Showing posts with label AMERIKA SERIKAT. Show all posts
Showing posts with label AMERIKA SERIKAT. Show all posts

Tuesday, June 9, 2015

Menguak Teror IMF dan AS di Balik Kejatuhan Presiden Soeharto


(IMP) -- 8 Juni 1921, hari ini tepat kelahiran Presiden Soeharto. Presiden kedua Indonesia ini memimpin selama 32 tahun. Nyaris akan menjadi presiden seumur hidup jika tak ada arus reformasi yang dipicu oleh krisis ekonomi.

Namun siapa sangka ternyata krisis itu sengaja diciptakan oleh Amerika Serikat dan International Monetary Fund (IMF). Tujuannya untuk membuat Indonesia bergolak dan membuat Soeharto jatuh.

Krisis ekonomi yang disusul krisis politik mengakibatkan pelarian modal ke luar Indonesia secara masif, hingga menyebabkan anjloknya nilai rupiah sampai mencapai Rp 17.000,- per dolar. Rupiah yang lemah membuat pebisnis kolaps karena tidak dapat lagi mengelola utang luar negerinya.

Pendapat ini antara lain dikemukakan Prof Steve Hanke, penasehat ekonomi Soeharto dan ahli masalah Dewan Mata Uang atau Currency Board System (CBS) dari Amerika Serikat. Menurut ahli ekonomi dari John Hopkins University itu, Amerika Serikat dan IMF-lah yang menciptakan krisis untuk mendorong kejatuhan Soeharto.

Hal ini dibuktikan dari pengakuan Direktur Pelaksana IMF Michael Camdessus sendiri. Camdessus mengakui IMF berada di balik krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

“Kami menciptakan kondisi krisis yang memaksa Presiden Soeharto turun,” aku Camdessus saat diwawancarai The New York Times dan dikutip Kantor Berita Antara dalam artikel IMF di Balik Kejatuhan Soeharto?

Di tengah krisis ekonomi yang memburuk, Soeharto terpaksa menandatangani ‘letter of intent’ dengan IMF di kediaman Cendana, pada 15 Januari 1998. Sepintas IMF seperti membantu, tapi kenyataannya sebaliknya. Bantuan dengan sejumlah syarat itu malah sangat merugikan perekonomian Indonesia.

Hanya beberapa pekan kemudian, tanda tangan itu terbukti membelenggu Soeharto sendiri. Mencoba lepas dari tekanan IMF, Presiden mencari ‘jalan lain’ yang tidak disukai lembaga donor internasional itu.

Pada akhir Januari 1998, Presiden menerima Steve Hanke yang menawarkan proposal Currency Board System (CBS) atau Dewan Mata Uang. Dengan CBS, rupiah akan dipatok pada 5.500 per dolar. Soeharto tertarik dan hampir memberlakukan CBS. Dia sudah menyiapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang CBS.

Namun, IMF marah. Mereka menilai hal ini merugikan rencana mereka di Indonesia. Koran The Washington Post mengabarkan bocornya surat pribadi Michel Camdessus kepada Soeharto tertanggal 11 Februari 1998. Surat itu berisikan ancaman bahwa IMF akan menangguhkan pinjaman sebesar 43 miliar dolar AS jika tidak ada kejelasan mengenai masa depan reformasi sesuai LoI yang telah diteken 15 Januari. Ancaman tersebut manjur. CBS akhirnya dibatalkan menyusul tekanan Barat yang makin keras.

Menurut Steve Hanke, serangan terhadap gagasan CBS dan dirinya sebagai penasehat ekonomi presiden dilancarkan begitu keji. Pelaksanaan CBS Indonesia ditentang habis-habisan. Akan tetapi Argentina, yang juga pasien IMF, dibolehkan. Begitu pula kontrol devisa, yang digelar begitu mulus di Chili, ternyata diharamkan di Indonesia.

Padahal, kata Steve Hanke, kalau saja Indonesia kala itu diizinkan memakai CBS atau bahkan kontrol devisa, “Perekonomian Indonesia mungkin bisa selamat.” Berkali-kali Hanke mengingatkan Soeharto agar tak mempercayai IMF, karena IMF sangat khawatir CBS bakal sukses diterapkan di Indonesia.


Seiring dengan berjalannya waktu, Hanke kemudian mendapat jawaban lebih jelas mengapa idenya tentang CBS dibantai habis-habisan, padahal di negara lain bisa jalan dengan baik.

Merton Miller, seorang penerima Hadiah Nobel untuk Ilmu Ekonomi, mengatakan bahwa penolakan pemerintah Clinton dan IMF terhadap CBS “Bukan karena itu tidak akan jalan tapi justru kalau itu jalan maka Soeharto akan terus berkuasa”.

Pendapat sama, lanjut Hanke, juga dikemukakan oleh mantan PM Australia Paul Keating. Keating mengatakan “AS tampak dengan sengaja menggunakan ambruknya ekonomi sebagai alat untuk menggusur Soeharto”.

Menurut para ekonom, masuknya IMF ke Indonesia seperti membawa kunci pembuka bagi gudang harta terpendam, yakni pasar Indonesia yang luar biasa dahsyat.

Ini terbukti, setelah IMF menjadi ‘dokter’ perekonomian Indonesia, perusahaan asing begitu leluasa berbisnis di negeri ini. Di setiap pojok kota, kini begitu banyak kantor cabang bank asing, restoran asing, perusahaan multinasional dan barang produk luar negeri.

Indonesia baru bebas dari utang IMF di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut SBY, sejak tahun 2006, Indonesia bisa bernapas lega terbebas dari utang IMF.

“Keseluruhan utang Indonesia terhadap IMF adalah USD 9,1 miliar, jika dengan nilai tukar sekarang setara dengan Rp 117 triliun, dan pembayaran terakhirnya kita lunasi pada tahun 2006, atau 4 tahun lebih cepat dari jadwal yang ada. Sejak itu kita tidak lagi jadi pasien IMF,” kata SBY beberapa waktu lalu.


(Merdeka.com)

Saturday, March 28, 2015

AS Buka Dokumen Rahasia, Israel Terbukti Kembangkan Senjata Nuklir


(IMP) -- Hubungan Amerika dan Israel berada di titik terendah. Bahkan diam-diam Pentagon merilis dokumen rahasia mengungkapkan tentang program nuklir Israel. Sebuah program yang selama ini ditolak dan dibantah oleh Israel.

Awal bulan ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menerima undangan kontroversial untuk berbicara di hadapan Kongres AS dan memperingatkan tentang "bahaya nuclearized Timur Tengah dan konsekuensi mengerikan untuk seluruh umat manusia.”

Pidato diterima dengan baik bahkan penuh tepuk tangan. Bahkan mengalahkan Presiden Obama.

Entah kebetulan atau tidak pidato Netanyahu bertepatan dengan keputusan Pentagon untuk menyingkap sebuah dokumen rahasia yang membuktikan bahwa meskipun selama ini sangat keras tentang program nuklir negara lain, Israel justru telah menjadi tuan rumah dari senjata tersebut.

Dalam laporan setebal 386 halaman, berjudul “Critical Technological Assessment in Israel and NATO Nations,” dan dikutip Ria Novosti Jumat 27 Maret 2015 disebutkan tentang data pada 1987 dan rincian penting pada program nuklir Israel tidak pernah diakui.

“[Israel] mengembangkan jenis kode yang akan memungkinkan mereka untuk membuat bom hidrogen,” bunyi laporan Departemen Pertahanan tersebut. “Artinya, kode yang detil fisi dan fusi proses pada tingkat mikroskopis dan makroskopis.”

Bahkan laporan ini menyebutkan kemampuan nuklir Israel hampir sejajar dengan kemampuan yang ada di Laboratorium Nasional Amerika dan menyebut laboratorium Israel “setara” dengan instalasi nuklir AS di Los Alamos, Lawrence Livermore, Oak Ridge dan.

Los Alamos, adalah tempat di mana Robert Oppenheimer melakukan sebagian besar percobaan Proyek Manhattan.”Sejauh teknologi nuklir Israel kira-kira sama dengan kemampuan AS di sekitar 1955-1960,” tulis laporan itu.

Dokumen Pentagon juga menyatakan bahwa 28 tahun yang lalu, Israel sudah seperti maju dalam pengembangan nuklir sebagai Amerika Serikat telah lama setelah pengujian bom hidrogen pertama.

Momentum rilis dokumen tentu membawa kecurigaan karena situasi hubungan Israel dan AS yang sedang tidak romantis seperti biasanya. Israel mengecam Obama yang dianggap terlalu mengakomodasi program nuklir Iran.

Sebenarnya tiga tahun lalu seorang wartawan AS di bawah Freedom of Information Act telah mengajukan permintaan tentang data tersebut. Namun direspons lambat oleh Pentagon. Padahal putusan oleh hakim Pengadilan Negeri telah memerintahkan Departemen Pertahanan untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Sebuah laporan Wall Street Journal yang diturunkan pada Selasa 24 Maret 2015 juga menuduh Israel sedang mengintip negosiasi nuklir P5 + 1. Sementara kantor perdana menteri Israel membantah klaim ini, surat kabar mengutip para pejabat senior AS yang mengatakan bahwa intelijen Israel sedang menguping pembicaraan internasional.


Sunday, December 7, 2014

Apakah AS Sengaja Biarkan Jepang Serang Pearl Harbor ?

Kapal USS Arizona adalah salah satu kapal perang AS yang tenggelam akibat serangan mendadak Jepang ke Pangkalan AS Pearl Harbor, Hawaii, pada 7 Desember 1941.
(National Archives and Records Administration)

(IMP) - Beberapa saat sebelum pukul 08.00 pada 7 Desember 1941, ratusan pesawat tempur Kekaisaran Jepang menyerang pangkalan Angkatan Laut AS Pearl Harbor dekat Honolulu, Hawaii.

Serangan kilat Jepang itu hanya berlangsung kurang dari dua jam namun hasilnya sungguh menggetarkan. Jepang berhasil menghancurkan 20 kapal perang AS termasuk delapan kapal besar, 200 pesawat terbang dan menewaskan lebih dari 2.000 prajurit AS.

Serangan Jepang itu bak membangunkan "raksasa tidur". Sehari setelah serangan itu, Presien Franklin Delano Roosevelt meminta Kongres untuk menyatakan perang terhadap Jepang.

Kongres AS menyetujui permohonan itu dengan hanya satu suara yang memberikan pendapat berbeda (dissenting opinion). Tiga hari kemudian sekutu Jepang, Jerman dan Italia menyatakan perang terhadap AS yang juga dibalas pernyataan sama dari Kongres AS. Dan, AS resmi terlibat dalam Perang Dunia II.

Namun, muncul pertanyaan seputar serangan ke Pearl Harbor itu. Apakah pemerintah AS sudah mengetahui rencana serangan tersebut dan membiarkannya, sehingga memiliki alasan untuk terjun ke dalam perang?


Sejumlah bukti yang dibuka setelah perang usai memperbesar kemungkinan bahwa pemerintah AS memang membiarkan Jepang menghantam Pearl Harbor. Berdasarkan sejumlah dokumen, Presiden Roosevelt sudah mendapatkan peringatan soal serangan tersebut tiga hari sebelum pesawat-pesawat tempur Jepang menyerang.

Informasi tersebut terdapat dalam memorandum dari Kantor Intelijen Angkatan Laut AS, yang memperingatkan bahwa ancaman perang terhadap AS sungguh merupakan hal yang nyata.

"Sebagai antisipasi atas konflik terbuka dengan AS, Jepang tengah memaksimalkan setiap potensinya untuk menumulkan informasi komersial, angkalan laut dan militer, khususnya terhadap pesisir barat Terusan Panama dan Hawaii," demikian sebagian isi memorandum setebal 26 halaman itu.

Memorandum tertanggal 4 Desember 1941 itu memiliki status rahasia dan berjudul "Intelijen dan propaganda Jepang di AS". Memorandum itu juga secara khusus membeberkan upaya pengintaian yang dilakukan Jepang terhadap Hawaii dalam bagian berjudul "Metode Operasi dan Sasaran Serangan".

Laporan itu menggarisbawahi kemungkinan adanya gerakan bawah tanah di Jepang, di mana 40 persen penduduknya adalah keturunan Jepang. Laporan itu juga membeberkan bagaimana konsulat Jepang di pesisir barat AS telah mengumpulkan informasi soal kekuatan angkatan udara dan laut AS.

Memorandum yang kini disimpan di perpustakaan dan museum Franklin D Roosevelt, New York itu pertama kali dibuka pada 1975 dan belum dipublikasikan hingga pergantian abad.


Sebuah pesawat tempur Jepang jenis MItsubhisi A6M2 atau sering disebut Zero lepas landas dari dek kapal induk Akagi untuk bergabung dengan gelombang kedua serangan terhadap Pearl Harbor pada 7 Deember 1941. (US National Archives)

Sejak lama para penggemar teori konspirasi mengklaim Presiden Roosevelt secara sengaja mengabaikan berbagai peringatan soal rencana serangan Jepang terhadap Pearl Harbor sehingga AS memiliki alasan kuat untuk menyatakan perang terhadap Jepang.

Sebab, saat itu publik AS menentang keinginan untuk terlibat dalam Perang Dunia II yang banyak dilihat sebagai perangnya bangsa Eropa, meski Roosevelt secara pribadi mendukung sekutu yang memerangi negara-negara poros: Jerman, Italia dan Jepang.

Teori terkait konspirasi di balik serangan ini semakin kuat setelah pada Januari 1941, pemerintahan Roosevelt juga mengabaikan peringatan kemungkinan adanya serangan yang dimuat dalam laporan Dubes AS untuk Jepang. Pemerintah AS juga ternyata menolak permintaan militer untuk memindahkan pesawat-pesawat tempur dalam jumlah besar ke Hawaii.

Namun penulis buku December 1841: 31 Dayst that Changed America and Saved the World, Craig Shirley memiliki pendapat lain. Sejarawan ini yakin tak ada konspirasi apapun di balik serangan Pearl Harbor.

"Berdasarkan semua riset saya, saya yakin baik (Presiden) Roosevelt atau pejabat-pejabat lain di pemerintahan AS saat itu, angkatan laut atau kementerian perang mengetahui rencana serangan itu. Jadi tak ada sama sekali konspirasi," kata Shirley.

"Memorandum itu hanya merupakan bukti bahwa ada keyakinan bahwa Jepang tengah mempersiapkan perang namun pemerintah saat itu terkesan abai karena yakin sangat sulit memindahkan sebuah angkatan perang sejauh ribuan kilometer mengarungi Samudera Pasifik, lalu menyerang Hawaii," lanjut Shirley.


Pengabaian sejumlah informasi soal kemungkinan serangan terhadap Pearl Harbor itu juga dipicu karena AS meremehkan kemampuan militer Jepang. Saat itu AS yakin Jepang tak mungkin mampu menggelar serangan lintas samudera seperti itu.

Sikap meremehkan kemampuan Jepang juga menghinggapi Inggris yang tak mempersiapkan diri secara maksimal untuk mempertahankan wilayah jajahannya mulai Myanmar, Malaysia hingga Singapura. 

Hanya berselang satu hari dari serangan terhadap Pearl Harbor, Jepang melakukan invasi ke Semenanjung Malaya untuk mencegah AS melakukan intervensi di Asia Tenggara.

Invasi ke Semenanjung Malaya itu berakhir dengan jatuhnya Singapura pada Februari 1942 yang diwarnai menyerahnya 80.000 prajurit Inggris, Australia dan India. PM Inggris Winston Churchill menyebut jatuhnya Singapura sebagai "bencana terburuk" dalam sejarah militer Inggris.

Boleh saja berbagai teori konspirasi dituangkan di seputar kisah serangan Pearl Harbor, namun yang jelas aksi Jepang itu secara tidak langsung ikut mengubah jalannya sejarah. 

Akibat serangan itu, AS yang sebelumnya netral menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan perang itu didukung kongres dan publik AS. Sehingga setelah dua tahun perang pecah, AS resmi terlibat dalam konflik yang awalnya oleh publik Amerika disebut sebagai "perangnya bangsa Eropa".


Saturday, August 9, 2014

ISIS Produk Amerika Agar Timur Tengah Bergolak

Hillary Clinton (Foto: istimewa)

(IMP) -- Mantan Menlu AS Hillary Clinton membuat pernyataan yang mengejutkan dunia. Hillary mengakui, gerakan Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) merupakan gerakan buatan AS guna memecah belah dan membuat Timur Tengah senantiasa bergolak.

Pernyataan Hillary tersebut, selain disiarkan berbagai media massa barat juga dilansir harian Mesir, Elmihwar. Rabu (6/8) lalu harian itu menuliskan bahwa Hillary menyatakan hal itu dalam buku terbarunya, “Hard Choice”.

Mantan Menlu di kabinet Obama masa jabatan pertama itu itu mengaku, pemerintah AS dan negara-negara barat sengaja membentuk organisasi ISIS demi memecah belah Timur Tengah (Timteng). Hillary mengatakan gerakan ISIS sepakat dibentuk dan diumumkan pada 5 Juni 2013.

“Kami telah mengunjungi 112 negara sedunia. Lalu kami bersama-sama rekan-rekan bersepakat mengakui sebuah Negara Islam (Islamic State/IS) saat pengumuman tersebut,” tulis Hillary.

Dalam buku tersebut juga diuraikan bahwa ‘negara Islam’ itu awalnya akan didirikan di Sinai, Mesir, sesuai revolusi yang bergolak di beberapa negara Timur Tengah. Semua, kata dia, berantakan saat kudeta yang digerakkan militer meletus di Mesir.

“Kami memasuki Irak, Libya dan Suriah, dan semua berjalan sangat baik. Namun tiba-tiba meletus revolusi 30 Juni-7 Agustus di Mesir. Itu membuat segala rencana berubah dalam tempo 72 jam,” ungkap istri mantan presiden AS, Bill Clinton, itu.

Hillary menambahkan, pihak barat sempat berpikir untuk menggunakan kekuatan. Persoalannya, Mesir bukanlah Suriah atau Libya, karena militer negara itu tergolong kuat. Selain itu, warga Mesir cenderung tidak pernah meninggalkan militer mereka. “Jadi, jika kami gunakan kekuatan melawan Mesir, kami akan rugi. Tapi jika kami tinggalkan, kami pun rugi,” tulis dia.


Friday, January 24, 2014

Skadron 16 Siap Tampung F-16 Hibah Amerika Serikat


Jakarta, (IMP) -- Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara hampir merampungkan pembangunan infrastruktur untuk menampung 16 pesawat tempur F-16 yang dibeli dari Amerika Serikat. Panglima Komando Operasional Angkatan Udara Satu Marsekal Muda Muhammad Syaugi mengatakan Skadron Udara 16 di Pekanbaru, Riau, siap menampung kedatangan pesawat legendaris bikinan Amerika Serikat tersebut.

"Hanggar, shelter, taxi way, dan infrastrukturnya di Pekanbaru sudah hampir selesai," kata Syaugi kepada wartawan di Markas Komando Operasional Angkatan Udara Satu, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat, 24 Januari 2014.

Menurut Syaugi, Indonesia mendatangkan 24 pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat. Pengiriman pesawat itu dilakukan bertahap. Untuk Skadron 16, kata Syaugi, bakal ada 16 unit pesawat F-16 yang akan bermarkas di sana. Delapan unit pesawat F-16 bakal ditempatkan di Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur.

Mantan pilot pesawat tempur F-16, F-5 Tiger, dan Hawk 100/200 ini meyakinkan bahwa 24 pesawat F-16 blok 25 sudah dibekali senjata seperti rudal. "Kalau pesawat tempur tak ada senjatanya namanya pesawat angkut," katanya sembari tertawa.

Syaugi berharap tambahan pesawat tempur F-16 mampu memperkuat pengamanan wilayah udara Indonesia, khususnya kawasan barat dan utara, termasuk kawasan Selat Malaka. Sebab, sampai saat ini wilayah tersebut hanya dijaga oleh pesawat tempur Hawk 100/200 yang sudah terbilang uzur.


TNI Akan Diperkuat 8 Helikopter Tempur


Balikpapan, (IMP) -- Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman mengatakan, TNI AD akan diperkuat dengan delapan helikopter tempur AH-64 Apache yang akan didatangkan secara bertahap mulai tahun 2015. "Secara bertahap helikopter tersebut akan kita datangkan mulai 2015 hingga 2017. Helikopter canggih buatan Boeing ini akan dioperasikan oleh para penerbang Angkatan Darat (Penerbad)," katanya di Samarinda, Kamis (23/1).

Ia mengatakan, TNI AD tengah menyiapkan sejumlah titik untuk menjadi pangkalan senjata berawak ini. Menurut KSAD, salah satunya adalah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di kabupaten paling utara Provinsi Kaltim itu selain helikopter Apache, juga akan menjadi pangkalan heli tempur Agusta dan berbagai jenis pesawat lain.

Indonesia membeli varian terbaru dari helikopter serbu tersebut, yaitu versi AH-64E. Sejak 2013, model ini oleh Amerika Serikat, negara pembuatnya, mulai dipakai untuk menggantikan AH-64D Longbow, yang di ASEAN dimiliki oleh Singapura.

Dia mengatakan, AH-64E memiliki mesin T700-GE-701D yang hemat bahan bakar dan lebih efisien sehingga dapat terbang lebih jauh, lebih lama, dan bisa membawa persenjataan lebih banyak. Rotornya terbuat dari bahan komposit yang lebih ringan namun lebih kuat yang membuat jenis heli ini terbang lebih cepat ketimbang seri D.

Jenderal Budiman mengatakan, harga delapan heli lengkap dengan persenjataan dan pelatihan pilot serta kru darat adalah 600 juta dolar AS. Selain Indonesia, katanya, Taiwan, India, dan Qatar juga sudah memesan AH-64E bersamaan dengan Korea Selatan dan Jepang. India bahkan bisa memaksa Boeing melakukan alih teknologi dengan membuat sebagian komponen untuk India di India.

Dia mengatakan, senjata utama Apache AH-64 adalah rudal AGM-114 Hellfire. Rudal ini dijuluki tank-killer atau penghancur tank, julukan yang didapatnya dari berbagai medan perang. Apache membawa 16 rudal Hellfire dibagi ke dalam 4 peluncur di sayapnya dengan jangkauan tembak hingga 12 km.

Senjata lapis kedua dari Apache adalah roket Hydra 70 mm yang dibawa dalam sepasang peluncur roket isi 19 roket. Untuk pertahanan udara, helikopter ini dilengkapi rudal AIM-9 Sidewinder dan AIM-92 Stinger. Heli ini juga bisa mengangkut rudal anti radiasi AGM-122 untuk menghancurkan instalasi radar musuh.

"Jadi kita tunggu saja," kata KSAD Jenderal Budiman.


Monday, August 26, 2013

AS Umumkan Jual 8 Apache ke Indonesia



JAKARTA, (IMP) -- Amerika Serikat akan menjual delapan helikopter serbu, Apache ke Indonesia. Kesepakatan bernilai 500 juta dolar itu, menurut keterangan resmi Kementrian Pertahanan AS, Senin (26/8) juga termasuk radar, pelatihan dan perawatan.

"Kami kini tengah menggarap detail lebih lanjut mengenai pengiriman dan kerangka waktu untuk latihan," ujar seorang pejabat dengan syarat tak mau diungkap namanya seperti dilansir Straits Times, Senin.

Penjualan helikopter Apache AH-64E produksi Boeing itu diumumkan dalam kunjungan Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel ke Jakarta. Ini adalah pemberhentian ke-2 dalam perjalanan sepekan ke empat negara Asia Tenggara yang diawali di Malaysia pada Sabtu kemarin.



(Republika/Reuters)

Tuesday, June 4, 2013

Begini Cara AS Tangkis Rudal Suriah

Rudal Patriot (REUTERS)

WASHINGTON, (IMP) -- Untuk mengantisipasi bergolaknya situasi di Suriah, AS mulai berancang melakukan aksi militer. Satu di antaranya dengan mengerahkan baterai rudal Patriot.

Senjata ini dirancang untuk menjatuhkan Scud atau rudal jarak pendek lainnya, yang diketahui sebagai senjata rezim Bashar. Sistem itu juga dapat digunakan sebagai bagian dari "payung" zona larangan terbang atau operasi udara lainnya.

Pentagon telah mengirimkan sekitar 200 tentara ke Yordania, termasuk satu elemen dari markas Angkatan Darat AS, guna membantu negara tersebut dalam menyiapkan rencana aksi militer terhadap suriah. Beberapa skenario yang kemungkinan ditempuh itu juga meliputi pengamanan atas stok senjata kimia yang dimiliki Suriah.

Pengerahan peluncur anti-rudal Patriot itu merupakan tindak lanjut dari peringatan Washington kepada rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad agar tidak memberikan sistem rudal canggih kepada kelompok milisi Hizbullah di Libanon, yang kini mulai mengambil bagian dalam pertempuran guna mendukung Damaskus.

Israel telah beberapa kali melancarkan serangan udara di Suriah guna mengganggu pengiriman rudal ke Hizbullah itu.

Keputusan penempatan jet F-16 dan baterai rudal di Yordania semakin memperkuat spekulasi tentang kemungkinan intervensi militer dari Amerika Serikat, yang sejauh ini menurut Gedung Putih sangat kecil dilakukan.


(Republika/REUTERS)

Tuesday, May 21, 2013

AS Akui Pesawat Militernya Langgar Wilayah Udara Indonesia


Jakarta, (IMP) -- Amerika Serikat mengakui kesalahan pesawat militer Dornier seri 328 miliknya yang melintasi wilayah udara zona terbang Indonesia dan mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh.

"Kesalahan mendaratnya pesawat itu ada di pihak kami," kata Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel saat mendampingi Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman bertemu sejumlah mahasiswa di Pusat Kebudayaan Amerika di Jakarta, Selasa.

Pesawat itu berangkat dari Maladewa menuju Singapura tapi terpaksa mendarat di kawasan Indonesia karena mengalami kekurangan bahan bakar pada Senin (21/5) pukul 14.00 WIB.

Marciel menerangkan awak pesawat Dornier 328 semula menduga jika izin terbang di kawasan Indonesia masih berlaku tapi kenyataannya telah kedaluwarsa.

Pesawat militer itu sejatinya dalam perjalanan dari Maladewa menuju Singapura, namun di tengah perjalanan bahan bakar pesawat menipis dan terpaksa mendarat darurat di teritorial Indonesia.

Sementara itu, Komandan Pangkalan TNI AU Sultan Iskandar Muda Kolonel Pnb Supri Abu di Aceh Besar mengatakan pesawat militer AS itu melintasi wilayah udara Indonesia dan terlacak radar saat berada di udara Lhokseumawe. "Kami tidak perlu susah-susah menerbangkan pesawat kami untuk menggiring mereka mendarat. Karena mereka sendiri yang meminta izin kami supaya bisa mendarat di bandara Sultan Iskandar Muda," kata dia.

Dia mengatakan setiap pesawat militer luar negeri yang melintas di kawasan udara Indonesia harus memiliki dua izin, yakni dari kementerian luar negeri dan Mabes TNI, namun pesawat militer AS tersebut tidak memiliki kedua izin tersebut.

Pesawat Dornier 328 bernomor lambung lambung 13075 itu ditumpangi lima awak yang terdiri dari tiga orang militer dan dua sipil.


Sunday, May 12, 2013

Kapal Induk Nuklir AS Merapat ke Korsel


Busan, (IMP) -- Kapal induk Amerika Serikat bertenaga nuklir USS Nimitz tiba di Korea Selatan Sabtu untuk berpartisipasi dalam pelatihan angkatan laut bersama sebagai bagian dari pelatihan rutin, kata Komando Pasukan Gabungan (CFC).

Nimitz berbobot 97 ribu ton, salah satu kapal perang terbesar di dunia, melakukan hubungan pelabuhan di kota pelabuhan tenggara Busan untuk tinggal tiga hari berpartisipasi dalam pelatihan militer bersama selama akhir pekan di perairan selatan dan timur Semenanjung Korea.

USS Nimitz merupakan bagian dari Kelompok Tempur Nimitz, yang terdiri kapal perusak dipandu-rudal USS Momsen, USS Preble dan kapal jelajah dipandu-rudal USS Princeton, menurut situs Web Angkatan Laut AS.

Latihan angkatan laut melibatkan kapal perang Nimitz, yang mengikuti pelatihan anti-kapal selam lima hari di Laut Kuning yang diakhiri Jumat, bertujuan untuk meningkatkan kesiapan militer dan interoperabilitas antara sekutu, kata CFC.

Selama tur kapal, Laksamana Michael White, komandan Kelompok Tempur Nimitz, mengatakan kepada wartawan bahwa kedua angkatan laut melakukan latihan 15 sampai 16 kali setahun dan bahwa panggilan pelabuhan tersebut merupakan bagian dari latihan rutin antara militer kedua negara.

Pekan lalu, Korea Utara mengecam latihan militer itu dan memperingatkan bahwa pihaknya akan membalas tanpa ampun setiap pelanggaran kedaulatan teritorial dengan pasukan roket.

Pyongyang meminta Seoul untuk menghentikan "tindakan bermusuhan dan provokasi militer" jika ingin menormalkan zona kawasan industri Kaesong yang kini ditangguhkan.

Sekitar 28.500 tentara Amerika ditempatkan di Korea Selatan sejak Perang Korea 1950-53 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.


(Republika/Antara)

Thursday, May 9, 2013

X-51A Waverider Membuat Sejarah Baru Penerbangan Hipersonik

(Foto : US Air Force grafis)

(Artileri/IMP) -- Sebuah pesawat tak berawak militer AS telah terbang dengan kecepatan melebihi lima kali kecepatan suara saat uji coba. Pesawat tak berawak yang dikenal dengan X-51A Waverider itu, mencapai kecepatan 5,1 mach (6.247 km/jam) saat uji coba terbang di atas Samudera Pasifik, Rabu, 1 Mei 2013, melakukan perjalanan lebih dari 230 mil laut (426 km) hanya dalam waktu enam menit, Angkatan Udara AS mengatakan dalam sebuah pernyataan di situsnya, Jumat, 3 Mei 2013.

Pesawat cruiser ini dibawa dengan diselipkan di bawah sayap pesawat pembom B-52 Stratofortress, lalu dilepaskan pada ketinggian sekitar 15,24 km, selanjutnya roket pendorong mendorong pesawat hingga mencapai kecepatan 4,8 mach hanya dalam waktu 26 detik. Ramjet supersonik kemudian mendorong pesawat itu untuk mencapai kecepatan 5,1 mach pada ketinggian 18,2 km sebelum akhirnya terjun (jatuh) ke laut seperti yang direncanakan.

X-51A Waverider adalah pesawat tak berawak otonom bertenaga hipersonik yang dirancang untuk diluncurkan dari pesawat pembom B-52. -Setiap kecepatan di atas 5 mach, umumnya disebut sebagai hipersonik -

Uji coba yang terakhir ini merupakan yang terjauh, dari total empat uji coba penerbangan pesawat ini. Angkatan Udara AS menilai uji coba kali ini sangat memuaskan dan sebagai prestasi kunci dalam memajukan teknologi untuk menghadirkan senjata serang berkecepatan tinggi di masa depan.

(Foto : U.S. Air Force photo/Mike Cassidy)


Program X-51A Waverider merupakan upaya kolaborasi antara Laboratorium Penelitian Angkatan Udara AS dan DARPA, dengan mitra industri Boeing dan Pratt & Whitney Rocketdyne, serta dukungan dari NASA. Pengelolaan program dilakukan di Pangkalan Udara Wright-Patterson, Ohio.

Pesawat ini menggunakan bahan bakar JP-7 jet. Bahan bakar JP-7 jet pernah digunakan oleh SR-71 Blackbird. Bahan baku utama pembuatan X-51 masih menggunakan bahan standar kedirgantaraan yaitu alumunium, baja, inconel dan titanium. Sedikit komposit karbon juga diterapkan pada sirip pesawat ini. Untuk perlindungan dari panas, pesawat tak berawak ini menggunakan sistem proteksi panas silica-based yang dirancang oleh Boeing, mirip yang digunakan NASA. Total, sudah empat X-51A yang dibuat untuk Angkatan Udara AS.

Program X-51A adalah demonstrator teknologi dan tidak dirancang sebagai prototipe untuk suatu sistem senjata. Artinya X-51A dirancang sebagi pembuka jalan bagi pengembangan teknologi senjata hipersonik di masa depan. Karena scramjet bisa membakar oksigen atmosfer, pesawat ini tidak perlu membawa tanki bahan bakar yang besar yang mengandung oksidator seperti halnya roket-roket konvensional.

Para pejabat Angkatan Udara AS menilai bahwa program X-51A dapat menjadi landasan pengetahuan yang dibutuhkan guna mengembangkan taktik perubahan teknologi yang dibutuhkan di masa depan untuk ruang udara dan aplikasi senjata hipersonik. Misalnya, kecepatan hipersonik untuk perjalanan 600 mil laut dalam 10 menit akan sangat memberikan keuntungan dalam melibatkan target jarak jauh dengan cepat.

( Foto : U.S. Air Force photo/Chad Bellay )


Diciptakan pada tahun 2004, X-51A pertama melakukan uji coba penerbangan pada 9 Desember 2009. Uji coba ini untuk memverifikasi kinerja, komunikasi dan sistem telemetri dan kolaborasinya dengan B-52, namun X-51 tidak berhasil terbang karena tidak bisa lepas dari sayap B-52.

X-51A akhirnya baru membuat sejarah terbang pada 26 Mei 2010, di lepas pantai selatan California Pacific. Terbang selama 200 detik, dengan scramjet yang membuatnya mencapai kecepatan sekitar 5 mach. Selama 140 detik, semua berjalan normal namun setelah itu terjadi penurunan daya dorong dan percepatan selama 30 detik. Akhirnya uji coba dihentikan dan pesawat dihancurkan atas perintah flight controllers.

Setelah analisis yang berkelanjutan dari data penerbangan yang didapat, akhirnya direncanakan suatu modifikasi untuk memperkuat bagian belakang dekat knalpot mesin untuk 3 pesawat X-51A yang tersisa.

Uji coba penerbangan X-51A yang kedua juga berakhir sebelum waktunya, karena terjadi masalah transisi ke bahan bakar JP7 saat terbang.

Uji coba ketiga berhasil, sukses dipisahkan dari B-52, namun setelah 16 detik, terjadi kesalahan pada sirip X-51A. Setelah X-51A terpisah dari roket pendorong, kira-kira 16 detik, pesawat itu tidak mampu mempertahankan kontrol karena sirip kontrol rusak dan hilang. Dan penerbangan yang keempat pada 1 Mei lalu dinilai sukses dan memenuhi harapan. 


Saturday, April 27, 2013

Pentagon Sees Singapore's Decision About Buying F-35s by Summer


(IMP) -- Singapore has shown "tremendous interest" in the F-35 Joint Strike Fighter developed by Lockheed Martin Corp (LMT.N) and will likely decide by this summer whether to buy the new warplane, the Pentagon's F-35 program chief said on Wednesday.

Air Force Lieutenant General Christopher Bogdan told a subcommittee of the Senate Armed Services Committee that he expected Singapore to decide by this summer whether to join the multinational fighter plane program.

He said he was also cautiously optimistic that South Korea could decide to buy the radar-evading F-35 in its 60-fighter competition, with a decision expected there in June.


Wednesday, April 17, 2013

Korea Selatan Beli 36 Helikopter Serang AH-64 Apache

Helikopter AH-64E Apache saat melundurkan roket AGM-114 Hellfire di udara. Helikopter serang buatan Boeing Company, Amerika Serikat, ini sekelas dengan Eurocopter Tiger dan Kaman Ka-52 Aligator buatan Rusia. (air.attack.com)

Seoul, (IMP) -- Korea Selatan mengonfirmasikan pembelian 36 unit helikopter serang Boeing AH-64E Apache Guardian senilai 1,5 miliar dolar Amerika Serikat. Pembelian itu terjadi saat ketegangan makin memuncak di Semenanjung Korea. 

Badan Program Pengadaan Alat Pertahanan (DAPA) Korea Selatan, mengatakan, ke-36 AH-64E Apache Guardian itu akan lengkap hadir pada 2016. Jika lengkap semua, Korea Selatan bisa membuat tiga skuadron kaveleri udara terdiri helikopter serang ini. 

Apache merupakan helikopter serang yang dapat menghancurkan tank utama dan kendaraan lapis baja lain, selain memberi payung udara pada operasi pasukan infantri serta misi militer lain. Dia memiliki empat cantelan (pods) bagi roket AGM-114 Hellfire dan roket udara-darat Hydra-70.

Dengan kehadiran AH-64E Apache Guardian itu, Korea Selatan semakin percaya diri menghadapi provokasi Korea Utara. 

Keputusan membeli 36 AH-64E Apache Guardian itu dibuat saat semenanjung Korea tetap berada dalam keadaan ketegangan militer yang tinggi dengan Korea Utara yang mengancam "perang thermo-nuklir" karena marah pada sanksi-sanksi PBB yang baru dan pelatihan militer gabungan Amerika Serikat-Korea Selatan, Foal Eagle 2013.

Badan itu menolak merinci harga dan hanya mengatakan perjanjian itu termasuk alih teknologi tetapi kantor berita Yonhap mengatakan proyek itu akan menelan biaya 1,8 triliun won atau 1,5 miliar dolar Amerika Serikat.

Korea Selatan akan merupakan negara keempat membeli helikopter bermesin dua itu setelah Amerika Serikat, Taiwan dan Arab Saudi, kata Yonhap.

Helikopter itu akan menggantikan satu armada helikopter AH-1 Cobra yang telah beroperasi selama puluhan tahun di Korea Selatan, kata para pejabat DAPA.


Monday, April 15, 2013

US Mulls Six P-3 MPA Sale to Vietnam

Lockheed Martin P-3 Orion (photo : GSairpics)

(IMP) -- The Socialist Republic of Vietnam is expected to request from the US government the sale of Lockheed Martin P-3 Orion maritime patrol aircraft (MPA), a senior company official told IHS Jane's on 10 April.

Speaking at the LAAD Defence and Security 2013 exhibition in Rio de Janeiro, Clay Fearnow, director maritime patrol programmes, said the Vietnamese Navy was keen to buy up to six surplus P-3s to help patrol the country's nearly 3,500 km coastline and 1,396,299 km2 Exclusive Economic Zone (EEZ).

"The Vietnamese Navy has expressed a lot of interest [in the P-3], and there is [US government] support to move forward," said Fearnow.

According to Fearnow, any P-3s sold to Vietnam by the US would in the first instance be non-weaponised, being fitted exclusively with an MPA mission kit such as forward looking infrared (FLIR) sensors and other systems. However, he noted that as relations between the two countries continue to improve there could be scope for weapon systems to be provided at a later date.

Fearnow said Lockheed Martin would recommend they opt for the latter P-3C aircraft, as they are the most advanced and have the fewer airframe hours on them.


Sunday, April 14, 2013

Filipina tawarkan AS pangkalan militer jika perang Korut pecah

Seorang tentara Korea Selatan memasang barikade di pos pemeriksaan di Jembatan Unifikasi Korea, yang menuju zona demiliterisasi memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan di Paju, Senin (8/4). (REUTERS/Kim Hon-Ji)

"Korea Utara telah mengemukakan ancaman perang melawan Amerika Serikat dan Korea Selatan yang didukung AS sejak PBB menjatuhkan sanksi sebagai tanggapan atas uji nuklir ketiga negara tersebut Februari lalu".

Manila, Filipina (IMP) -- Amerika Serikat dipersilakan untuk menempatkan angkatan bersenjatanya di pangkalan militer Filipina jika perang melawan Korea Utara terjadi, kata Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario, Sabtu, sembari mengutip sebuah perjanjian dengan negara sekutu.

"Perjanjian bersama mengenai pertahanan mempersilakan untuk aksi gabungan jika Filipina atau AS diserang," kata del Rosario melalui pernyataan kepada AFP saat krisis semenanjung Korea semakin bereskalasi.

"Hal itu menjadi logis jika mengasumsikan, misalnya ada sebuah serangan ke Filipina atau rekan sekutu dalam perjanjian itu, AS dipersilakan untuk menggunakan basis militer kami," katanya.

Del Rosario juga menanggapi pertanyaan mengenai wilayah, yang juga bekas jajahan AS, apakah memungkinkan jika Amerika dapat menempatkan pasukannya saat perang antara AS dan Korut pecah.

Krisis semenanjung Korea telah bereskalasi dengan ancaman diluncurkannya senjata berhulu ledak nuklir oleh Korut sejak negara itu mengadakan uji coba rudal nuklirnya pada Februari lalu. 

Pada Jumat, Menteri Pertahanan Filipina, Voltaire Gazmin mengatakan pemerintah telah bersiap untuk mengatasi "kekuatan ekstrem" termasuk dengan mengijinkan AS menempatkan pasukan di negaranya sebagai langkah antisipasi keadaan darurat terkait krisis semenanjung Korea.


Di awal 1990, angkatan bersenjata AS mengosongkan Basis Udara Clark dan Angkatan Subic Naval, yang merupakan dua pangkalan megah yang digunakan selama perang Vietnam.

Dalam beberapa tahun terakhir, Filipina telah berupaya untuk memperkuat kerja sama pertahanannya dengan AS, di tengah sengketa dengan China menyangkut wilayah Laut China Selatan.

Berbagai fasilitas milik dua negara digunakan dalam kesepakatan latihan militer bersama antara Filipina dan AS, dimana Pentagon mengerahkan belasan jet tempur F/A-18.

Selain itu, lebih dari delapan ribu warga Filipina dan pasukan AS ambil bagian dalam latihan bersama selama 12 hari.


(Antara/REUTERS)

Hamid Karzai: AS Langgar HAM


(IMP) -- Presiden Afghanistan menyebut Amerika Serikat melanggar hak asasi manusia internasional ketika militernya melakukan serangan udara mematikan di provinsi timur Kunar.

Pernyataan itu dikemukakan Hamid Karzai, seperti dilansir kantor berita IRNA, setelah tim pencari fakta pemerintah Afghanistan menyampaikan laporan mengenai insiden serangan militer AS pada 6 April lalu yang menewaskan setidaknya 11 warga sipil, termasuk 12 anak dan empat wanita.

Karzai juga menegaskan pasukan asing melanggar komitmennya mengenai larangan serangan udara di wilayah pemukiman, dan menggambarkan langkah itu sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. Tim pencari fakta pemerintah Afghanistan menyampaikan laporannya setelah bekerjasama dengan 75 tetua suku di daerah.

Serangan AS terjadi setelah dinas intelijen Afghanistan diserang milisi selama operasi untuk menangkap dua komandan pemberontak di distrik Shigal provinsi Kunar. "Amerika membombardir rumah-rumah di daerah selama berjam-jam dari udara," ungkap laporan tim pencari fakta itu.

Washington mengklaim bahwa serangan udara yang dilakukan militer AS yang menargetkan milisi teroris, namun sumber-sumber setempat mengatakan warga sipil justru menjadi korban utama dari serangan tersebut.


(republika/CNN)

Wednesday, April 3, 2013

Kisah Invasi AS ke Irak: Sepuluh Tahun, Sepuluh Masalah

Tentara AS di Baghdad, Irak. (AP/Maya Alleruzzo)

(IMP) -- Prospektus palsu yang mendasari perang itu diperkirakan akan membuat Washington terbebani sedemikian banyak biaya untuk perawatan kesehatan para veteran dan membayar bunga pinjaman. Perang Irak diperkirakan akan menjadi sangat mahal bagi AS. Berikut 10 masalah yang dihadapi AS dari keputusannya menginvasi Irak pada 2003.

1. Alqaidah tidak pernah hadir di Irak sebelum invasi AS tahun 2003. Setelah AS dan sekutunya masuk ke Irak, sebuah organisasi yang bernama Alqaidah di Irak (AQI) terbentuk, dan secara regular menyerang pasukan AS, Irak, dan penduduk sipil. Pada 2013, AQI memperluas basis dan kemampuan teknis tempurnya ke Suriah, Yordania, dan Libya. Jika Irak menjadi ‘front’ bagi perang melawan terorisme, ini adalah front buatan AS.

2. Konflik diperburuk oleh Perang Irak. Iran dan Korea Utara sama sekali tidak terintimidasi oleh invasi AS ke Irak pada 2003, dan tidak menghentikan niat keduanya memiliki senjata pemusnah massal. Perang di Afghanistan juga menjadi lebih panjang akibat invasi AS ke Irak, dan kekerasan di Pakistan terus meningkat, yang mengakibatkan besarnya biaya militer dan nyawa yang hilang.

3. AS berniat membangun negeri yang lebih demokratis di atas puing-puing republik yang ditinggalkan Saddam Hussein. Kenyataannya, ketika Irak membangun institusi dan mempraktikkan demokrasi, korupsi merajalela. Situasi menjadi lebih parah ketika PM Nouri al- Maliki membentuk Fedayeen al-Maliki, kelompok paramiliter beranggotakan 6.000 Pasukan Khusus untuk dirinya. Pasukan di bawah komando langsung al-Maliki. Nadje al-Ali, dari London’s School of Oriental and African Studies (SOAS), menemukan keterwakilan wanita secara politik di pemerintahan dan dunia kerja masih sangat kecil. Sedangkan, sebagian besar penduduk tidak memiliki pekerjaan, buta huruf, dan miskin.

4. Tentara yang kembali dari medan perang Irak dan Afghanistan berisiko mengalami penyakit pernapasan dan kardiovaskular, dibanding prajurit yang kembali dari medan perang lainnya. Partikel debu beracun di Irak berukuran 2,5 sampai 10 mikron yang terlalu kecil untuk disaring paru-paru manusia. Roger Miller, pakar paru-paru RS Universitas Vanderbilt, mengatakan, residu beracun dari pembakaran belerang atau ledakan ranjau kemungkinan menjadi penyebab gangguan pernapasan sejumlah veteran Perang Irak. Situasi lebih mengerikan dihadapi penduduk Irak, yang harus hidup selamanya dengan debu beracun dan polusi yang dihasilkan pesawat tempur.


5. * Jumlah psikiater yang bekerja di Irak saat ini kurang dari 0,05 per 100 ribu orang. Setelah invasi 2003, sekitar 18.000 dokter melarikan diri dari Irak. Beberapa telah kembali, tapi pada 2012 hanya 84 psikiater dan 22.000 dokter yang tersedia untuk jumlah penduduk 31 juta orang.
* Mac Skelton dan Omar Dawichi, keduanya dari Universitas Amerika di Beirut, menemukan banyak orang Irak pergi ke luar negeri, seperti India, Turki, Yordania, dan Lebanon untuk perawatan onkologi dan bedah. Keduanya juga menemukan, perawatan dasar untuk penyakit-penyakit tertentu dan program imunisasi anak telah tertinggal.

6. Jumlah minimum korban terbunuh dalam perang diperkirakan 190 ribu orang. Mayoritas yang menjadi korban adalah warga sipil. Sedangkan, prajurit AS yang mati mencapai 4.488. Lebih dari 3.400 lainnya kontraktor asal AS. Sedangkan, anggota polisi Irak yang menjadi korban mencapai 11.000 orang. Korban dari sekutu AS mencapai 318 dan 62 lainnya pekerja kemanusiaan. Menurut Catherine Lutz dari Universitas Brown, yang masih tidak diketahui adalah berapa jumlah kontraktor yang tewas atau terluka. Sedangkan, Neta C Crawford, juga dari Universitas Brown, tidak setuju dengan angka kematian penduduk sipil yang disebut di atas. Karena, katanya, mungkin terlalu sedikit warga sipil yang tewas akibat kekerasan. Jumlah yang paling besar justru tewas akibat hancurnya infrastruktur kesehatan.

7. Korban bunuh diri di kalangan militer aktif AS yang bertugas di Irak mencapai 349. Jumlah ini diperkirakan akan terus tinggi karena trauma yang dibawa tentara dari medan perang bisa berlangsung lama meski mereka tidak lagi bertugas.

8. Jumlah warga AS, pria dan wanita, yang dikerahkan di Irak dan Afghanistan mencapai 2,5 juta. Lebih 1,5 juta telah meninggalkan tugas aktif dan menjadi veteran yang menerima tunjangan medis akibat cacat. Linda Bilmes, dari Universitas Harvard, menunjukkan veteran yang sangat sakit didiagnosa mengalami masalah mental. Tingginya tingkat cedera otak traumatis, kebutuhan untuk protesis, dan gangguan musculoskeletal, yang dialami veteran Perang Irak menjadi beban yang tak mudah diatasi bagi Veteran Affairs. Biaya perawatan veteran Irak dan Afghanistan akan meningkat dari tahun ke tahun, dan Bilmes memperkirakan akan mencapai 970 miliar dolar AS pada 2035.

9. Biaya Perang Irak yang dibebankan kepada pembayar pajak AS, sebelum ditambahkan biaya perawatan untuk masa depan veteran dan bunga pinjaman biaya perang, mencapai 1,7 triliun dolar AS. Sedangkan, pemerintah George W Bush memperkirakan perang Irak akan menelan biaya 50 miliar dolar AS sampai 60 miliar dolar AS.

10. Beban bunga pinjaman untuk biaya Perang Irak diperkirakan mencapai empat triliun dolar AS pada 2053. Ini disebabkan AS tidak meningkatkan pajak untuk membiayai perang di Irak dan Afghanistan. Ryan Edwards, dari Queens College, memperkirakan biaya bunga yang harus dibayarkan untuk kedua perang itu akan mencapai 7,5 triliun dolar AS. Irak akan mendapat beban pembayaran 54 persen dari seluruh biaya bunga yang dikeluarkan.





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...