Su-27, ataupun Su-30MK. Namun sesungguhnya, terdapat perbedaan signifikan antara tiap pesawat tersebut. Skema aerodinamika fuselage(badan pesawat) Su-35 merupakan konfigurasi paling muktahir dibanding para pendahulunya. Su-35 juga memiliki bentuk yang lebih ramping (konfigurasi Kanard) dibanding Su-27, serta tidak memiliki kemudi horizontal bagian hidung pesawat seperti Su-30. Kemudi horizontal yang dibuat pada pesawat Su-30MKI oleh India dapat meningkatkan kemampuan manuver pesawat. Dengan dilengkapi mesin pesawat jet yang memiliki thrust vector control, pesawat Su-30 merupakan pesawat tempur terbaik di dunia.


Manuver udara Cobra Pugachev adalah gerakan pada saat pesawat menambah ketinggian dan pada momen tertentu pesawat tersebut berhenti dan menggantung di udara dengan bertumpu pada ekor (seperti bentuk kepala ular kobra), lalu hidung pesawat mulai menurun seperti halnya daun jatuh, sambil berputar kembali ke posisi semula. Manuver ini tidak dapat dilakukan oleh satupun pesawat tempur lain di dunia. Sukhoi juga mampu melakukan akselerasi dan berhenti seketika sambil mengangkat seluruh permukaan badan pesawat menghadap belakang. Dari posisi tersebut, pesawat Sukhoi dapat melanjutkan penerbangan mereka dengan kecepatan minimum. Bila hal itu dilakukan oleh pesawat tempur lain, kemungkinan mereka akan jatuh.

Kemampuan taktis tersebut digunakan oleh pilot-pilot asal India saat melakukan latihan bersama dengan AU AS serta negara-negara lain. Di salah satu latihan tersebut, pilot India dapat mengalahkan pilot AS yang mengendarai F-15C/D Eagle. Setelah pelaksanaan latihan bersama itu, Jendral AS Hal Homburg yang merupakan Kepala Komando Pertahanan Udara Angkatan Udara AS, dipaksa untuk mengakui bahwa hasil latihan tersebut menjadi kejutan besar bagi para pilot Amerika. “Kami ternyata bukan yang paling unggul di seluruh dunia. Pesawat tempur Su-30 MKI lebih baik dibanding F-15C. Angkatan udara negara yang memiliki pesawat tersebut tentu lebih kuat dan dapat menjadi ancaman bagi keadidayaan Amerika di udara pada masa yang akan datang,” ujar Homburg.

Pilot uji coba Biro Konstruksi Sukhoi Sergey Bogdan mengatakan, pada saat penerbangan pertama Su-35, mereka ditemani oleh pesawat Su-30MK. Ini membuat mereka dapat membandingkan kemampuan mesin masing-masing pesawat. Pada saat penerbangan tersebut, Su-35 melakukan percepatan maksimum dalam moda tanpa pembakaran lanjut, sedangkan Su-30MK harus mengejarnya dengan menggunakan moda pembakaran lanjut karena beberapa kali tertinggal dari Su-35. "Ini merupakan keunggulan tersendiri bagi Su-35 yang dapat memberi keuntungan dan kemampuan lebih besar saat melakukan pertempuran di udara," tutur Bogdan.Kemampuan super manuver Su-35 didapat dari mesin pesawat 117S. Mesin tersebut dikembangkan dari pendahulunya, yakni mesin tipe AL-31F yang dipasang pada pesawat Su-27. Namun mesin 117S memiliki kekuatan dorong yang lebih besar, yakni 14,5 ton, sementara pendahulunya hanya memiliki kekuatan dorong 12,5 ton. Mesin ini juga memiliki keunggulan berupa sumber energi yang lebih besar dan penurunan pemakaian bahan bakar. Hal tersebut membuat mesin ini tidak hanya mampu memberikan kecepatan yang tinggi dan super manuver, tetapi juga kemampuan untuk membawa persenjataan lebih banyak. Mesin tersebut akan dipasang pada pesawat tempur seri pertama T-50 nantinya.

Adapun mode penerbangan kompleks, seperti penerbangan di ketinggian yang sangat minim dengan relief permukaan yang berbukit, dapat dilakukan oleh pesawat Su-35. Selain itu, sistem komputer juga menjaga agar pilot menggunakan senjata tanpa membahayakan pesawat itu sendiri atau agar pesawat tidak lepas kendali. Su-35 juga dilengkapi dengan sistem radar Active Electronically Scanned Array muktahir milik T-50. Sistem radar serupa hanya dimiliki oleh pesawat F-22, dan kemungkinan juga akan dimiliki oleh Rafale. Berkat sistem radar tersebut, Su-35 dapat melihat semua hal yang ada di udara dan di darat dalam radius beberapa ratus kilometer. Su-35 dapat mengikat 30 sasaran sambil mengarahkan senjatanya pada sepuluh sasaran tersebut.Dibanding Su-27, kabin pesawat Su-35 tidak memiliki komponen analog dengan jarum penunjuk. Penunjuk analog tersebut digantikan oleh kristal cair berwarna. Petunjuk itu sama seperti televisi dalam mode Picture in Picture, yakni terdapat layar-layar yang menunjukkan semua informasi yang dibutuhkan oleh para pilot. Semua komponen hidrodinamika pengendali mesin penghasil tenaga digantikan dengan komponen elektronik. Para perancang pesawat mengatakan bahwa hal tersebut tidak hanya menghemat tempat dan beban pesawat, tetapi juga dapat membuat mesin pesawat tersebut bisa dikendalikan menggunakan kontrol jarak jauh. Itu berarti peran pilot sudah tidak dominan, karena komputer akan menentukan dengan kecepatan berapa dan moda mesin seperti apa yang akan digunakan untuk mengejar sasaran, serta pada momen apa saja pilot diizinkan menggunakan senjata.


Para pakar ahli yakin bahwa F-22 maupun T-50 tak akan menjadi komoditas ekspor. Harga satu unit Raptor mencapai 133,1 juta dolar AS, dan T-50 juga bukanlah pesawat murah. Adapun Su-35 yang merupakan generasi setelah “4+” ini dibanderol 30-38 juta dolar AS, yang menjadikan pesawat tersebut sebagai primadona ekspor berlabel “generasi 5-". Ini bukan hanya sebuah langkah pemasaran yang cantik, namun Su-35 memang dibuat untuk melampaui pesawat tempur generasi “4+” asal Eropa seperti Rafale dan Eurofighter 2000, serta pesawat tempur yang sudah dimodernisasi buatan Amerika yakni F-15, F-16, dan F-18. Selain itu, pesawat Su-35 juga mampu menandingi pesawat generasi kelima, seperti F-35 dan F-22A. Hal tersebut diakui oleh para pakar dunia Barat, berdasarkan data-data pemodelan komputer. Kemungkinan fakta inilah yang menarik perhatian badan militer Indonesia.


Thursday, October 16, 2014

PT DAHANA Siap Produksi Bomb P 100 L Untuk TNI AU

Bom P-100 (photo : iberita)

(IMP) -- PT DAHANA (Persero) kini tengah menggarap persiapan produksi bahan peledak militernya, yaitu bomb P 100 Live untuk amunisi pesawat Sukhoi. Sebelum jauh memasuki produksi massal, Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Amirudin Akhmad mengecek langsung perkembangan persiapan alat produksi yang dimiliki oleh Dahana yang berada kawasan Energetic Material Center (EMC) Dahana Subang. Kedatangan Amirrudin Akhmad pada Selasa, 30 September 2014 bersama timnya disambut langsung oleh F. Harry Sampurno Direktur Utama PT DAHANA (Persero) beserta tiga direksi lainnya.

“Kami ingin mengetahui, sudah sejauh mana perkembangan persiapan proyek Bomb P 100 L yang sudah dilakukan oleh DAHANA, karena sebelum menuju produksi massal, DAHANA sudah harus mempersiapkan Protoype P 100 L yang nantinya akan kami uji untuk mendapat sertifikasi, apakah cocok dengan kebutuhan kita,” terang Amirudin Akhmad kepada Dfile.

Untuk melihat langsung persiapan yang telah dilakukan oleh DAHANA, Tim EMC mengajaknya untuk meninjau langsung perlengkapan yang sudah dipersiapkan dan disimpan sementara di Gedung Workshop DAHANA. Nampak beberapa perlengkapan yang telah disiapkan pada tahap awal ini. Lempengan cetakan untuk uji kepadatan handak serta alat pemanas dan pendingin yang akan digunakan saat pengisian bahan peledak pada bomb produksi P 100L. Tim juga diajak mengecek laboratorium sebagai tempat uji formula serta meninjau langsung pabrik meltpour yang nantinya sebagai tempat pengisian handak bomb pesawat Shukoi.

Melihat apa yang telah disiapkan oleh DAHANA, Amirudin Akhmad pun berharap DAHANA untuk segera menyelesaikan tahap awal pembuatan P 100 L. “Kita kan mulai lagi dari nol, jika melihat apa yang telah disiapkan untuk langkah awal sudah sangat memadai, oleh karena itu saya berharap ini secepatnya terealisasi agar nantinya bisa memasuki tahap produksi missal,” ujar Amirudin Akhmad.

Dalam menangani proyek ini, PT DAHANA (Persero) tidak sendirian, namun menggandeng perusahaan swasta untuk bekerjasama, PT Sari Bahari dalam pembuatan body P 100 L.

Bom P 100 L merupakan bomb yang akan dipasang pada pesawat Sukhoi. Bomb ini memiliki warna khas yaitu hijau yang panjangnya 1.130 mm dengan berat 100 sampai 125 kg, berdiameter 27 mm dan memiliki ekor yang panjangnya 410 mm. 


(BUMN)

Tuesday, September 30, 2014

Paket Menarik Eurofighter untuk Indonesia

Eurofighter Typhoon (all photos : militaryphotos)

(IMP) -- Dalam waktu dekat Kementerian Pertahanan dikabarkan akan kembali mengakuisisi jet tempur baru untuk mengisi hanggar Skadron Udara 14, yang sebentar lagi ditinggalkan jet pencegat F-5E/F Tiger II.

Salah satu kandidatnya adalah Eurofighter Typhoon, yang belakangan gencar ditawarkan pihak Airbus Defence & Space. Bagi Angkasa, kemunculan pesawat ini terbilang menarik, setidaknya oleh karena dua hal. Pertama adalah karena pesawat ini sejatinya dibuat berdasarkan filosofi atau kebutuhan khusus untuk sistem pertahanan udara Eropa. Dan kedua, karena pesawat ini ditawarkan dengan paket transfer teknologi yang bisa digunakan untuk masa depan industri kedirgantaraan Indonesia.

Keunggulan yang ditawarkan Typhoon ada pada dua dapur pacu Eurojet EJ200 berkekuatan masing-masing 13.490 pon dengan thrust-weight ratio 1,15 untuk menjamin kemampuannya mengejar dan menaklukkan lawan secara cepat di udara. Dengan sepasang canard yang terpasang di depan, pesawat sayap delta ini dijamin mampu melakukan gerakan menekuk dengan angle of attack yang jauh lebih impresif dibanding jet tempur pada umumnya. Gerakan menekuk amat diperlukan karena langit negara Eropa terbilang sempit.


Angkasa mencatat, Typhoon telah dirancang sejak 1980-an - ketika banyak negara Eropa tengah dihantui ekses Perang Dingin - namun baru bisa diterbangkan untuk pertama kali pada 1994 atau empat tahun setelah Perang Dingin usai. Manuverabilitas yang tinggi jadi persyaratan utama karena jet tempur ini akan digunakan sebagai tulang tombak penghadangan jet-jet tempur Uni Sovyet yang umumnya dirancang untuk menembus pertahanan udara lawan dan melakukan pemboman masif.

Penggarapan pesawat ini dipecah di empat pabrikan yang terletak di Jerman (DASA), Inggris (BAe), Italia (Aeritalia), dan Spanyol (CASA) yang pengintegrasiannya dikendalikan secara terpusat oleh Eurofighter Jagdflugzeug GmbH. Oleh sebab restrukturisasi yang diberlakukan Uni Eropa, pembuatan dan komersialisasinya kini dilimpahkan kepada BAE System, Alenia Aermacchi dan Airbus Defence & Space.

Nah, karena kewenangan penjualan atas segala produk Airbus DS untuk Indonesia dan sekitarnya kerap dilimpahkan kepada PT Dirgantara Indonesia, upaya penjualan Typhoon di wilayah ini pun dititipkan kepada manajemen pabrik pesawat yang ada di Bandung tersebut.


Pihak Kementerian Pertahanan dan KKIP (Komite Kebijakan Industri Pertahanan) sendiri memastikan bahwa Typhoon sudah masuk sebagai kandidat. Bersama Sukhoi Su-35 (Rusia), Dassault Rafale (Perancis), Saab Jas-39 Gripen (Swedia), Boeing F/A-18E/F Super Hornet (AS) dan Lockheed Martin F-16 Block 62, pesawat ini akan segera diseleksi menurut kebutuhan operasional (ops-req) yang diajukan TNI AU.


"Pesawat-pesawat itu kini sedang dikaji. Keputusan baru akan diambil setelah pemerintahan baru berkuasa. Kita tunggu saja" ujar sebuah sumber. Pernyataan ini serta-merta mementahkan berita online yang menyatakan bahwa Pemerintah telah menyatakan positif membeli dan tengah menunggu pengirimannya.

Lalu seperti apa persisnya transfer teknologi yang ditawarkan? Belum ada rincian pasti. Namun, seperti diungkap Vice President Bisnis dan Pemerintahan PT Dirgantara Indonesia, Irzal Rinaldi Zailani, transfer teknologi yang ditawarkan bisa mengarah ke teknologi atau elemen yang diperlukan dalam perancangan jet tempur KFX/IFX. Oleh karena proses perakitannya bisa dilakukan di Bandung, enjinir PT DI juga bisa ikut menyerap ilmu dalam pembuatan jet tempur.

KFX/IFX adalah prototipe jet tempur masa depan yang tengah dirancang Korea Selatan bersama Indonesia. Merujuk Angkasa (Februari 2014), meski telah menuntaskan tahapan Pengembangan Teknologi pada akhir 2012, pemenuhan standar generasi 4,5 yang diharapkan masih menemui sejumlah kendala. Pesawat ini diantaranya belum menemukan mitra yang benar-benar mau "berbagi" teknologi radar penjejak sasaran multi-fungsi (AESA) dan mesin pendorong berkekuatan besar.

Dari tiga gambaran mesin yang dinilai cocok, yakni Eurojet EJ200, General Electric F-414 dan General Electric F-414 baru pihak Eurojet-lah yang menawarkan diri. Di lain pihak General Electric (AS) menyatakan berat untuk berbagi mesin yang kini menjadi andalan F/A-18E/F Super Hornet itu, namun tidak dengan GE F-100 yang selama ini dipakai F-16 versi awal.

"Kami tak mau pakai F-100, karena daya dorongnya terlalu kecil. Kami tetap pada prinsip bahwa jet tempur yang dihasilkan harus yang unggul. Kalau seadanya, itu sama saja cari mati," ujar Dr Rais Zain, M.Eng, KFX/IFX Configuration Design Leader kepada Angkasa. 
Selain itu, kedua pihak juga masih mencari sistem persenjataan yang bisa disimpan dalam internal weapon bay, sistem data-link yang bisa mengacak komunikasi darat-udara dan perangkat anti-jamming.


(Angkasa Magazine, No 12/XXIV, September 2014)

Thursday, July 10, 2014

F-16 C/D TNI AU Bisa Setara F-16 C/D Block 52 ?

Skema warna F-16 C/D TNI AU (image : Angkasa)

(IMP) -- Pesawat tempur F-16 C/D yang saat ini sedang di-upgrade di Hill AFB memiliki nama resmi F-16 C/D k 52 ID, memang akan memiliki kemampuan dalam banyak hal setara F-16 Block 52, khususnya kecanggihan avionik, kemampuan tempur, dan jenis persenjataannya. Seluruh pesawat hibah sebelumnya digunakan AU AS dan sudah disimpan dengan baik di Davis Monthan AFB/AMARG (Aerospace Maintenance & Regeneration Group) di gurun yang sangat kering sehingga sangat ideal sebagai tempat penyimpanan pesawat AU AS. Sementara seluruh mesin pesawat F-16 C/D 52ID yaitu F100-PW-220/E menjalani upgrade di pabrik Pratt & Whitney di Old Kelly AFB, sehingga memiliki umur komponen dua kali lebih lama dari mesin standar.

Sebetulnya F-16 C/D 52ID F-16 berdasarkan F-16 C/D Block 25 yang memiliki bentuk fisik dan berat kotor maksimum serta tipe mesin yang sama dengan F-16 Block 15 A/B OCU yang kita miliki. F-16 C/D 52ID memiliki berat kotor maksimum 37.500 lbs dan mesin jet turbo fan yang sama yaitu Pratt & Whitney F100-PW-220/E dengan daya dorong 24.000 lbs sehingga memiliki thrust to weight ratio 0,64. Beda dengan F-16 C/D Block 52 yang mempunyai berat kotor maksimum 52.000 lbs dan didorong mesin F100-PW-229 dengan daya dorong 29.000 lbs yang memiliki T/W ratio 0,56. Dalam close combat atau pertempuran udara jarak pendek, F-16 TNI AU dengan T/W ratio lebih besar memiliki kelincahan lebih baik dari F-16 Block 52.

Selanjutnya pesawat menjalani upgrading dan refurbished rangka serta sistem avionik dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center di Hill AFB, Odgen, Utah. Rangka pesawat diperkuat, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua sistem lama direkondisi menjadi baru dan sistem baru ditambahkan agar pesawat lahir kembali, siap menjadi pesawat baru dengan kemampuan jauh lebih hebat dari saat kelahirannya.

Menyangkut peningkatan kemampuan memang F-16 C/D Block 52 dengan daya dorong lebih besar mampu mengangkut senjata lebih berat dan bisa dipasang Conformal Fuel Tank di punggung dan menggotong drop tank 600 gallon sehingga bisa terbang lebih jauh. Namun untuk urusan pertempuran udara, dengan rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder P-4/L/M dan IRIS-T (NATO) serta rudal jarak sedang AIM-120 AMRAAM-C, jelas F-16 C/D 52ID TNI AU tidak kalah dengan Block 50/52.

Bahkan dipastikan dalam duel jarak dekat, F-16 C/D 52ID TNI AU mampu mengungguli Block 50/52 soal kelincahan.Untuk serangan permukaan darat dan perairan, F-16 ID juga mampu menggotong persenjataan kanon 20mm, bomb standar MK 81/82/83/84, Laser Guided Bomb, rudal AGM-65 Maverick, AGM-84 Harpoon antikapal, AGM-88 HARM antiradar, ACMI Pod serta mampu menggunakan navigation dan targeting pod untuk operasi malam hari serta misi Suppression Of Enemy Air Defence (SEAD), yaitu menghancurkan pertahanan udara musuh. Improved data modem memungkinkan penerbang melakukan komunikasi tanpa suara hanya menggunakan komunikasi data dengan pesawat lain dan radar darat, radar laut atau radar terbang.

Upgrade F-16 C/D 52ID tidak main-main karena mengejar kemampuan setara dengan Block 52, di antaranya memasang Mission Computer MMC-7000A versi M-5 yang dipakai Block 52+ dan bahkan F-22, dilengkapi komputer sistem kemudi (FLCS) digital, sepasang Multifunction Displays Berwarna block-52, HUD lebar block-52 dengan kemampuan night vision, digital terrain system & Digital Moving Map block 52, color cockpit camera block-52, throttle grip & side stick controller Block-52, countermeasures management switch to control ALE-47, voice message unit untuk collision avoidance system dan ground avoidance advisory function Block-52.

Pemindahan landing/taxi lights ke nose landing gear door untuk memberi tempat pada targeting pod, improved data modem link 16 Block-52, embedded GPS INS (EGI) block-52 yang menggabungkan fungsi GPS dan INS, common data entry electronics unit Block-52, AN/ALQ-213 electronic warfare management system, ALR-69 Class IV radar warning receiver, ALE-47 countermeasures dispenser set untuk melepaskan chaff/flare serta pemasangan instalasi drag chute Block-52 yang akan dipasang di Indonesia.

Sementara radar AN/APG-68 (V) di-upgrade software agar meningkat kemampuannya sesuai mission computer 7000A. Prinsipnya F-16 C/D 52ID TNI AU menjalani program The Common Configuration Implementation Program (CCIP) seperti yang dilakukan pada F-16 CD Blok 40/42 AU AS agar meningkat menjadi standar Blok-50/52.

Semua F-16 C/D 52ID TNI AU juga menjalani modifikasi struktur rangka pesawat dengan program Falcon STAR (Structural Augmentation Roadmap) sehingga umur rangka pesawat menjadi lebih dari 10.000 jam. Hal ini memungkinkan pesawat dipakai 10 tahun lagi sebelum menjalani Dervice Life Extension Program (SLEP) yang mampu menambah umur rangka pesawat sekitar 2.000 jam atau 10 tahun masa pakai.

Pada saat usia pakai F-16 C/D 52 ID berakhir maka diharapkan Indonesia sudah memiliki armada pesawat tempur modern masa depan generasi 4,5 atau generasi 5. F-16 C/D 52ID ini merupakan jembatan yang sangat baik untuk membawa Indonesia selangkah lebih maju, tidak hanya menghasilkan penerbang dan teknisi yang mahir, namun juga membawa kita untuk bersama-sama menguasai teknologi, manajemen, dan taktik pertempuran udara modern, khususnya dalam operasi gabungan dengan alutsista lain di darat, laut dan udara. Sehingga tahu apa yang diperlukan Indonesia untuk membangun air power yang kuat.


Wednesday, March 26, 2014

F-5 Tiger TNI AU Masih Berfungsi Baik

Pesawat tempur F-5 Tiger TNI AU (photo : Kaskus Militer)

Solo, (IMP) -- Komandan Skadron Udara 14 di Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahjudi, Letnan Kolonel Penerbang M Nurdin, mengatakan, pesawat tempur F-5E/F Tiger II di skuadron udara itu masih berfungsi sangat baik. 

Kesiapsiagaan jajaran pesawat tempur buatan Northrop, Amerika Serikat, itu masih sangat baik. "Sejak diperintahkan scramble, F-5 itu bisa langsung diudarakan," kata dia, di Solo, Jawa Tengah, Senin. Dia memimpin jajarannya dalam latihan tempur udara di Pangkalan Udara Utama TNI AU Adi Sumarmo, Solo. 

Biasanya, latihan bersama Skuadron Udara 15 (T-50 Golden Eagle) seperti itu dilaksanakan di Madiun; namun dipindah ke Solo karena ada pemasangan alat pengait (arrester) di landas pacu di pangkalan mereka. Alat ini mirip seperti pengait yang dipasang bersama jaring penahan di kapal-kapal induk. 

Menurut dia, F-5E/F Tiger II yang dibeli Indonesia pada 1980 itu sejak awal memang dirancang sebagai pesawat interceptor alias penyergap di udara. Konsep pertempuran yang pas untuk F-5 adalah menyergap, bukan dengan memata-matai terlebih dulu. 

Sejak dibeli 34 tahun lalu, F-5E/F Tiger II itu telah mengantar banyak penerbang tempur TNI AU mengantongi ribuan jam terbang dan meraih pangkat, jabatan, dan posisi-posisi puncak. TNI AU dan Angkatan Udara Kerajaan Thailand menjadi pemakai utama F-5E/F Tiger II di ASEAN. 

Thailand bahkan mengakuisisi dalam jumlah jauh lebih banyak ketimbang Indonesia. 

Thailand, Chile, dan Brazil bahkan membangun program perpanjangan dan pemutakhiran F-5E/F Tiger II ini sesuai keperluan mereka. Sedangkan Indonesia tidak, memilih mengganti.


Friday, February 14, 2014

Indonesian Air Force Draws Up Shopping List



(IMP) -- Boasting one of the fastest growing economies in the world is allowing Indonesia to invest much-needed funds in its military. After years of stagnation caused by the 1997 financial crisis, leading to most of Indonesia’s military acquisition programs being cancelled, the situation deteriorated further when the U.S. imposed an arms embargo in 1999 that lasted until 2005.

The Indonesian Air Force (TNI-AU) entered into only one major acquisition program during that period, procuring Su-27 and Su-30 Flankers from Russia to bolster its aging fighter fleet. The TNI-AU had never ordered Russian aircraft after the failed communist coup in 1965 but it was left with no option after Western companies stuck to the arms embargo.

This deal led to a pair of Su-27SKs and two Su-30MKs being delivered to SkU 11 [Skadron Udara (SkU)–air squadron] at Hasanuddin, Sulawesi, in August/September 2003, followed by three Su-30MK2s in late-2008/early-2009 and a trio of Su-27SKM variants in 2010.

With military budgets set every five years, the armed forces are now drawing up a shopping list for 2015-19. Local industry, particularly PT Dirgantara Indonesia (PTDI), will play a major part in how this money is spent. The past 15 years has not been kind to the company; it was hit massively by the 1997 crisis. However, in July 2011, EADS-Airbus Military signed a strategic collaboration with PTDI to assist with revitalizing Indonesia’s national aerospace industry, mainly by growing PTDI’s manufacturing output. The two companies enjoy a long-standing manufacturing relationship, which goes back to the days of CASA and PTDI’s predecessor: IPTN.


While PTDI is an important supplier of the C212 and CN 235 light/medium transport and surveillance aircraft to Airbus Military, it also works closely with another EADS company, Eurocopter. In July 2011, Eurocopter signed a new teaming agreement with PTDI consisting of industrial cooperation as well as marketing Eurocopter products to the Indonesian government for use in the domestic market. The partnership between the two companies began 35 years ago, and has seen some 130 BO-105s, 11 SA330s and 20 AS332 Super Pumas built under license production at Bandung. An assembly line was set up for the Super Puma in 2008, integrating PTDI into Eurocopter’s global supply chain.

Some believe PTDI does not provide the military value for money, but nonetheless it will become a major benefactor from the 2015-19 budgets, even if the fighters will take much of the money as they did in the previous five years.


After the initial acquisition of nine Flankers, the Indonesian MOD signed a $470 million contract with JSC Rosoboronexport on Dec. 29, 2011, for six more Su-30MK2s, delivered in February, May and September 2013. A close source has told AIN that the Russian aircraft have been “troublesome,” with usual issues concerning spares.


After the OV-10 Broncos were withdrawn from use several years ago, the TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara–Indonesian Air Force) was left with no close-air-support aircraft until eight Embraer Super Tucanos were ordered in November 2010. The first four were handed over to SkU 21 at Abdulrachmen Saleh (Mulang) during the third quarter of 2012 following a ceremony in Brazil on Aug. 6, 2012. A contract for a second batch of eight aircraft was announced on July 10, 2012, with deliveries expected in 2014.

In May 2011, the TNI-AU ordered 16 Korean Aerospace Industries (KAI) T-50Is in a $400 million deal, with the first two being delivered on Sept. 11, 2013. All 16 were to have been delivered by the end of 2013, but delays meant that only 10 had been delivered by then and the rest should have arrived before the Singapore show started. The T-50Is, fitted with gun and weapons pylons, will eventually replace the Hawk Mk 53s of SkU 15. Six have been delivered in the colors of Elang Biru, the TNI-AU’s jet aerobatic team.


A $750 million FMS deal to acquire 24 upgraded F-16 Block 32IDs was agreed with the U.S. government in November 2011. The contract comprises 19 single-seaters and five dual-seaters, with the first four aircraft due in mid-2014, followed by four every three months. Work on the jets is under way at Ogden Air Logistics Center, Utah, where a TNI-AU Project Office comprising six people has been set up. The aircraft will be delivered initially to SkU 16, based at Madiun-Iswahyudi, until the infrastructure at Pekanbaru is ready. Their arrival will allow the aging fleet of six F-16As and three F-16B Block 15s to go through a Falcon Up upgrade. The F-16s have suffered spares shortages in recent years, but these issues have not been limited to F-16s.

The fleet of 33 multi-role Hawk 109/209s delivered to SkU 1 at Pontiniak and SkU 12 at Pekanbaru in the mid-’90s has been hit particularly hard, especially with issues stemming from the Adour Mk 871 engines.


The fleet of 11 F-5s that was upgraded by SABCA (now Belgian Aerospace) in the late-1990s was grounded twice during 2013. Even if spares problems are resolved, the veteran fighter will soldier on only until 2018, so funds are likely to be earmarked for a replacement in the 2015-19 budget. One solution was the new K-FX (Korean fighter) program the Indonesians were jointly developing with Korea. However, in late 2012 the South Korean government put an 18-month hold on this $8 billion project that should have led to 50 K-FXs being delivered to the TNI-AU and 200 to the ROKAF. A first batch of five was scheduled for delivery to Indonesia in 2020, but the project is more likely to be cancelled. As a result, the money is being spent overhauling nine C-130Hs acquired free of charge from the Royal Australian Air Force and buying six CASA 295s for a special-mission fit.

There is speculation the TNI-AU could now acquire former USAF F-15s to replace the F-5s, while RFIs have also been sent to Saab (Gripen), Dassault (Rafale) and Eurofighter.



With some 17,000 islands making up the world’s largest archipelago, Indonesia needs to maintain a modern airborne maritime surveillance fleet in a bid to confront increasing threats from pirates, smugglers and terrorists. This led the TNI-AU to order another much needed CASA CN 235 maritime patrol aircraft (MPA) in 2012, with a Telephonics system and Star Safire HDI FLIR turret. Delivery is expected in 2015. The order comes six years after the first and only MPA was delivered to SkU 5 at Makassar.


An initial requirement for three MPAs led to a contract being signed with Thales in 1996, but a single aircraft was delivered, with an AMASCOS 200 system, and the other two remained as basic transport aircraft with SkU 5. With obsolescence now creeping in, PTDI has been contracted to replace the Thales Oceanmaster radar with Telephonics’ AN/APS 143C(V)3 maritime radar.


There is also an urgent requirement for a SIGINT platform, which could be purchased during the next five-year budget plan, in 2015-19. It is likely one of the CASA 212s serving the TNI-AU will be upgraded with new systems. The three aging Boeing 737-200 Surveiller Side-Looking Airborne Modular Multi-mission Radar (SLAMMR) aircraft are in desperate need of replacement, and speculation is the TNI-AU will go for an increased number of CN 235-220s with SIGINT systems on board to replace them.


16 CN-295 have been acquired (photo : peter tonna)

The TNI-AU relies predominantly on PTDI for its medium-to-small airlift needs. Five CN 235s operate with SkU 2 at Halim, replacing five Fokker 27s grounded in 2012 after a fatal accident. They work alongside three CASA 295s of 10 on order. There is a keen interest in acquiring special-mission systems for an additional six CASA 295s, with Texas-based ATK offering their palletized gunship system.


There are currently two tactical airlift squadrons in the TNI-AU: SkU 31 at Halim-Perdanakusuma operates a mix of C-130H-30s, L100-30s and C-130H; while SKU 32 at Abdulrachman Saleh flies 10 C-130B/Hs, including two KC-130Bs tankers that represent the TNI-AU’s sole air-to-air refueling capability. With close links to Airbus Military it is likely they will be replaced by two A330MRTT hose/drogue and boom aircraft.


As a result of acquiring the nine ex-RAAF C-130s, a third C-130 unit, SkU 33 will stand up at Makassar. There is a real need to provide support to the Sukhois and this should be the solution, with tactical needs in the region also being covered. It is not clear whether the new C-130s will actually be SkU 32 assets, or if they will be split among all the units.


12 EC-135 will equipped TNI AU (photo : saxonair)

Helicopter training takes place at Kalijati with SkU 7 on 50-year-old Bell 47G Soloys. These stalwarts are used by newly qualified pilots fresh from Yogyakarta for basic helicopter training. Their short-term future is secure because the unit’s EC120 Colibris are also being used to cover SAR detachments. Longer term, 12 EC135s on order will replace the operational role of the EC120, allowing it to revert to the training role for which it was acquired, and easing the Soloys into retirement.


SkU 6 at Atang Senjaya near Bogor flies four of 18 Super Pumas ordered in 2000. Another three NAS332L1s with SkU 45 at Halim are being used in the VIP role alongside two Eurocopter-built AS332L2s. Also based at Atang Senjaya is SkU 8, which flies a handful of NSA330 Pumas. Six EC725s have been ordered for the Special Forces role and should be delivered in 2014-15 to a new unit, SkU 9 at Kalijati. It is not clear if they are taking up the slack that the Super Pumas failed to deliver.



Pilot training is carried out at Yogyakarta with SkU 101, instructing students on the AS202 Bravos, flying 120 hours on elementary training. However, the Bravo’s days are expected to end within the next few years, as the TNI-AU ordered 18 Grob G120TPs in 2012. The first batch of 10 aircraft was delivered in 2013, and a further batch of eight are to arrive in 2014. Modernization of the Flying Training Academy got under way in 2003 when SkU 102 took delivery of 16 KT-1T Woongbees for instructor training. Longer term there is also a need for a basic trainer replacement.

The next five-year budget, for 2015-2019, will be set in mid-2014 and projects such as airborne early warning and control (AEW&C), tankers, new fighters, SIGINT aircraft as well as new weaponry are all under review. It is unlikely the Russians will figure highly in any future acquisition.


Friday, January 24, 2014

Skadron 16 Siap Tampung F-16 Hibah Amerika Serikat


Jakarta, (IMP) -- Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara hampir merampungkan pembangunan infrastruktur untuk menampung 16 pesawat tempur F-16 yang dibeli dari Amerika Serikat. Panglima Komando Operasional Angkatan Udara Satu Marsekal Muda Muhammad Syaugi mengatakan Skadron Udara 16 di Pekanbaru, Riau, siap menampung kedatangan pesawat legendaris bikinan Amerika Serikat tersebut.

"Hanggar, shelter, taxi way, dan infrastrukturnya di Pekanbaru sudah hampir selesai," kata Syaugi kepada wartawan di Markas Komando Operasional Angkatan Udara Satu, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat, 24 Januari 2014.

Menurut Syaugi, Indonesia mendatangkan 24 pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat. Pengiriman pesawat itu dilakukan bertahap. Untuk Skadron 16, kata Syaugi, bakal ada 16 unit pesawat F-16 yang akan bermarkas di sana. Delapan unit pesawat F-16 bakal ditempatkan di Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur.

Mantan pilot pesawat tempur F-16, F-5 Tiger, dan Hawk 100/200 ini meyakinkan bahwa 24 pesawat F-16 blok 25 sudah dibekali senjata seperti rudal. "Kalau pesawat tempur tak ada senjatanya namanya pesawat angkut," katanya sembari tertawa.

Syaugi berharap tambahan pesawat tempur F-16 mampu memperkuat pengamanan wilayah udara Indonesia, khususnya kawasan barat dan utara, termasuk kawasan Selat Malaka. Sebab, sampai saat ini wilayah tersebut hanya dijaga oleh pesawat tempur Hawk 100/200 yang sudah terbilang uzur.


Friday, December 27, 2013

Pesawat T-50i Kesembilan dan Kesepuluh Datang

Pesawat T-50i kesembilan dan kesepuluh datang dengan skema warna non aerobatic, namun menggunakan skema warna Tempur Taktis (all photos : Francis Neri)


(IMP) -- Komandan Lanud Balikpapan Kolonel Pnb Ir Tri Bowo Budi Santoso,MM menyambut kedatangan dua jet latih tempur T-50i Golden Eagle yang dipesan Republik Indonesia dari Korean Aerospace Industries (KAI). Tepat pukul 15.40 dua pesawat T-50i landing di baseops Lanud balikpapan untuk melaksanakan transit dan pengisian bahan bakar sebelum meneruskan perjalanannya esok hari menuju Pangkalan Udara (Lanud) Iswahjudi di Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, rabu (25/12).

Dua pesawat tersebut merupakan pesawat ke-9 dan ke-10 dari total 16 pesawat yang Negara Indonesia pesan dengan no seri TT 5009 dan TT 5010. Selanjutnya pesawat tersebut akan berada di bawah koordinasi TNI Angkatan Udara untuk meningkatkan kekuatan alat utama sistem persenjataan atau alutsista Negara Indonesia.


Pesawat T-50i Golden Eagle tersebut akan menempati rumah barunya (home base) di Skuadron 15 Lanud Iswahjudi. Selanjutnya pesawat T-50i Golden Eagle akan menggantikan pesawat Hawk Mk-53, dikarenakan Pesawat Hawk MK-53 tidak akan digunakan lagi karena sudah tua dan mulai kesulitan mencari suku cadangnya.

Sebagai pesawat jet latih tempur, pesawat T-50i juga bisa di gunakan untuk misi pertempuran di udara. Untuk menambah daya tempur pesawat T-50i Golden Eagle juga bisa dilengkapi dengan persenjataan yang dapat digunakan dalam berbagai misi. Diantaranya AIM-9 Sidewinder, bom MK-82, BDU-33, AGM-65 Maverick, MK-20 Cluster Bomb Unit, dan bom pintar JDAM. (pentak Lanud Bpp)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...