Showing posts with label Helikopter Serang. Show all posts
Showing posts with label Helikopter Serang. Show all posts

Friday, March 28, 2014

TNI Mulai Latih Pilot Apache

(photo : Jimmy van Drunen)

Semarang, (IMP) -- TNI mulai melatih pilot yang akan menerbangkan helikopter serang Apache sebagai salah satu kesiapan sebelum kedatangan alat tempur asal Amerika Serikat itu pada 2017.

"Delapan Apache keseluruhannya baru akan tiba pada 2017," kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Budiman usai kunjungan di Pangkalan TNI Angkatan Darat Bandara Ahmad Yani Semarang, Kamis.

Tahun ini, lanjut dia, para pilot yang akan menerbangkan heli tempur tersebut akan dilatih bekerja sama dengan Amerika Serikat.

Untuk latihan tersebut, Indonesia akan memperoleh pinjaman heli. "Ini kan heli canggih, jadi harus dilatih dahulu," katanya.

Jika telah tiba di Indonesia, kata dia, heli tempur yang menjadi bagian dari penguatan alat utama sistem pertahanan tersebut akan ditempatkan sebagian di Natuna.

"Akan ditempatkan di Natuna, cadangannya di Jakarta," kata dia.

Untuk seluruh alutsista baru, Budiman mengatakan sebagian besar belum datang ke Indonesia. Dia memperkirakan sebagian alat tempur akan datang pada Oktober 2014.

"Diperkirakan pada Oktober 2014, mudah-mudahan lebih dari separuh sudah datang," katanya.


Friday, January 24, 2014

TNI Akan Diperkuat 8 Helikopter Tempur


Balikpapan, (IMP) -- Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman mengatakan, TNI AD akan diperkuat dengan delapan helikopter tempur AH-64 Apache yang akan didatangkan secara bertahap mulai tahun 2015. "Secara bertahap helikopter tersebut akan kita datangkan mulai 2015 hingga 2017. Helikopter canggih buatan Boeing ini akan dioperasikan oleh para penerbang Angkatan Darat (Penerbad)," katanya di Samarinda, Kamis (23/1).

Ia mengatakan, TNI AD tengah menyiapkan sejumlah titik untuk menjadi pangkalan senjata berawak ini. Menurut KSAD, salah satunya adalah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di kabupaten paling utara Provinsi Kaltim itu selain helikopter Apache, juga akan menjadi pangkalan heli tempur Agusta dan berbagai jenis pesawat lain.

Indonesia membeli varian terbaru dari helikopter serbu tersebut, yaitu versi AH-64E. Sejak 2013, model ini oleh Amerika Serikat, negara pembuatnya, mulai dipakai untuk menggantikan AH-64D Longbow, yang di ASEAN dimiliki oleh Singapura.

Dia mengatakan, AH-64E memiliki mesin T700-GE-701D yang hemat bahan bakar dan lebih efisien sehingga dapat terbang lebih jauh, lebih lama, dan bisa membawa persenjataan lebih banyak. Rotornya terbuat dari bahan komposit yang lebih ringan namun lebih kuat yang membuat jenis heli ini terbang lebih cepat ketimbang seri D.

Jenderal Budiman mengatakan, harga delapan heli lengkap dengan persenjataan dan pelatihan pilot serta kru darat adalah 600 juta dolar AS. Selain Indonesia, katanya, Taiwan, India, dan Qatar juga sudah memesan AH-64E bersamaan dengan Korea Selatan dan Jepang. India bahkan bisa memaksa Boeing melakukan alih teknologi dengan membuat sebagian komponen untuk India di India.

Dia mengatakan, senjata utama Apache AH-64 adalah rudal AGM-114 Hellfire. Rudal ini dijuluki tank-killer atau penghancur tank, julukan yang didapatnya dari berbagai medan perang. Apache membawa 16 rudal Hellfire dibagi ke dalam 4 peluncur di sayapnya dengan jangkauan tembak hingga 12 km.

Senjata lapis kedua dari Apache adalah roket Hydra 70 mm yang dibawa dalam sepasang peluncur roket isi 19 roket. Untuk pertahanan udara, helikopter ini dilengkapi rudal AIM-9 Sidewinder dan AIM-92 Stinger. Heli ini juga bisa mengangkut rudal anti radiasi AGM-122 untuk menghancurkan instalasi radar musuh.

"Jadi kita tunggu saja," kata KSAD Jenderal Budiman.


Monday, August 26, 2013

AS Umumkan Jual 8 Apache ke Indonesia



JAKARTA, (IMP) -- Amerika Serikat akan menjual delapan helikopter serbu, Apache ke Indonesia. Kesepakatan bernilai 500 juta dolar itu, menurut keterangan resmi Kementrian Pertahanan AS, Senin (26/8) juga termasuk radar, pelatihan dan perawatan.

"Kami kini tengah menggarap detail lebih lanjut mengenai pengiriman dan kerangka waktu untuk latihan," ujar seorang pejabat dengan syarat tak mau diungkap namanya seperti dilansir Straits Times, Senin.

Penjualan helikopter Apache AH-64E produksi Boeing itu diumumkan dalam kunjungan Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel ke Jakarta. Ini adalah pemberhentian ke-2 dalam perjalanan sepekan ke empat negara Asia Tenggara yang diawali di Malaysia pada Sabtu kemarin.



(Republika/Reuters)

Wednesday, May 15, 2013

Turki Segera Diperkuat Helikopter Serang Produksi Dalam Negeri


Ankara, (Artileri/IMP) -- Angkatan Darat Turki sedang dalam masa penantian untuk menerima helikopter serang pertama buatan dalam negeri "T-129 ATAK." Berbicara saat pameran pertahanan IDEF 2013 di Istanbul, perwakilan pabrik helikopter ini mengatakan bahwa Angkatan Darat Turki akan menerima pengiriman helikopter pertama dalam beberapa minggu ke depan.

Empat helikopter serang T-129A sekarang siap untuk secara resmi diserahkan kepada Angkatan Darat dan awalnya akan digunakan untuk melatih para pilot dan staf pemeliharaan. Selain empat helikopter ini, tiga helikopter lainnya saat ini tengah menjalani uji coba.

Turkish Aerospace Industries (TAI), kontraktor utama program helikopter serang ini, telah meningkatkan produksi helikopter T-129 menjadi satu helikopter per bulan, dan produksi akan terus meningkat hingga total pengiriman 59 helikopter selesai pada 2018.

Dua prototipe telah diproduksi dan akan dijadikan sebagai bahan penelitian untuk berbagai kemungkinan pilihan upgrade. Secara total, program helikopter serang ini telah mencapai 2500 jam terbang.

T-129, adalah helikopter serang dengan dukungan termasuk roket, senjata dan perlengkapan peperangan elektronik terintegrasi. Pengembangan terus dilakukan pada helikopter ini. Akhirnya muncul T-129B yang dilengkapi dengan integrasi rudal Cirit dan UMTAS. T-129B yang pertama akan memulai uji kualifikasi pada pertengahan 2013 nanti dan produksi penuhnya dijadwalkan akan dimulai pada 2014. Untuk tes IR-guided UMTAS dijadwalkan berlangsung pada bulan Juli.



Kru
2 (Pilot dan co-pilot/gunner)

Panjang 13,45 m

Diameter rotor 11,9 m

Tinggi 3,4 m

Maksimal lepas landas 5 t

Mesin 2 × LHTEC CTS800-4A turboshaft (masing-masing 1,361 shp)

Sistem rotor 5 blade (pisau/baling) di rotor utama


Kecepatan 269 km/jam

Jangkauan 561 km

Service ceiling 6, 096 km

Rate of climb 14 m/dtk


Senjata 
1x20 mm kanon tipe gatling tiga laras (500 rounds)

Roket 
4 pods dengan
- 38x81 mm roket tanpa bimbingan (unguided)
- 76x70 mm roket tanpa bimbingan
- 12,7 mm pod senapan mesin

Rudal 
- 8× AGM-114 Hellfire, BGM-71 TOW, Hydra 70, Spike-ER, UMTAS, rudal Roketsan Cirit anti-tank dan anti-lapis baja, dan Sura D/Snora
- 4-8× AIM-92 Stinger atau Mistral atau rudal anti-pesawat AIM-9 Sidewinder

Sebenarnya T-129 ini bukan murni desain Turki. TAI bekerjasama dengan pabrikan helikopter Agusta Westland (Inggris-Italia). Ini lebih kepada versi turunan dari Agusta A129 Mangusta. Dilihat dari tampilan, kedua heli ini hampir tidak memiliki perbedaan.


Monday, April 29, 2013

Pemerintah Kirim Tim Khusus untuk Pembelian Apache

(photo : Neil Jones)

SEMARANG, (IMP) -- Rencana pembelian helikopter (heli) serbu Apache bakal terealisasi. Sebab, dalam waktu dekat tim khusus Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan TNI AD sudah akan melihat beberapa varian heli ini.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jendral TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, rencana penguatan sistem persenjataan TNI dengan pembelian heli Apache ini tetap ditindaklanjuti pemerintah.

Sekarang prosesnya ada di Kemenhan, tetapi dalam waktu dekat ada tim khusus yang akan berangkat ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Dari TNI AD tim khusus ini akan dipimpin Wakasad dan dari Kemenhan akan dipimpin Sekjen Kemenhan.

Tim khusus TNI AD dan Kemenhan ini, ia menjelaskan, akan melihat langsung beberapa pilihan sebagai pembanding untuk heli-heli yang akan datang. Menurut KSAD, ada banyak pilihan heli yang akan dilihat.


"Misalnya ada tipe Zulu yang merupakan Super Cobra spesifikasi serang/ serbu yang bisa menjadi pembanding," ujar Pramono, usai memberi pengarahan kepada pasukan latihan gabungan (latgab) TNI dan Satgas TNI untuk misi perdamaian Darfur, Sudan (UNAMID), di Lanumad Ahmad Yani, Semarang, Sabtu (27/4). 

Selanjutnya, masih menurut KSAD, juga heli jenis Bell 412 yang akan dilengkapi dengan roket dan tentunya Blackhawk. "Yang jelas kalau Apache sudah akan dilihat bulan depan. Namun kalau Blackhawk masih kita koordinasikan," katanya menambahkan.

Sementara terkait dengan latihan gabungan (latgab) Matra TNI yang akan dilaksanakan pada Mei mendatang, Pramono mengakui, TNI AD akan mengerahkan Satuan Helikopter terbesar.

Latgab akan diawali dengan latihan parsiil (pralatgab), mulai 1 hingga 4 Mei mendatang di Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Satuan helikopter TNI AD, ini nantinya akan menjadi satuan untuk mendukung serangan udara satuan darat dalam gerak di lapangan.

Selain itu juga untuk mendukung mobilitas dan pemindahan pasukan secara cepat. Sedikitnya 10 helikopter jenis Bel 412, MI 17, MI 35 untuk bantuan serangan dari udara. Meski mengerahkan armada heli terbesar, latihan ini tidak terkait dengan adanya ancaman terhadap keutuhan NKRI.

Tetapi latgab ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan pasukan TNI. "Ini merupakan wujud kesiapan prajurit TNI dan kelanjutan dari latihan- latihan sebelumnya," kata Pramono menjelaskan.


Friday, April 19, 2013

Batal Beli Apache, Indonesia Beli Heli Buatan PTDI

Helikopter Apache. military-today.com

Jakarta, (IMP) -- Komisi Pertahanan DPR menyatakan Indonesia batal membeli delapan unit helikopter serbu canggih dari Amerika Serikat, Apache Longbow. DPR beralasan harga Apache terlalu mahal. 

"Bukannya tidak mendukung TNI, tapi kami memprioritaskan anggaran," kata Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, saat dihubungi Tempo, Kamis, 18 April 2013.

Untuk pembelian alat sistem pertahanan Angkatan Darat, dia menambahkan, diprioritaskan tank tempur utama Leopard. "Lagi pula tank ini kan baru, diprioritaskan."

Batalnya pembelian Apache bukan berarti Indonesia tak jadi membeli helikopter serbu. Indonesia kini mengalihkan pandangan kepada 16 helikopter Bell buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). 

Menurut Hasanuddin, ini karena harga Bell lebih murah ketimbang Apache. "Memang Bell tidak sehebat Apache, tapi kita belum mendesak untuk beli Apache," kata dia.

Saat ditanya apakah pembelian Apache dibatalkan karena ada kontrak dengan PT DI, politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menjawab tidak. Dia bersikeras masalah utamanya adalah harga yang kemahalan.

"Lagi pula kalau beli produk PT DI, kita ikut mengembangkan industri pertahanan dalam negeri," ujarnya.

Pemerintah Amerika Serikat pernah menawarkan untuk menjual delapan helikopter AH-64 D Longbow Apache kepada Indonesia. Produk tempur bikinan Boeing ini memang sudah termasyhur di dunia lantaran sukses dalam banyak misi Angkatan Darat Amerika Serikat.


Wednesday, April 17, 2013

Korea Selatan Beli 36 Helikopter Serang AH-64 Apache

Helikopter AH-64E Apache saat melundurkan roket AGM-114 Hellfire di udara. Helikopter serang buatan Boeing Company, Amerika Serikat, ini sekelas dengan Eurocopter Tiger dan Kaman Ka-52 Aligator buatan Rusia. (air.attack.com)

Seoul, (IMP) -- Korea Selatan mengonfirmasikan pembelian 36 unit helikopter serang Boeing AH-64E Apache Guardian senilai 1,5 miliar dolar Amerika Serikat. Pembelian itu terjadi saat ketegangan makin memuncak di Semenanjung Korea. 

Badan Program Pengadaan Alat Pertahanan (DAPA) Korea Selatan, mengatakan, ke-36 AH-64E Apache Guardian itu akan lengkap hadir pada 2016. Jika lengkap semua, Korea Selatan bisa membuat tiga skuadron kaveleri udara terdiri helikopter serang ini. 

Apache merupakan helikopter serang yang dapat menghancurkan tank utama dan kendaraan lapis baja lain, selain memberi payung udara pada operasi pasukan infantri serta misi militer lain. Dia memiliki empat cantelan (pods) bagi roket AGM-114 Hellfire dan roket udara-darat Hydra-70.

Dengan kehadiran AH-64E Apache Guardian itu, Korea Selatan semakin percaya diri menghadapi provokasi Korea Utara. 

Keputusan membeli 36 AH-64E Apache Guardian itu dibuat saat semenanjung Korea tetap berada dalam keadaan ketegangan militer yang tinggi dengan Korea Utara yang mengancam "perang thermo-nuklir" karena marah pada sanksi-sanksi PBB yang baru dan pelatihan militer gabungan Amerika Serikat-Korea Selatan, Foal Eagle 2013.

Badan itu menolak merinci harga dan hanya mengatakan perjanjian itu termasuk alih teknologi tetapi kantor berita Yonhap mengatakan proyek itu akan menelan biaya 1,8 triliun won atau 1,5 miliar dolar Amerika Serikat.

Korea Selatan akan merupakan negara keempat membeli helikopter bermesin dua itu setelah Amerika Serikat, Taiwan dan Arab Saudi, kata Yonhap.

Helikopter itu akan menggantikan satu armada helikopter AH-1 Cobra yang telah beroperasi selama puluhan tahun di Korea Selatan, kata para pejabat DAPA.


Saturday, March 2, 2013

Indonesia Jajaki Kerjasama Alutsista Dengan Jerman dan Hungaria

(IMP) -- Indonesia akan menjajaki kerja sama alutsista dengan dua negara Eropa Timur yaitu Jerman dan Hungaria. Hal ini akan dibicarakan saat kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Ani Yudhoyono ke Berlin, Jerman dan Budapest, Hungaria pada 3-8 Maret 2013 mendatang. 

Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan bahwa Indonesia sudah banyak keterkaitan dalam hal alutsista dengan Jerman antara lain pesawat latih untuk TNI AU, Tank Leopard dan Tank Marder (segera tiba) dan beberapa alutsista lainnya. Hal inilah yang menjadi masukan Kemenhan kepada Presiden untuk memperkuat kerjasama alutsista dengan Jerman.



Berbicara mengenai Hungaria, mengapa negara ini dipilih, Menhan mengatakan bahwa TNI sejak dulu sudah terbiasa dengan alat-alat dari Blok Timur (Uni Soviet dan sekutu). Perwira-perwira TNI sudah kenal betul dengan alutsista dari Blok Timur. Dari harganya pun alutsista dari Blok Timur lebih murah dan teknologinya sebanding dengan alutsista Blok Barat (AS dan sekutu).

"Kayak Sukhoi. Itu sebetulnya Sukhoi yang kita punya compareable untuk F-15 di mana negara tetangga kita kan juga punya F-15. Bahkan kemarin waktu latihan bersama di Australia dengan Super Hornet, kita bisa mengimbangi mereka, cukup baik. Ya kita memberikan perkembangan modernisasi TNI, sekarang ini kan cukup besar," paparnya usai bertemu dengan Presiden SBY di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2013.


Meskipun Menhan mengatakan ia tidak ikut dalam rombongan kunjungan kerja Presiden itu, namun ia berharap hal itu dapat menjadi masukan saat lawatan ke Jerman dan Hungaria.

Kemenhan sendiri sejauh ini belum akan menambah alutsista dari Jerman. Sebab, sebelumnya sudah ada kerja sama pengadaan tank Leopard dan tank Marder yang kini dimiliki TNI Angkatan Darat.

"(Kerja sama lagi) Belum. Ini just in case saja. Kan presiden akan bertemu pimpinan negara di sana, bicara berbagai sektor kan harus siap. Tidak ada kan lagi proses akhir, dalam arti kata sekarang kita kan akan dapat cukup banyak dari sana," imbuhnya.

Akan ada penambahan ke depannya?

"Nggak sudah cukup itu. Waduh, itu saja sudah efek penggentarnya sudah cukup baik bagi kita," jawabnya.

Sebelumnya Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional, Teuku Faizasyah mengatakan selama kunjungan ke Jerman, Presiden RI akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Federal Jerman dan Kanselir Republik Federal Jerman, Angela Merkel. Kedua pertemuan bilateral tersebut akan membahas tindak lanjut Kemitraan Komprehensif yang diluncurkan oleh Presiden RI dan Kanselir Jerman di Jakarta, pada 10 Juli 2012.

"Selain itu juga akan dibahas secara mendalam prioritas kerja sama di bidang ekonomi (perdagangan, investasi dan pembangunan), kesehatan, pendidikan, riset dan teknologi, serta industri pertahanan. Juga akan dibahas kerja sama terkait ketahanan pangan, ketahanan energi, dan transportasi," kata Faizasyah.

Sementara itu, Menhan menambahkan, dalam waktu dekat ini, tambahan alutsista berupa Tank Marder dari Jerman akan segera tiba, untuk melengkapi 103 Leopard dari Jerman. Tank medium untuk pengangkut pasukan tersebut akan melengkapi alat-alat tempur pasukan Indonesia.
"Jadi dengan ini kita memiliki satuan yang lengkap, ada tank yang light (ringan), medium (sedang), danmain atau heavy (utama atau berat)," katanya.

Menhan berharap, ke depan, Indonesia dapat terus meningkatkan dan mencukupi alutsista yang dimiliki oleh TNI, baik Angkatan Darat, Udara maupun Laut. 


(Detik/Antara)

Monday, February 25, 2013

Kecewa Dengan Harga Apache, KSAD Pilih Beli Black Hawk


JAKARTA, (IMP) -- Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Pramono Edhie Wibowo lebih memilih membeli helikopter Black Hawk daripada Apache.

Sebab harga Apache lebih mahal dua kali lipat daripada Black Hawk. "Kami masih mengkaji terus. Black Hawk menjadi pilihan bagus," kata Pramono di Mabes TNI AD, Senin (25/2).

Dijelaskannya, pada awal kunjungan ke pabrik helikopter di Amerika Serikat, harga Apache sebenarnya masih standar. Meski tidak menyebut harga, Pramono tampak kecewa ketika menjelang persetujuan pembelian harganya meningkat.


Karena hanya mendapat alokasi 200 juta dolar AS, pihaknya akhirnya lebih membeli helikopter Black Hawk. "Harga tidak boleh dinaikkan. Pas datang harga sesuai, pasti deal harga naik. Siapa yang menaikkan? Saya tidak tahu," cetus Pramono.

Terkait pengadaan tank tempur utama Leopard, Pramono mengatakan tinggal penyelesaian pembayaran. "Leopard pada tahap penyelesaian di Kemenhan," ujarnya.


(Republika)

Saturday, February 16, 2013

Battlehawk Pengganti Helikopter Apache?



(JKGR/IMP). Pernyataan KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo bahwa TNI AD akan membeli 20 helikopter UH-60 Black Hawk, menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat. Apakah rencana pembelian 8 helikopter serang AH 64 (AH= Attack Helicopter) Apache ditukar dengan 20 Helikopter UH-60 (UH= Utility Helicopter) Back Hawk ?

Jika mendengarkan penjelasan KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo di Mabesad beberapa waktu lalu, penggantian Apache dengan Black Hawk agaknya jauh dari kenyataan, walau bukan mustahil. Menurut KSAD, jika dana tidak mencukupi maka pembelian Apache AH 64 dialihkan ke Super Cobra AH-1W atau Black Hawk UH-60 yang dipersenjatai.

Namun KSAD memberikan catatan, pada intinya TNI AD menginginkan Apache dan akan memperjuangkannya di Komisi 1 DPR. Alasannya adalah military balance di kawasan. Lebih dari itu KSAD juga memegang prinsip, lebih baik memiliki sedikit senjata tapi mematikan daripada banyak namun loyo. TNI AD menginginkan persenjataan terbaik di kelasnya. Hal ini baru rencana di Angkatan Darat. Namun gayung bersambut, Menteri Luar Negeri AS kala itu Hilary Clinton menyampaikan rencana pembelian 8 Apache AH-64D Longbow blok 3 oleh Indonesia ke Kongres AS dan disetujui.

Tiba-tiba Selasa 12 Februari 2013 Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Bambang Hartawan mengatakan, rencana pembelian helikopter Black Hawk menjadi alternatif jika negosiasi harga heli Apache menemui jalan buntu. Yang membingungkan adalah mengapa jika heli serang Apache gagal didapat, alternatifnya jatuh ke heli angkut Black Hawk UH-60 ?.



Banyak militer di dunia memang menginginkan helikopter serang seperti Apache AH 64, namun harga dan pemeliharaan yang mahal membuat mereka menjadi berpikir ulang. Sementara medan pertempuran tidak selalu masif yang harus menghancurkan ratusan tank dalam waktu bersamaan. Teknologi juga terus berkembang. Akibatnya munculah pertanyaan, apakah helikopter serang ringan atau multirole tidak bisa menangani situasi seperti itu, karena helikopter serbu ringan atau multi role memiliki harga dan biaya operasional yang lebih murah.

Ditambah lagi, semua helikopter membutuhkan biaya pemeliharaan yang mahal karena terkait dengan rebuild engine dan rotor secara berkala, maka akan efektif bila membeli satu tipe helikopter. Biasanya, pilihan jatuh ke helikopter serbu ringan atau multi-role.



Selain Apache AH 64, Amerika Serikat juga memiliki heli serang AH-1Z Viper, namun cikal bakalnya berasal dari helikopter angkut pasukan UH-1 Huey. Pada tahun 1967 Angkatan Darat AS mengembangkan helikopter serang ringan dengan mengadopsi turboshaft engine, transmisi dan sistem rotor dari UH-1 Huey. Helikopter serang ringan single engine yang diberinama AH 1G dan banyak terlibat dalam operasi militer di Vietnam.


Marinir AS tertarik dengan AH-1G namun meminta performanya ditingkatkan karena helikopter single engine dianggap berbahaya untuk operasi di laut. Tahun 1968 munculah varian baru dengan twin engine yang diberinama AH 1J Sea Cobra. Senjatanya pun dimodernisasi dengan senjata mesin gatling 3 dan 6 laras (M-61 Vulcan).

Helikopter ini terus dikembangkan hingga pada tahun 1980 muncul AH 1T dilengkapi sistem kontrol penembakan rudal AIM-9 Sidewinder dan AGM-114 Hellfire. Heli ini terus dimodifikasi dengan membuat baling baling komposit dengan sistem rotor yang baru dan diberinama AH 1W Super Cobra. Helikopter dengan 4 baling baling komposit ini mampu menekan kebisingan dan tidak cepat rusak.

AH 1W Super Cobra

Angkatan Darat AS juga meningkatkan performa heli angkut pasukan UH 1 Huey tersebut dengan membangun UH 60 Black Hawk Sikorsky dengan spesifikasi: empat baling-baling, twine engine, daya angkut lebih besar dan menjadi helikopter serbaguna.


Pada pertengahan tahun 1990-an, keinginan Marinir untuk mendapatkan helikopter Apache versi marine ditolak oleh pemerintah AS karena disain AH 64 versi Marinir akan sangat mahal dan penggunanya pun hanya Marinir AS. Akibatnya pada tahun 1996 korps Marinir AS memutuskan untuk meningkatkan performa AH-1W Super Cobra menjadi AH-1Z Viper. Helikopter AH-1Z Viper memiliki dua wing stub yang di-redisign menjadi lebih panjang agar dapat mengangkut senjata lebih banyak yakni: rudal AIM-9 Sidewinder. 2 unit Hydra rocket pods 70 mm atau AGM-114 Hellfire quad missile launcher. Radar Longbow pun bisa dipasang di wing tip station.

AH IZ Viper

Angkatan Darat AS juga terus memodernisasi UH 60 Black Hawk sehingga bisa mengangkut roket hydra 70 atau 16 Hellfire II Anti tank serta dilengkapi dengan senjata mesin M240G 7,62. Sistem avionik dan elektroniknya juga ditingkatkan, namun AS tetap saja memberlakukan UH 60 sebagai helikopter taktis pengangkut pasukan. Persenjataan yang dibawa lebih untuk pertahanan diri.

UH 60 Black Hawk

Dari sejarahnya itu maka tidak heran bentuk dasar AH-1Z memiliki kesamaan dengan UH-60 Black Hawk. Lain halnya dengan helikopter Serbu AH 64 Longbow yang lahir merujuk kepada teknologi helikopter Comanche RAH 66 yang sudah digitalisasi tahun 1990-an, sehingga bentuknya pun mengalami perubahan radikal.

Melihat sejarahnya tersebut, AH 1Z Viper dengan segala model upgrade-nya masih di bawah generasi Apache AH 64 D. Apache memiliki airframe yang telah matang (sempurna). Sementara AH 1Z Viper kemungkinan menjadi varian terakhir dari keluarga helikopter Huey setelah 40 tahun mengudara dan masa produksinya akan berakhir tahun 2030. Sementara AH 64 Apache yang muncul di tahun 1990-an masih memiliki masa hidup yang panjang, begitu pula dengan perkembangan sistem elektronik dan senjatanya.

Untuk urusan persenjataan, Super Cobra AH 1Z Viper mampu mengangkat seluruh persenjataan yang dimiliki oleh Apache, namun tetap saja lemah di bidang proteksi. Apache mampu menahan tembakan beruntun dari anti-aircraft guns kaliber 23 mm, sementara AH-1Z Viper tidak bisa. AH 1 Z yang terus dikembangkan juga masih memiliki banyak bugs antara lain terkait: getaran dan handeling karena basic air framenya teknologi tua.

Dari kondisi tersebut tergambar teknologi Apache AH 64 lebih unggul dari AH-1Z Viper. Helikopter AH 1Z Viper atau AH 1 W Super Cobra menjadi alternatif karena biaya operasinya lebih murah. Perawatannya pun tidak sesulit Apache dan bisa ditangani oleh negera pembeli.

Misi Helikopter 

Apache biasanya digunakan Amerika Serikat untuk operasi khusus, operasi pembuka serangan serta deep attack. Sementara AH-1Z Viper atau AH 1W Super Cobra untuk operasi pertempuran reguler maupun kawal pasukan di darat. Namun persoalannya helikopter ini akan berhenti berproduksi 17 tahun lagi.

Bagaimana dengan Helikopter Serba Guna UH-60 Black Hawk (S-70 versi eksport) ?. Tentu helikopter ini tidak bisa dibandingkan dengan Apache maupun AH 1Z Viper, karena peruntukanya memang berbeda. Namun teknologi terus berkembang dan para produsen helikopter tidak pernah kehilangan akal. Kini Sirkorsky telah melengkapi UH 60 Black Hawk dengan kemampuan reconnaissance maupun serbu dan diberinama S-70 Battlehawk.

S-70 Battlehawk

S-70 Battlehawk

S-70 Battlehawk

S-70 Battlehawk muncul menjembatani keinginan user untuk memiliki helikopter serang namun biaya dan perawatan yang murah dan bisa digunakan untuk berbagai misi.

S-70 Battlehawk


50 caliber machine guns , 7.62 caliber machine guns , 7/12/ 19 pod 70 mm rocket launchers, Air-to-ground laser missile system provisions, Helmet-mounted sight, Internal Auxiliary Fuel (200/400 gallon capacity), External Gun Mounting System, External Stores Weapon System.

Rencana pembelian Apache AH-64 digantikan dengan S-70 Battlehawk akan sempurna jika gap antara Apache dan Battlehawk, ditutupi dengan pembelian unmanned combat air vehicle (UCAV) di kemudian hari. 


(JKGR)

Friday, February 15, 2013

MENHAN Anggarkan 200 Juta Dolar Untuk Pembelian 20 Unit Helikopter Black Hawk

Unit dalam foto ini baru berusia 2 tahun.

(IMP), JAKARTA -- Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro mengatakan Mabes TNI AD mengajukan permintaan untuk membeli helikopter tempur. Ada dua opsi helikopter yang diinginkan TNI AD, yaitu Apache dan Black Hawk. Pembelian tambahan alutsista itu dipilih dri Amerika Serikat (AS) lantaran sesuai dengan spesifikasi.

Namun, lantaran harga Apache terlampau mahal pilihan bakal dijatuhkan untuk membeli Black Hawk. Menurut Purnomo, pembelian itu diharapkan selesai tahun ini. Pasalnya, dana yang dianggarkan sebesar 200 juta dolar AS atau setara Rp 1,9 triliun lebih sudah disetujui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Perencanaan Pembagunan Nasional (BPPN).

Berdasarkan pembicaraan awal, kata Purnomo, harga satu unit Apache mencapai 45 juta dolar AS dan Black Hawk sekitar 20 juta dolar AS per unit. “Black Hawk pilihanya karena Apache mahal. Ini masih dalam pembahasan pemerintah dan belum diajukan ke Komisi I DPR,” kata Purnomo di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (15/2). 

Disampaikan Purnomo, jika pilihan dijatuhkan kepada Apache, maka proses pembelian bisa cepat. Itu lantaran pihaknya sudah mengantongi izin dari Pentagon alias Departemen Pertahanan AS. 

Purnomo menyampaikan karena TNI AD juga setuju dengan Black Hawk, pihaknya berharap rencana pembelian itu bisa lancar. Dengan begitu, satu skuadron helikopter serang bisa terbentuk. 

Alasan lainnya, kata dia, sisa waktu pemerintahan sekarang secara efektif tinggal setahun. Sehingga jika tidak bisa segera diselesaikan maka ditakutkan program yang dirancang tidak bisa berkelanjutan.

Kepala Badan Saranan Pertahanan Kemenhan Mayjen Ediwan Prabowo mengatakan, dana alokasi yang sudah disetujui sebesar 200 juta dolar AS untuk pembelian Black Hawk. Hasil diskusi dengan perwakilan Pentagon, kata dia, dengan alokasi dana sekarang hanya dapat delapan helikopter Apache, sedangkan untuk Black Hawk bisa didapat 20 unit.


(Republika)

Tuesday, February 12, 2013

24 Heli Bell 412 dan 20 Black Hawk untuk TNI AD


Helikopter Blackhawk (photo : Martin Rosenkranz)


BANDA ACEH, KOMPAS.com - TNI Angkatan Darat akan membeli 24 unit helikopter jenis Bell 412 dan 20 unit jenis Black Hawk. Pengadaan helikopter tersebut merupakan bagian dari pengorganisasian alat utama sistem senjata (alusista) TNI AD.


Demikian disampaikan Kepala Staf TNI AD Jenderal Pramono Edhie Wibowo di Markas Komando Daerah Militer Iskandar Muda, Banda Aceh, Senin (11/2/2013).


"Kalau pengadaan untuk yang akan datang ini programnya saya akan mengadakan 24 bell 412. Yang baru datang 10, (sekarang) sudah ada, kami akan gunakan," kata dia.


TNI AD, lanjut dia, masih akan terus berkomunikasi dengan negara pembuat heli. "Kalau diizinkan dan dana itu ada, kami akan membeli Black Hawk 20 unit dari Amerika," ujar dia.


"Beberapa helikopter nantinya akan digunakan untuk satuan-satuan utama, termasuk sebagai cadangan pusat AD di Jakarta. Dari pusat nanti ada beberapa yang akan kami kirim ke depan, misalnya kekuatan helikopter, sehingga lebih mudah mengendalikan keamanan", kata adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini. 


Wednesday, January 23, 2013

ANALISIS NEXT WEAPON;

TUNGUSKA OR PANTSYR...???


Pantsir-S short-range air defense system


TNI AD tidak mau tanggung-tanggung dalam memodernisasi persenjataan mereka. Rencana Pembelian 8 unit AH 64 D Apache Longbow semakin mendekati kenyataan setelah kongres AS memberikan lampu hijau untuk menjual helikopter itu kepada Indonesia.

JKGR-(IDB) : Kementerian Pertahanan akan tetap membeli helikopter Apache dari Amerika Serikat. Harga yang mahal tidak menyurutkan niat pemerintah. “Harganya memang sangat mahal, kami harus mempertimbangkan kekuatan anggaran,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Mayor Jenderal Ediwan Prabowo kepada Tempo, Rabu, 9 Januari 2013. …”Congress notification sudah kami terima, kini tinggal tunggu persetujuan DPR kita,” kata Ediwan.


HELLFIRE
Rudal HELLFIRE AGM-114R3


Pembelian 8 unit AH 64 D Apache Longbow juga meliputi persenjataan mutakhir milik Amerika Serikat, yakni 32 launcher misil M299A1 HELLFIRE serta 140 rudal HELLFIRE AGM-114R3.

Apache Longbow Enhancements:
Longer-range weapons accuracy and all-weather/night fighting, Detection of objects (moving or stationary) without being detected, Classification and threat-prioritization of up to 128 targets in less than a minute.
Integrated sensors, networking, and digital communications for situational awareness, management of the combat arena in real time, and digital transmission of images and target locations to joint operations battlefield commanders.

Sejumlah peralatan pendukung untuk helikopter Apache ini juga diborong Indonesia termasuk:
" 19 T-700-GE-701D Engines (16 installed and 3 spares), 9 Modernized Target Acquisition and Designation Sight/Modernized Pilot Night Vision Sensors, 4 AN/APG-78 Fire Control Radars (FCR) with Radar Electronics Units (Longbow Component), 4 AN/APR-48A Radar Frequency Interferometers, 10 AAR-57(V) 3/5 Common Missile Warning Systems (CMWS) with 5 th Sensor and Improved Countermeasure Dispenser, 10 AN/AVR-2B Laser Detecting Sets, 10 AN/APR-39A(V)4 Radar Signal Detecting Sets, 24 Integrated Helmet and Display Sight Systems (IHDSS-21) ".


Mi-35 P 

Mi-35 TNI AD


Selain AH 64 D Apache Longbow, TNI AD juga telah memiliki Letayushiy tank atau tank terbang, Mi-35P (Mil Mi-24 (NATO: Hind).

Menurut Jane’s Defence, Mil Mi-35P memiliki kesamaan fungsi dengan jenis helikopter AH-1 Cobra, UH-60 Black Hawk, AH-64 Apache, A129 Mangusta dan Kamov Ka-52 Alligator.

Mi-35P merupakan helikopter bermesin ganda yang ditujukan untuk memberikan dukungan bagi tentara darat dari jarak dekat, menghancurkan kendaraan lapis baja serta sebagai alat transportasi pasukan atau barang; artinya helikopter ini merupakan alat tempur pasukan infantri yang terbang.

Kinerja
Laju maksimum: 335 km/h (208 mph)
Jarak jangkau: 450 km
Batas tertinggi servis: 4.500 m
Persenjataan
12,7 mm YaKB-12.7 Yakushev-Borzov multi-barrel machinegun
1500 kg bom
4× Peluru kendali anti tank (AT-9 Spiral-2) alias 9M120 Ataka.
4× 57 mm S-5 rocket pod atau 4× 80 mm S-8 rocket pod
2× 23 mm meriam dua laras atau
4× tangki bahan bakar eksterna
Sebagai rudal anti tank, jangkauan AT-9 cukup jauh, bisa mencapai 6 – 8 Km dengan kecepatan luncur 550 meter per detik. Rusia sangat mengandalkan AT-9 sebagai pilihan alutsista mereka. Selain dirancang untuk diluncurkan dari heli Mi-35/Mi-24, heli tempur kelas berat Mi-28 Havoc juga mengandalkan AT-9 untuk menghancurkan tank musuh.
AH 64 D Apache dan Mi35P


AH 64 D Apache Longbow


Helikopter serbu tetap saja memiliki kelemahan dalam medan pertempuran. AH-64 Apache hanya bisa terbang selama 3 jam 9 menit, dan harus turun / menarik diri dari medan pertempuran, untuk pengisian ulang bahan bakar. Karena keterbatasan itu, maka helikopter serbu disebut sebagai alutsista bantuan bagi pertempuran/ serangan darat.

Heli Apache AH 64 maupun Mi35P lebih ditujukan sebagai fungsi Attack (bantuan), menetralisir sasaran yang sulit dituntaskan oleh pasukan darat.

Lalu unit mana yang mengisi posisi defence/ pertahanan, embeded dengan pasukan kavaleri, jika MBT Leopard 2 dan IFV Marder bergerak di medan pertempuran. Begitu pula dengan perlindungan terhadap MLRS Astros II dan Meriam Caesar 155mm yang baru dibeli.
Yom Kippur 1973


Perang Yom Kippur 1973


Peperangan Yom Kippur antara Israel dan Mesir bisa memberi gambaran betapa pentingnya rudal pertahanan bagi satuan lapis baja.

Pagi 6 Oktober 1973, setelah Brigade lapis baja Mesir berhasil menyeberangi Terusan Suez dan menyapu pasukan Israel di pos terdepan, Angkatan Udara Israel langsung mengudara memburu satuan lapis baja Mesir. 

Mereka tidak sadar rudal anti-udara Mesir sudah menunggu di belakang satuan Lapis baja. Ratusan pesawat Israel yang melakukan penyerbuan rontok dimakan SAM Mesir.

Kesalahan Mesir adalah, payung udara ini tidak terus bergerak bersama dengan satuan lapis baja yang terus melaju ke depan. Akhirnya Israel menemukan celah untuk melakukan serangan balik, mengisolasi satuan lapis baja yang sudah menyeberangi terusan Suez dan melakukan penghancuran.

Tunguska Atau Pantsyr


Tunguska M1


TNI AD pun mulai mencari sistem persenjataan anti-udara yang bisa melindungi kendaraan lapis baja saat bergerak di medan pertempuran. Untuk itu Tunguska M1 Anti-Aircraft System milik Rusia (NATO SA-19 Grison) mulai dilirik.

Tunguska M1 merupakan sistem senjata dan rudal, untuk pertahanan udara low level, baik untuk pesawat terbang, helikopter maupaun sasaran darat. Kelebihannya, persenjataan ini bisa membidik targetnya baik dalam keadaan diam maupun saat bergerak, dilengkapi rudal jarak jauh serta senjata mesin, untuk pertahanan jarak dekat. Tunguska sudah digunakan Angkatan darat Rusia sejak tahun 1998 dan telah diekspor ke Jerman, India, Peru, Maroko dan Ukraina.

Dengan kecepatan maksimum 900 meter/second, rudal ini mampu membidik sasaran darat 15 meter hingga 6 km untuk sasaran darat dan 6 hingga 15 km untuk sasaran udara. Tunguska juga dilengkapi dengan dua twin-barrel 30mm anti-aircraft guns yang bisa menyemburkan peluru 5000 butir per menit dengan jarak 3 km untuk sasaran udara. Untuk sasaran udara bisa mencapai 4 km.

Radar Tunguska mampu menjejak musuh dikejauhan 18 km dan mulai bisa tracking di jarak 16 km.
Pantsyr S1 


Pantsyr S-1 (tracked)


Pilihan lainnya adalah senjata sistem pertahanan udara jarak dekat Pantsyr-S 1 (SA-22 Greyhound). Senjata ini lebih maut untuk menangkis berbagai jenis senjata: pesawat tempur, helikopter, roket, peluru kendali, precision-guided munition hingga unmanned air vehicles. Pantsyr juga bisa menghantam light-armoured ground targets.

Produsen pantsyr S1 sama dengan Tunguska M1, didisain oleh KBP Instrument Design Bureau, di Tula dan dirakit oleh Ulyanovsk Mechanical Plant, Ulyanovsk, Rusia. Pantsyr diyakini lebih akurat dibandingkan Tunguska M1, karenasistemnya pun lebih baru. Sistem pertahanan dan persenjataannya dapat diaktifkan dalam beberapa mode frekuensi dan beroperasi pada multimode adaptive radar-optical control system.

Pantsyr didisain untuk menghadapi semua tipe target, khususnya high-precision weapons. Pantsyr ini dioperasikan oleh Uni Emirate Arab sejak tahun 2007. Suriah menerima sekitar 50 pantsyr pada tahun 2008. Jordiania juga memesannya dengan jumlah yang dirahasiakan.
Pantsyr S1 surface-to-air missiles

Pantysr S1


Pantsyr-S1 mengusung 12 rudal 57E6 permukaan-ke-udara dengan hulu ledak 16 kg. Rudal ini memiliki berat 65kg dan memiliki kecepatan maksimum 1,1 km/ detik dengan daya jangkau 1 hingga 12 km.

Dua senjata 2A72 30mm dilengkapi dengan 750 putaran dari berbagai amunisi (HE (high-explosive) fragmentation, fragmentation tracer and armour-piercing with tracer). Menyemburkan 700 putaran/ menit dengan jarak hingga 4 km.

Jarak deteksi sasaran 30 km dan tracking 30km. Air defence system ini mampu menjejak benda sebesar 2cm² hingga 3cm² untuk target sejauh 24 km. Radar Pantsyr dapat menjejak rudal yang sedang dalam perjalannaya menuju sasaran.

Rudal ini dipasang di truk The Ural-5323 truck 8×8 atau di kendaraan lapis baja (tracked).

Pantysr Chasis Ural Truck 8×8


Ada baiknya yang dipilih adalah Pantsyr yang menggunakan platform tank (roda rantai/ tracked) agar bisa mengikuti pergerakan MBT Leopard/ IFV Marder serta lapis baja kavaleri lainnya.

Kasus perang Yom Kippur 1973 menunjukkan, satuan pertahanan udara Mesir tidak bisa mengikuti kecepatan pergerakan lapis baja, menyebabkan payung udara bagi lapis baja bolong dan berhasil dimanfaatkan Israel.

Jika ke depan TNI jadi membeli sistem persenjataan pertahanan udara jarak jauh seperti S-400 atau S-300 maka Pantsyr juga bisa melindungi S 300 tersebut.

Membeli Pantsyr dan S-300 adalah harga yang terlalu murah untuk melindungi ratusan juta penduduk Indonesia serta menjaga wilayah Indonesia yang sangat luas dari Sabang sampai Merauke beserta kekayaannya yang melimpah.

Hal itu pula yang diyakini oleh Vietnam. Meski ekonomi mereka relatif lebih lemah dari Indonesia, namun untuk urusan menjaga tanah air dan rakyatnya, Alutsista nomer 1 yang mereka beli, seperti 6 KS Kilo, Frigate Gepard Class Rusia, serta 40 Rudal Pertahanan pantai Bastion-P Yakhont (SS-N-26) anti-ship missiles 


Sumber : JKGR
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...